KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS Nomor : S. 569/II/PIK-1/2005. Pembangunan kehutanan di Indonesia masih mempunyai daya tarik bagi para investor, hal ini terlihat dengan masuknya investasi bidang kehutanan yang mencapai 27,8 Milyar US $, dengan rincian, investasi industri Pulp dan Kertas sebesar 16 Milyar US $, Plywood 3,33 Milyar US $, Logging 3,2 Milyar US $, Kayu Olahan (wood working) 1,03 Milyar US $, Furniture 0,80 Milyar US $, Kerajinan (Handicraft) 0,17 Milyar US $, dan Adhesive 0,19 Milyar US $. Hal ini menunjukkan bahwa industri kehutanan masih prospektif. Untuk menjaga kelangsungan industri bidang kehutanan Departemen Kehutanan akan meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait, seperti BKPM, Departemen Perindustrian, dan Pemerintah Daerah, agar tercipta suasana yang kondusif, baik keamanan, kepastian hukum, dan kemudahan dalam berinvestasi.

Dari beberapa investasi yang masuk, industri Pulp dan Kertas menempati urutan tertinggi, disusul Plywood, dan Logging. Untuk menjaga kelangsungan industri kehutanan tersebut, Departemen Kehutanan mengeluarkan kebijakan prioritas, salah satu diantaranya adalah restrukturisasi sektor kehutanan, khususnya industri kehutanan. Beberapa langkah yang diambil dalam kebijakan ini adalah memfasilitasi peningkatan performance industri kehutanan, dan mengupayakan peningkatan produk bukan kayu. Untuk menjaga kelangsungan pasokan bahan baku kayu, Departemen Kehutanan akan memfasilitasi pembangunan Hutan Tanaman Industri seluas 5 juta Ha, dan hutan rakyat seluas 2 juta ha.

Saat ini kebutuhan bahan baku kayu industri kehutanan telah melampaui kemampuan sumberdaya hutan dalam menghasilkan pasokan secara lestari. Kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku kayu oleh industri (zero waste), dan percepatan realisasi pembangunan Hutan Tanaman Industri dan Hutan Rakyat.

Sebagai gambaran, jumlah industri pengolahan berdasarkan ijin yang ada adalah sejumlah 1.881 unit, sebagian besar berupa Sawmill, yaitu sebanyak 1.618 unit dengan kbutuhan bahan baku 22,09 juta m3 per tahun. Selanjutnya Plymill 107 unit, kebutuhan bakan baku 18,87 juta m3 per tahun, pulpmill 6 unit, kebutuhan bahan baku 17,91 juta m3 per tahun, dan lain-lain sebanyak 150 unit dengan kebutuhan bahan baku 4,61 juta m3 per tahun. Berdasarkan ijin usaha yang telah diterbitkan tersebut kebutuhan bahan baku kayu yang dbutuhkan per tahun mencapai 63,48 juta m3, sedangkan kemampuan produksi kayu bulat rata-rata per tahun sebesar 22,8 juta m3, yang bersumber dari hutan alam, hutan tanaman, hutan rakyat, dan sumber lain. Hal ini mengakibatkan terjadi kesenjangan kebutuhan bahan baku sebesar 40,60 juta m3 per tahun.

Perlu diketahui bahwa, industri pengolahan kayu hulu yang masih dominan saat ini dibangun pada dekade tahun 1980 an, sehingga mesin yang digunakan masih menggunakan teknologi kuno yang boros bahan baku, dan produknya tidak kompetitif di pasar global. Oleh karena itulah, kebijakan prioritas Departemen Kehutanan dalam merevitalisasi industri kehutanan terus dilakukan, agar industri kehutanan mampu berperan kembali sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional, dan memberikan kontribusi nyata dalam penerimaan negara.

Jakarta, 15 September 2005

Kepala Pusat Penerang DepHut

Achmad Fauzi
NIP. 080030366