KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 Henry Bastaman, Deputi VI Menneg LH:

Sabtu, 8 Agustus. Ratusan orang berkumpul di pelabuhan perikanan Muara Angke Jakarta Utara. Tidak hanya orang dewasa, tapi juga para siswa dari berbagai sekolah di kawasan tersebut. Sementara di perairan laut tampak sejumlah perahu membawa beberapa penyelam membawa beberapa kantong berisi sampah.

"Disini sedang ada kegiatan bersih laut dan pesisir pantai,"ujar seorang petugas Polisi Pamong Praja (PP) DKI Jakarta yang ikut membersihkan sampah di jalan masuk kearah dermaga. Di dalam sudah ada bapak-bapak pejabat dari Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Kota Jakarta Utara, kata dia.

Program "Jakarta Coastal Clean-Up" memang merupakan program bersama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Jakarta Green Monster, salah satu komunitas pecinta lingkungan di Jakarta. Namun pelaksanaannya, selalu melibatkan berbagai elemen masyarakat, terutama pelaku bisnis. Karena itu, dalam penyelenggaraan kegiatan di hari Sabtu itu, selain instansi pemerintah juga, melibatkan berbagai unsur pendukung antara lain, Gerakan Pramuka, Jakarta Green Monster, Lions Club, PT Toyota, Coca Cola, kelompok penyelam, seniman, dan komunitas masyarakat nelayan Muara Angke.

Menurut Deputi VI Menneg LH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Dr. Henry Bastaman, pembersihan lingkungan pesisir dan laut harus terus digalakkan, sebab kualitas lingkungan di pesisir dan laut Teluk Jakarta sudah sangat serius.

"Ribuan ton sampah dan limbah dari daratan yang masuk ke laut merusak ekosistem pesisir dan laut. Berbagai jenis limbah yang masuk ke perairan sebagian besar berupa limbah cair dan limbah padat, baik organik maupun anorganik. Keberadaan limbah itu di perairan sangat lama, ditambah sampah non organik seperti botol plastik, busa, Styrofoam, akan memakan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai," kata Henry Bastaman.

Dari hasil pemantauan selama ini volume limbah dan sampah yang masuk ke Teluk Jakarta 490 ton/tahun. Sedangkan di kepulauan Seribu mencapai sekitar 8,9 ribu ton per tahun. Sampah dan limbah yang masuk ke Teluk Jakarta berasal dari tiga daerah, yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Limbah dan sampah itu terbawa oleh aliran sungai-sungai yang mengalir di tiga daerah ini.

Menurut Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (Ka BPLHD), Provinsi DKI Jakarta, Ir. Peni Susanti, secara serempak kegiatan yang sama juga diadakan di tiga lokasi, yakni, di Kepulauan Seribu, kawasan Hutan Lindung Muara Angke dan Suaka Margasatwa Muara Angke. "Sebagian sudah berada di Suaka Margasatwa Muara Angke, dan di Kepulauan Seribu," jelas Peni Susanti.

Akan Dilembagakan

"Pembersihan pantai dan laut mesti dilakukan terus menerus, karena itu kedepan gerakan seperti ini kemungkinan akan dilembagakan sehingga dapat dilaksanakan secara berkala," ujar Wahyu Indraningsih, Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan pesisir dan Laut, KLH, memaparkan gerakan bersih pesisir dan laut kedepannya akan dilembagakan dan dibuat berkala.

"Mungkin bisa diadakan setiap tiga atau empat bulan sekali. Diharapkan warga masyarakat dapat mengikuti kegiatan ini, sebab dengan demikian bisa tumbuh kesadaran untuk menjaga kebersihan pesisir dan laut" kata Wahyu Indraningsih.

Dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim, kata Wahyu, gerakan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi. "Tumpukan sampah mengeluarkan gas metan yang dapat merusak vegetasi di pesisir dan laut seperti mangrove, terumbu karang dan padang lamun. Sehingga menyebabkan kenaikan suhu. Dengan menyelamatkan vegetasi pantai maka akan memberikan kontribusi bagi penyerapan gas CO2, dimana gas metan termasuk di dalamnya, sehingga menggurangi efek terjadinya perubahan iklim," kata dia.

Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Dengan dipandu para relawan dari Jakarta Green Monster, mereka tetap bersemangat membersihkan sampah, meski terik panas matahari terasa menyengat. Sampah-sampah itu dikumpulkan kedalam kantong-kantong plastik dan setelah ditimbang langsung dimasukkan ke dalam mobil pengangkut sampah yang sudah tersedia.

"Kebersihan lingkungan itu tanggung jawab bersama. Kalau bukan kita siapa lagi yang membersihkan lingkungan sendiri," ujar Dyah salah seorang anggota Pramuka penggalang.

Menurut Peni Susanti, kegiatan bersih pantai dan laut kali ini melibatkan sekitar 1500 relawan yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, pramuka, instansi pemerintah dan swasta, LSM dan masyarakat umum. Kegiatan ini merupakan salah satu irisan implementasi dari Manado Ocean Declaration (MOD), hasil dari World Ocean Conference (WOC) di Manado bulan Mei lalu. 
Paulus Londo

Sumber:
Koran Suara Akar Rumput
edisi: 14-20 Agustus 2009