KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Bersamaan dengan penyelenggaraan Konperensi Kelautan Dunia atau World Ocean Confrence (WOC), 11-15 Mei di Kota Manado, juga akan digelar Pertemuan Segi Tiga Terumbu Karang atau "Coral Triangle Initiative Summit (CTI)."

Pertemuan ini memang inisiatif Indonesia dalam rangka penanggulangan perubahan iklim dan penyelamatan terumbu karang yang memiliki nilai strategis di wilayah zona ekonomi eksklusif dan segitiga terumbu karang enam negara yaitu: Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Solomon Island dan Timor Leste. Dalam forum Internasional, 6 negara ini lazim disebut sebagai "CT-6."

Kawasan ini memiliki sumber daya hayati laut yang memiliki nilai strategis bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta penduduk dapat mengharapkan sumber daya hayati dari kawasan tersebut dan memiliki nilai ekosistem pesisir diperkirakan sebesar US$ 2,3 milyar per tahun serta merupakan lokasi perkembangbiakan ikan tuna yang dapat mendukung perkembangan industri perikanan tuna terbesar di dunia.

Kawasan segitiga terumbu karang enam negara (CT-6) memiliki luas kurang lebih 75.000 km2, memiliki lebih dari 500 spesies terumbu karang dan lebih dari 3000 spesies ikan. Kawasan ini juga dikenal dunia dengan sebutan Amazone of the Seas karena memiliki keanekaragaman hayati yang paling kaya dan pusat kehidupan laut di dunia.

Mempertimbangkan posisi strategis dan kekayaan sumber hayati laut di kawasan segitiga terumbu karang, maka Indonesia mengambil inisiatif untuk membantu menyelamatkan dan melindungi terumbu karang serta berbagai spesies sumber daya hayati di laut.

Sejatinya, gagasan dan inisiatif penyelenggaraan Coral Triangle Initiative Summit merupakan tindak lanjut dari Deklarasi APEC di Sydney, Australia tanggal 9 September 2007. Substansi dari deklarasi tersebut adalah menyambut positif inisiatif Indonesia dalam rangka pelaksanaan program Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security yang bertujuan untuk meningkatkan perlindungan sumber hayati laut terumbu karang di wilayah segitiga terumbu karang.

Dalam deklarasi ini dinyatakan bahwa sumber daya kelautan dan pesisir merupakan bagian terintegrasi dari siklus karbon.
Gagasan dan inisiatif penyelenggaraan Coral Triangle Initiative Summit kemudian dibahas dalam pertemuan Senior Official Meeting dan Stakeholders Meeting of Coral Triangle Initiative (CTI) di Bali pada tanggal 6-7 December 2007 bersamaan dengan berlangsungnya pertemuan COP13 UNFCCC di Bali. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan antara lain, negara-negara CT-6 menyetujui:
a. Melaksanakan Coral Triangle Initiative (CT/), b. Menyetujui rancangan CT/ Action Plan, c. Menyetujui CT/ Road Map, CT-6 Partner siap mendukung CTI, CTI 211 SOM di Filipina (finalisasi rancangan CTI Action Plan), dan penyelenggaraan CTI Summit pada bulan Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara.

Penyelenggaraan Coral Triangle Initiative secara umum bertujuan antara lain:

  1. Penentuan bentang laut (seascapes) prioritas yang cukup luas untuk percontohan pengelolaan yang balk dan berkelanjutan di setiap negara;
  2. Pengembangan jejaring kawasan konversi laut;
  3. Pengelolaan perikanan berbasis ekositem dan pengelolaan sumber daya hayati laut;
  4. Pengembangan pendanaan yang berkelanjutan, pengembangan kapasitas dan pelibatan sektor swasta;
  5. Penyesuaian yang terukur terhadap perubahan iklim;
  6. Memperbaiki status ancaman terhadap spesies laut.

Tujuan dan sasaran yang lebih terukur diharapkan dapat dirumuskan lebih lanjut oleh negara-negara anggota CT-6 dalam Coral Triangle Initiative Summit yang dapat dijadikan dasar bagi Deklarasi Bersama dalam rangka penyelamatan terumbu karang dan berbagai spesies sumber daya hayati di laut yang memiliki nilai strategis di wilayah zona ekonomi eksklusif dan segitiga terumbu karang enam negara  PLICT-6

Sumber:
Suara Akar Rumput (hal 5)
07-13 Mei 2009