KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




13 Mei 2005. Ramadansyah Hasan Sekertaris
Kedua PTRI Jenewa dalam "Pernyataan Pers bersama" Indonesia – Singapura
berkaitan dengan penyelesaian kasus limbah berbahaya dan beracun yang dikirim
ke Indonesia, sebagai hasil pertemuan kedua negara yang diselengarakan di Jenewa,
10 – 11 Mei 2005.

Siaran Pers:

Indonesia dan Singapura bersepakat untuk menyelesaikan masalah
pengiriman limbah berbahaya dan beracun ke Indonesia dari Singapura. Singapura
bersetuju untuk mengijinkan pengiriman kembali limbah berbahaya dan beracun
dari Batam ke Singapura. Demikian salah satu isi penting kesepakatan yang tertuang
dalam Pernyataan Pers Bersama Indonesia dan Singapura di Jenewa,
11 Mei 2005.

Singapura akan mencabut larangan pengiriman kembali yang sebelumnya
diterapkan segera setelah dikeluarkannya pernyataan bersama ini. Kedua belah
pihak sepakat untuk segera memulai proses pemulangan limbah berbahaya dan beracun
termaksud ke Singapura dalam jangka waktu satu minggu.

Butir-butir kesepakatan dalam Pernyataan Pers Bersama tersebut
dicapai sebagai hasil perundingan delegasi Indonesia dan Singapura di
Jenewa 10-11 Mei 2005 melalui jasa baik Kantor Sekretariat Konvensi Basel
.
Konvensi Basel adalah kanvensi yang mengawasi perpindahan lintas batas limbah
berbahaya dan beracun. Konvensi ini berlaku sejak tahun 1992. Baik Indonesia
maupun Singapura merupakan Negara pihak dari Konvensi Basel.

Perselisihan tersebut dipicu oleh ekspor limbah berbahaya dan
beracun oleh pengusaha Singapura dan Indonesia dari Singapura tanggal 27 Juli
2004 dan tiba di Pulau Galang Baru, Batam, Indonesia tanggal 28 Juli
2004
. Pemerintah Indonesia mengajukan keberatan kepada Pemerintah Singapura
dan serangkaian perundingan bilateral telah dilakukan namun menemukan jalan
buntu karena perbedaan hukum kedua negara mengenai limbah berbahaya dan beracun.
Perundingan akhirnya berlanjut di Jenewa dengan memanfaatkan jasa baik Kantor
Sekretariat Konvensi Basel yang bermarkas di kota tersebut.

Delegasi Indonesia dalam perundingan selama dua hari tersebut
dipimpin oleh Qubes Eddi Hariyadhi yang juga Deputi Wakil Tetap
RI untuk PBB di Jenewa dengan anggota dari unsur Deplu, Kementerian
Lingkungan Hidup, dan PTRI Jenewa
. Sementara Singapura dipimpin oleh
Mr. Loh Ah Tuan, Direktur-Jenderal Perlindungan Lingkungan,
National Environment Agency dengan beranggotakan unsur National
Environment Agency
, Kementrian Luar Negeri, Kementerian
Lingkungan Sumber Daya Air, Kejaksaaan Agung,
dan dua pakar
hukum professional dari London
.

Perundingan berlangsung sangat alot mengingat adanya perbedaan
interpretasi berbagai aturan Konvensi Basel, Singapura berargumen bahwa material
yang dikirim ke Batam tersebut bukan limbah berbahaya dan beracun berdasarkan
hukum Singapura. Sebaliknya Indonesia menyatakan material tersebut merupakan
limbah berbahaya dan beracun menurut hukum Indonesia. Keduanya bersepakat bahwa
dalam hal ini Singapura telah bertindak sesuai dengan hukum Singapura, dan tidak
melanggar ketentuan Konvensi Basel.

Dengan kesepakatan ini, dan pengembalian limbah ke Singapura,
diharapkan hal serupa tidak terjadi lagi. Untuk itu, kedua pihak bersepakat
untuk mencegah timbulnya masalah serupa di kemudian hari melalui forum kerjasama
teknis di bawah Indonesia-Singapore Joint Working Group on Environment
(ISWG)
Jenewa, 12 Mei 2005

English Version : Press
Release of the Secretariat of the Basel Convention

Informasi Lebih Lanjut:

Ramadansyah Hasan
Sekretaris Kedua
PTRI Jenewa
Telp. +41-22-3383350
Fax:+41-22-3455733