INDRA PENYELAMAT TERUMBU KARANG BABEL

Provinsi Bangka Belitung atau Babel sesungguhnya memiliki potensi keindahan pantai dan dunia bawah laut yang tidak kalah dibandingkan Bali ataupun Bunaken. Sayangnya, potensi itu tenggelam oleh kegiatan penambangan timah yang tak terkendali.OLEH YULVIANUS HARJONO DAN WISNU AJI DEWABRATA Sekitar empat tahun terakhir, Indra Ambalika melakukan riset, mendokumentasikan, dan menaruh perhatian besar terhadap ekosistem terumbu karang [...]

23 Jul 2010 01:56 WIB

Provinsi Bangka Belitung atau Babel sesungguhnya memiliki potensi keindahan pantai dan dunia bawah laut yang tidak kalah dibandingkan Bali ataupun Bunaken. Sayangnya, potensi itu tenggelam oleh kegiatan penambangan timah yang tak terkendali.

OLEH YULVIANUS HARJONO DAN WISNU AJI DEWABRATA

Sekitar empat tahun terakhir, Indra Ambalika melakukan riset, mendokumentasikan, dan menaruh perhatian besar terhadap ekosistem terumbu karang di sekitar Babel. Apa yang dia dapati? Kehancuran ekosistem laut dan terumbu karang di daerah itu sudah didepan mata. Ini akibat penambangan timah tak terkendali di lepas pantai.

Pada saat banyak orang ikut terseret kegiatan penambangan timah, Indra berusaha konsisten untuk bersikap sebaliknya. Di bawah wadah Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung (UBB), ia giat melakukan kampanye penyelamatan terumbu karang Babel.

“Bisa dikatakan, tak ada aktivitas penambangan separah ini selain di Babel. Akibat penambangan timah di laut, 50 persen terumbu karang di sini rusak parah,” ungkap Indra, alumnus Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, tentantg kondisi kerusakan terumbu karang di Babel.

Tim Eksplorasi terumbu karang UBB merupakan hasil pemikirannya. Ini salah satu upayanya untuk mewujudkan wadah resmi yang memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian terumbu karang di Bangka. Kini, tim itu memiliki sejumlah relawan, yaitu mahasiswa UBB yang setia menemani Indra melakukan riset dan mengamati terumbu karang di Babek.

Pada awalnya, menurut dia, perguruan tinggi tempat dia bekerja kurang memberikan dukungan terhadap riset terumbu karang. Persoalan dana adalah hambatan terbesar dalam melakukan riset itu, tetapi perlahan Indra bisa mengatasinya

Jaringan koneksi
Ketika ditunjuk sebagai Ketua Laboratorium Perikanan di Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi UBB, Indra segera menganggarkan Rp. 3,3 juta untuk mendanai riset tentang pemetaan kondisi terumbu karang. Untuk membiayai penyelamatan di laut, dia kerap memanfaatkan jaringan koneksinya.

“Untuk alat-alatnya kami sering meminjam pada asosiasi penyelam. harga alat-alat untuk penyelaman tidak murah, minimal Rp. 18 juta. Kadang kala saya suka nebeng pada kegiatan Dinas Kelautan dan Perikanan,” ungkapnya.

Tak jarang pula Indra mengeluarkan uang dari koceknya sendiri untuk kegiatan tersebut. Dengan honor yang masih minim sebagai dosen muda, setidaknya sudah lima kamera bawah laut yang dia miliki. Namun dari jumlah itu hanya tersisa satu yang masih bisa digunakan. Ia menyayangkan, nyaris tidak ada pihak yang peduli terhadap kondisi terumbu karang dan ekosistem laut di babel dewasa ini.

Untuk menghemat dana, saat bepergian ke lokasi yang jauh, misalnya ke Belitung, Indra kerap menumpang di rumah mahasiswanya atau menginap di rumah guru-guru setempat.

“Kebetulan ayah saya guru dan ikut aktif di PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Di daerah-daerah pelosok kan relatif ada guru. Jadi, saya tidak perlu khawatir harus menginap dimana,” ungkapnya.

Sejauh ini sedikitnya sudah 31 titik terumbu karang di kawasan bangka dan Belitung yang dia amati. Data-data dan foto tentang kondisi terumbu karang tersebut rutin dia masukkan ke situs resmi UBB. Tujuan Indra agar semakin banyak orang yang mengetahui kondisi terumbu karang di Babel. Selain itu, dia juga berharap semakin banyak orang mengetahui keindahannya ataupun ancaman kerusakannya.

Dari serangkaian hasil pengamatannya, Indra mendapati bahwa sebagian besar ekosistem terumbu karang di Babel kini hampir berganti dengan alga. Perubahan terjadi sengat cepat akibat masifnya aktivitas kapal-kapal isap dan kapal keruk.

“Jika kondisi ini dibiarkan, ekosistemnya akan berganti dengan makro-alga. Tidak ada lagi terumbu karang,” ungkapnya.

Mulai diperhitungkan
Indra juga rajin menulis artikel tentang ancaman kerusakan terhadap ekosistem laut tersebut. Perlahan, namanya mulai diperhitungkan oleh berbagai pihak terkait, termasuk jajaran birokrat Babel.

“Ketika ada pertemuan dan saya presentasi di hadapan para pejabat, mereka mengenali saya karena sering menulis di koran. Di bangka, anak muda seperti saya susah meyakinkan para pejabat yang jauh lebih tua,” ujarnya.

Dari sini, Indra mulai masuk ke dalam kegiatan struktural, di antaranya menjadi anggota tim analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) serta konsultan organisasi Bangka Goes Green. Lewat lembaga-lembaga ini, dia meyakini, kampanye penyelamatan terumbu karang bisa lebih efektif.

“Daripada program reklamasi oleh Bangka Goes Green tidak tepat, lebih baik saya bergabung di dalamnya sebagai konsultan,” kata Indra memberikan alasan. Dalam mengkampanyekan gagasanya tentang pelestarian terumbu karang, Indra tak pernah bersikap bermusuhan dengan perusahaan tambang ataupun pemerintah.

Dia memilih merangkul mereka dan memberikan penjelasan secara pelahan-lahan. itulah alasan mengapa dia mau bergabung dalam tim amdal dan Bangka Goes Green.

Berkat gagasannya, belakangan ini UBB ritun melakukan pendidikan lingkungan hidup, khususnya tentang ekosistem laut dan terumbu karang di sekolah-sekolah. Setiap Jum’at-Sabtu, dia dan tim mendatangi SMA/SMK di Bangka untuk presentasi mengenai materi dan hasil penelitian terumbu karang di Babel.

“Mereka sangat terkejut, lingkungan lautnya sudah sedemikian rusak, Setidaknya, dengan kegiatan semacam ini akan lahir generasi yang lebih peduli terhadap terumbu karang dan kelestarian ekosistem laut di bangka Belitung,” tuturnya penuh harap.

Menurut Indra, jika laju perusakan ekosistem laut oleh kegiatan penambangan timah tak segera dihentikan, masyarakat Bambel pada masa depan akan menghadapi bencana pangan dan ekologi dengan langkanya berbagai jenis ikan.

“Harga ikan menjadi mahal Akibatnya, di Babel tidak ada lagi anak cerdas, seperti tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi. Lintang cerdas karena suka makan ikan,” ungkap Indra yang mengaku terinspirasi novel Laskar Pelangi karya Andrean Hirata itu.

Sumber:
Kompas
Jum’at, 23 Juli 2010
hal. 16
Jernali: Wisnu Aji Dewabrata, Yulvianus

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
Sex izle Film izle Hd Film izle Seo Danışmanı