KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Kamis, 08 September 2005, 10.00 WIB – Le
Meridian Jakarta;
Diadakan Implementasi Protokol Montreal untuk penghapusan
BPO melalui skema pendanaan yang dikelola oleh Multilateral Fund (MLF) For
the Implementation of Montreal Protocol.
Pemberian dana hibah MLF ke negara
penerima dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan Executive Commite
yang beranggotakan 7 wakil non artikel dan 7 wakil negara artikel 5. Sebagai
negara dengan konsumsi Bahan Perusak Ozon (BPO) di bawah 0,3
kg/kapita/tahun atau negara yang masuk dalam katagori Artikel 5 dan berhak mendapat
dana hibah tersebut.

Penyaluran hibah dilakukan melalui Implementing Agency
World Bank
, UNDP, UNIDO dan UNEP yang bertugas untuk mengawasi realisasi
pemanfaatan dana hibah di negara penerima.Bantuan hibah tersebut berupa peralatan
recover, recyling and recharging CFC akan diberikan 885 bengkel service
peralatan refrigerasi domestik dan komersil yang memenuhi persyaratan. Telah
didistribusikan 188 peralatan recovery-recyling (2R) CFC kepada 188
bengkel service peralatan pendingin domestik dan komersil di Sumatera Utara
51 bengkel, Jambi 1 bengkel, Palembang 11 bengkel, Jabotabek 36 bengkel, Jawa
Tengah 14 bengkel, D.I Yogjakarta 2 bengkel, Jawa Timur 51 bengkel dan Bali
32 bengkel. Untuk tahap selanjutnya sedang dilakukan proses identifikasi terhadap
bengkel yang dianggap potensial untuk menerima bantuan

Penerima bantuan hibah dalam bentuk penandatangan Stateman
Of Completion
(SOC) kepada masing-masing bengkel dengan serah terima peralatan
bantuan hibah. Acara serah terima peralatan bantuan dilaksanakan di beberapa
daerah, yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Denpasar. Untuk
wilayah Bali telah dilaksanakan serah terima pada tanggal 30 Agustus di Denpasar
untuk 32 bengkel dan Lembaga Pelatihan.

Kendala terbesar yang dihadapi Pemerintah Indonesia dalam implementasi
program perlindungan lapisan ozon dan bahan perusak ozon adalah masalah Ilegal
Impor bahan perusak ozon yang sampai saat ini sulit sekali di kendalikan karena
belum adanya peraturan hukum.

Pada tahun 1980-an para ahli menemukan adanya lubang ozon pada
atmosfir diatas wilayah kutub selatan. Gejala penipisan lapisan ozon masih berlangsung
sampai saat ini, sehingga penanganannya terus dilakukan secara intensif dengan
tujuan agar lapisan ozon di stratosfir dapat pulih ke kondisi awal. Dampak yang
ditimbulkan oleh penipisan lapisan ozon cukup luas dan tidak dirasakan oleh
masyarakat seperti penyakit kulit, rusaknya berbagai jenis tumbuhan. Dengan
demikian penipisan lapisan ozon harus menjadi perhatian kita bersama dan penangannya
memerlukan kerjasama berbagai pihak baik di tingkat nasional maupun internasional.

Pelaksanaan program perlindungan lapisan ozon bukan hanya tanggung
jawab Kementerian Lingkungan Hidup saja tetapi juga merupakan tanggungjawab
bersama, karena masyarakat adalah pengguna barang-barang dan bahan yang mengandung
BPO. Secara nasional telah disepakati penghentian impor untuk CFC yang merupakan
salah satu jenis BPO pada akhir tahun 2007.(Yi/Ry)

Informasi Lebih lanjut:

Asisten Deputi Urusan Perubahan Iklim
Telp (021) 85904925

Publikasi :
Asisten Deputi Urusan
Edukasi dan Komunikasi
Telp (021) 8517184