KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Hotel Sultan, Jakarta, 10 – 14 September 2012 Kementerian LIngkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Korea menyelenggarakan International Specialized Course on Environmental Technology (ISCET) River Restoration and Water Environment Management for Indonesia yang berlangsung 3 hari di Jakarta. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut Program Kerjasama yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani tanggal 13 Desember 2007 di Bali. Pertemuan ini merupakan sharing pengetahuan dan pengalaman Korea dalam upaya restorasi sungai dan pengelolaan lingkungan hidup.

Acara dimulai dengan Sambutan dari Mr. Park Eung Ryul,  ketua National Institute Environmental Human Resources Development Republik Korea dilanjutkan dengan Sambutan Pembukaan dari Drs. Karliansyah, MSi, Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KLH. Dalam Sambutannya, Deputi II KLH mengingatkan pentingnya pertemuan ini sebagai wadah bag isemua pihak memberikan pemikiran dalam menyelamatkan Sungai Ciliwung. Disampaikan pula, bahwa melalui Program PROPER (Program Peringkat Kinerja Pengelolaan Lingkungan Perusahaan, KLH telah mengendalikan pencemaran sekitar 1300 industri, namun ternyata hasil penelitian menyebutkan 80% kontribusi pencemaran kesungai bersumber dari limbah domestik, terutama untuk sungai yang melalui wilayah perkotaan. Oleh sebab itu strategi pengendalian pencemaran sungai harus diprioritaskan pada upaya pengendalian pencemaran limbah domestik, dimana partisipasi masyarakat sangat diperlukan. Kerterlibatan kerjasama internasional seperti yang saat ini dengan Korea juga sangat bermanfaat, untuk itu Deputi II mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada pemerintah Korea.

Selanjutnya Mr. Ryul menyampaikan materi “Kebijakan Lingkungan di Korea pada masa lalu, sekarang dan masa depan” yang memperlihatkan adanya perubahan paradigma kebijakan lingkungan. Pada tahun 1990 an fokus utamanya adalah pencegahan dini polusi lingkungan dengan menangani masalah polusi dan penanggulangan polutan. Sedangkan di tahun 2000 kebijakannya adalah Sinergi Lingkungan dan Ekonomi dengan mengutamakan Teknologi Lingkungan, Pemberdayaan Industri, Kesehatan Masyarakat dan pelestarian Lingkungan.

Materi lainnya adalah materi terkait “Ekologi Sungai Restorasi”, “Restorasi Sungai sehubungan dengan kebijakan perlindungan pasokan air serta pengolahan air limbah”, “Manajemen kebijakan pencemaran tanah” serta “Pengelolaan sampah organik menjadi pengelolaan sumber daya energi”. Korea menerapkan konsep restorasi ekologi yaitu dengan memulihkan kembali sungai yang rusak kekondisi ekologi aslinya seperti semula. Prinsip dasar restorasi sungai ekologinya dengan menghargai sifat dinamis sungai, menjaminkan sifat kontinum dan keragaman sungai serta menghargai setiap individualitas/karakteristik sungai. Proyek purifikasi sungai tercemar dilakukan di berbaga isungai di Korea dengan melakukan perbaikan dasar sungai serta pengerukan lumpur pengendapan. Restorasi lainnya berupa meandering jalur air kekondisi semula, menciptakan kembali habitat dan vegetasi aslinya serta melakukan pembongkaran jalan tol, pembongkaran tempat parkir untuk dijadikan taman sungai. Proyek renaisans sungai Hanya dilakukan di beberapa tempat yang mengemukakan konsep taman sungai yang indah seperti taman kebudayaan akuatik, pusat transportasi kapal yang mempunyai juga fungsi olah raga dan rekreasi yang diperuntukan bagi masyarakat umum sebagai fasilitas umum dan fasilitassosial (fasum dan fasos).

Pembahasan mengenai kebijakan dan teknologi fasilitas penyediaan air bersih serta pembuangan air limbah juga disampaikan dengan menjelaskan“Arah kebijakan fasiltas di masa depan”sehingga terlihat adanya peningkatan fasilitas kepada masyarakat yang terus dilakukan. Dengan semakin ketatnya pengaturan baku mutu pada Sewage Treatment Plant (STP) dan Wastewater Treatment Plant (WWTP) di Korea, maka pemerintah beserta pihak swasta merenovasi semua fasilitas STP dan WWTP dengan metode dan teknologi pengolah limbah yang lebih canggih, tidak hanya menggunakan Aktivasi Lumpur Aktif, namun menjadi seperti Biological Nutrient Removal (BNR) dan Membrane Bio Reactor(MBR).

Pada pertemuan ini disinggung pula informasi terkait dengan akan dilakukannya “Proyek Percontohan Restorasi Sungai Ciliwung”. Proyek ini akan dilakukan di sekitar masjid Istiqlal denga nmengembangkan konsep STP kapasitas< 500 m3/hari, pembuatan air mancur yang dapat menjadi objek pariwisata serta pembangunan trotoar/jalan setapak yang pada kiri dan kanannya dialiri oleh air hasil olahan STP.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Asdep Pengendalian Pencemaran Manufaktur Prasarana dan Jasa Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup
Telp/fax: 021-85906677
email: asdepmanufaktur@yahoo.co.id