KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

KONSERVASI: JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan naskah Rencana Pemulihan Harimau Indonesia 2011-2022, yang menargetkan populasi harimau sumatera bertambah 100 persen dalam 11 tahun. Program itu diperkirakan butuh dana 175 juta dollar AS dan akan menjadi bagian dari Global Tiger Recovary Plan.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori, Selasa (6/7) di Jakarta. “Pada 12 – 14 Juli Indonesia akan menjadi tuan rumah Dialogue Meeting yang diikuti 13 negara pemilik harimau alami. Dalam pertemuan itu, Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas untuk di integrasikan dengan Global Tiger Recovary Plan,” kata Darori.

Darori menjelaskan, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumaterae) di alam liar tinggal sekitar 400 ekor. Sementara jumlah harimau sumatera di berbagai kebun binatang di dalam dan di luar negeri tinggal 250 ekor.

“Itu merupakan subspesies harimau asli Indonesia yang terakhir. Pada tahun 1940-an, sub-spesies harimau bali (Panthera tigris balica) punah. Harimau sumatera tidak boleh punah. Karena optimistis, dengan Rencana Pemulihan Harimau Indonesia 2011-2022, jumlah harimau di alam liar pada 2022 akan mencapai 800 ekor,” kata Darori.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan Harry Santoso menjelaskan, titik berat rencana pemulihan itu adalah konservasi in situ atau konservasi di habitat asli harimau sumatera. Dalam Rencana Pemulihan Harimau Indonesia, dipilih enam bentang alam terpenting bagi konservasi harimau. Keenamnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan, TN Kerinci Seblat, TN Kerumutan, TN Bukit Tigapuluh, Balai Rejang Selatan, dan Ulu Masen.

“Total bentang alam habitat asli harimau sumatera tersebar di 18 lokasi. Akan tetapi, enam bentang alam itu yang terpenting mencakup sekitar 70 persen luas habitat asli harimau sumatera. Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas dalam Pre-Tiger Summit Partners dalam Pre_Tiger Summit Partners Dialogue Meeting. Dari pertemuan di Bali itu, diharapkan ada komitmen pendanaan global. Saat ini total anggaran direktorat Jendral PHKA berkisar Rp 15 miliar per tahun untuk mengkonservasi semua satwa. Tidak ada dana khusus harimau,” kata Harry.

Forest and Biocarbon Coordinator Fauna dan Flora International Anjar Rafiastanto mengharapkan pertemuan Pre_tiger Summit Partners dialogue Meeting mampu menyentuh masalah perdagangan gelap harimau. “Kita harus membangun komitmen negara peserta untuk mencegah penyelundupan harimau. Sampai sekarang China masih menjadi konsumen harimau selundupan dari Singapura dan Hong Kong,” kata Andjar.

T Haryo Wibisono dari Forum Harimau Kita menyatakan, tutupan habitat asli harimau sumatera telah banyak berkurang dari 70 persen habitat asli belum ditetapkan sebagai kawasan konservasi. “Namun, kita harus belajar dari kepunahan harimau bali dan harimau jawa. hutan di bali dan jawa yang masih ada tidak mampu cegah kepunahan. Dalam jangka pendek, kita harus memprioritaskan proteksi bagi harimau sumatera,” katanya. (ROW)

Sumber:
KOMPAS
Rabu, 07 juli 2010
row