KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Bahan-bahan pencemar organik persisten adalah sejumlah bahan pencemar kimia beracun. Tanpa disadari, bahan-bahan itu kemungkinan berada disekitar kita. Sifatnya tidak mudah terurai (persisten) melalui proses kimia, fisika dan biologi, dan cenderung berakumulasi pada jaringan lemak manusia, hewan dan tumbuhan hingga bertahun-tahun. Bahan-bahan tersebut memang bukan produk alamiah, melainkan tercipta sebagai produk sampingan dan aktivitas industri, pertanian dan sebagainya. Selain itu, bahan-bahan ini mudah menyebar sehingga udara, air bersih tanah, pangan dan minuman bahkan tubuh manusia terkontaminasi.

Ada 12 bahan pencemar organik yang presisten yang disadari atau tidak akrab dengan kehidupan sehari-hari, yakni: 

  • Aldrin, berupa pestisida yang dipakai untuk membunuh rayap, belalang, cacing, serta hama serangga lainnya.
  • Chlordane yakni pestisida yang dipakai secara luas untuk mengendalikan rayap dan serangga dengan spektrum luas terutama di bidang pertanian.
  • DDT yakni pestisida yang paling terkenal karena  banyak dipakai untuk melindungi masyarakat dan hewan penyebab penyakit malaria dan penyakit lainnya.
  • Dieldrin, berupa pestisida yang dipakai untuk mengendalikan rayap dan hama tekstil. Tapi juga kerap dipakai untuk mengendalikan serangga penyebab penyakit dan untuk pertanian.
  • Endrin, yakni pestisida untuk serangga yang disemprotkan pada dawn tanaman Werti kapas dan butir padi. Racun ini juga dipakai untuk membunuh tikus dan hewan pengerat lainnya.
  • Heptachlor yakni pestisida yang dipakai untuk membunuh serangga tanah, rayap, serangga kapas, belalang, hama tanaman lainnya, nyamuk penyebab malaria.
  • Mirex yakni pestisida membunuh serangga terutama jenis semut, rayap. Tapi juga dipakai untuk bahan pemadam api.
  • Toxphene, atau disebut juga "Camphechlor" adalah pestisida yang dipakai untuk melindungi tanaman kapas, padi, buah, kacang dan sayuran dan serangan hama kutu dan tungau.
  • HCB (Hexachlorbenzene), yakni bahan pembasmi jamur yang mempengaruhi makanan hasil pertanian. Bahan ini juga merupakan hasil samping dari produksi bahan kimia tertentu dan dari proses yang menghasilkan dioksin dan furans.
  • PCB (Polychlorinated Biphenyl), dalam industri bahan ini dipakai sebagai penyangga panas seperti pada trafo, bahan tambahan pada cat, kertas carbon, penutup (sealants) dan plastik
  • Dioxins yakni bahan kimia yang dihasilkan tanpa sengaja dalam pembakaran yang tidak sempurna dalam proses pembuatan pestisida atau bahan kimia lain seperti pada industri kertas, plastik, bubur kayu, bahan pemutih, Senyawa ini juga dihasilkan pula dari asap, mobil, tembakau, kayu, dan sebagainya.
  • Furans, yakni bahan kimia yang dihasilkan tanpa sengaja dad proses yang sama dengan yang mengeluarkan fioksin. Bahan ini ditemukan dalam campuran PCB yang diperdagangkan.

Bahayanya

Dari beberapa studi tentang residu dan dampak bahan kimia POPs bagi makhluk hidup ditemukan indikasi bahaya yang dapat mengancam kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Ancaman bagi manusia antara lain, gangguan terhadap sistem reproduksi (kemandulan), penurunan kekebalan tubuh pada bayi dan anak-anak, kelainan fisik dan mental, memicu kanker, gangguan pada fungsi organ tubuh seperti hati, paru-paru, ginjal, tiroid, sistem hormon endokrin, dan organ reproduksi. Kontaminasi POPs pada Ingkungan menyebabkan punahnya species tertentu, penurunan populasi burung-burung dan sebagainya.