KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Salah satu ciri perusahaan berumur panjang adalah perusahaan yang sensitif terhadap lingkungan, selaras dan adaptif terhadap dinamika masyarakat sekitarnya. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu instrumen inovatif yang dapat membantu perusahaan untuk peka dan adaptif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya salah satu agenda penting adalah bagaimana mengarusutamakan isu lingkungan serta pembangunan berkelanjutan ke dalam pelaksanaan CSR perusahaan, dengan terjalinnya sinergi dan kemitraan yang baik antara perusahaan, LSM, Pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat lainnya, sehingga bisa berkontribusi pada upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Buku Petunjuk Pelaksanaan CSR Bidang Lingkungan yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, merupakan pelengkap dari Pedoman CSR Bidang Lingkungan yang diluncurkan tahun 2011, yang mencantumkan 7 (tujuh) alternatif bidang kegiatan CSR Lingkungan yaitu: (1) Produksi bersih (2) Kantor ramah lingkungan (3) Konservasi SDA dan energi (4) Pengelolaan limbah dengan 3R (5) Energi Terbaharukan (6) Adaptasi perubahan Iklim dan (7) Pendidikan Lingkungan Hidup. Kedua dokumen kebijakan merupakan voluntary initiative dari  KLH  untuk menginspirasi dunia usaha yang memiliki komitmen tinggi melaksanakan CSR, sehingga dapat bertransformasi menjadi corporate with World Class CSR dengan sensitivitas dan kemampuan adaptif memadai terhadap lingkungan sekitar.

Keberadaan dokumen ini lebih ingin mendorong penyelenggaraan CSR yang berkontribusi pada pencapaian sustainable development dengan menempatkan CSR dalam semesta tripple bottom line, yang melingkupi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Meski judulnya tertulis CSR Bidang Lingkungan, tetapi persoalan yang disasar tidak hanya persoalan lingkungan, melainkan termasuk isu sosial dan ekonomi. “Terminologi lingkungan hanya sebagai entry point saja.

Sebagai sebuah konsep yang saat ini cukup populer dalam diskursus akademik, bisnis, maupun tataran kebijakan, Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki tafsir yang beragam mulai dari definisi, pendekatan, hingga bentuk atau penerapannya di lapangan. Hal tersebut kerap membuat kebingungan berbagai pihak yang berkepentingan. Walaupun pemerintah telah mencoba membuat regulasi terkait CSR yaitu tentang Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) bagi Perseroan Terbatas, namun pada kenyataanya belum ada konsensus dalam pendefinisian CSR , baik di Indonesia mapun di negara-negara lain. Beragamnya tafsir dan pemahaman tentang CSR ini berdampak pada pelaksanaan CSR perusahaan. Ada perusahaan yang pelaksanaan CSR-nya direncanakan, diimplementasi dan dievaluasi dengan baik secara profesional. Sementara itu ada juga perusahaan yang melaksanakan CSR ala kadarnya.  Sehingga di lapangan ada perusahaan yang CSR-nya baik, tapi dalam praktiknya masih merusak dan merugikan lingkungan dan masyarakat.

Beragamnya tafsir mengenai CSR lah yang pada akhirnya membuka peluang masing-masing pihak dalam mendefinisikan CSR  berdasarkan kepentinganya. Dimana hal ini kemudian menjadi dasar munculnya inisiatif atau bentuk intervensi yang justru terkadang kontraprodukstif dan berlawanan dengan prinsip utama CSR sebagai wujud komitmen perusahaan pada perilaku bisnis yang etis untuk meningkatkan kualitas hidup  dari para pemangku-kepentingan, serta berkontribusi pada keberlanjutan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, sebagai bagian dari proses pembangunan berkelanjutan.

Pedoman dan Petunjuk pelaksanaan CSR bidang Lingkungan sebagai salah satu instrumen yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam mengembangkan kegiatan CSRnya  sudah di sosialisasikan kepada dunia usaha meliputi area 5 (lima) PPE (Pusat Pengelolaan Ekoregion): Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sumapapua dan Bali Nusra. Sejalan dengan itu, pada tahun 2012 juga dilakukan asesmen untuk mendapatkan model pelaksanaan CSR Bidang Lingkungan yang telah dilaksanakan oleh dunia usaha secara sistemik dan terintegrasi. Penggalian di beberapa perusahaan yang bersedia secara sukarela dan telah mendapatkan penilaian Proper kategori hijau dan emas, menghasilkan 10 (sepuluh) perusahaan dengan potret penerapan siklus pembentukan dan penerapan sistem terintegrasi CSR bidang lingkungan.

Namun demikian, upaya ini masih perlu ditingkatkan bersama dengan para pemangku kepentingan terkait CSR guna mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Tahun 2013 direncanakan untuk melanjutkan kegiatan serupa untuk memberikan inspirasi dan mendorong komitmen dunia usaha dalam mengarusutamakan lingkungan dalam CSRnya.

Download Buku:

  1. Buku Petunjuk Pelaksanaan CSR Bidang Lingkungan 2012 (pdf)
  2. Pedoman CSR Bidang Lingkungan yang diluncurkan tahun 2011 (pdf)

Berita Terkait:

Voluntary Initiative KLH untuk Pelaksanaan CSR Menuju Pembangunan Berkelanjutan: Petunjuk Pelaksanaan CSR Bidang Lingkungan

Sumber:
Asdep Peningkatan Peran organisasi Kemasyarakatan