KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




Narasi Video 6 LSM Lingkungan (INFORM)

Kemakmuran yang adil
dan merata untuk seluruh masyarakat bangsa ini ternyata hanya sebatas angan-angan
dan cuma menjadi impian. Negara yang kaya raya akan sumber daya alam ini ternyata
hanya mengenyakngkan perut segelintir manusia rakus dan memiskinkan jutaan rakyat
lainnya.

Sejak puluhan tahun
lampau, hutan-hutan Indonesia, tempat habitat dan berbagai jenis satwa, di rusak
keberadaanya demi dorongan ambisi yang tidak manusiawi. Pohon-pohon besar yang
memayungi alam sebagai sebuah keseimbangan ekosistem dijarah tanpa henti. Perusakan
alam tanpa adanya kesadaran untuk menanam kembali hutan yang telah dirambah,
pada akhirnya menghadirkan bencana serta mengakibatkan penderitaan dan kerugian
bagi rakyat dan negara.

Dan semua perusakan
alam itu dilakukan sekali lagi demi mengenyangkan perut buncit maling-maling
berdasi yang ironisnya justru ada juga yang ikut mengatur negara ini.

Penebangan hutan
secara ilegal adalah suatu tindak kejahatan! Sudah menjadi rahasia umum bahwa
praktek-praktek itu merupakan suatu jaringan mafia yang sulit diberantas kerena
di dalamnya bermain aktor-aktor ulung berkedok penegak hukum dan pejabat.

Penebangan hutan
illegal menjadi sebuah lahan bisnis yang besar dan menguntungkan.

Penebangan hutan
secara tidak sah ini menjadi semakin marak karena industri kehutanan tahun 2002
membutuhkan bahan baku kayu sebesar 63 juta m3 per tahun sedangkan produksi
kayu legal hanya mencapai 12 juta m3 per tahun. Itu berarti lebih dari 80% bahan
baku industri kayu berasal dari kayu curian.

Kebutuhan yang besar
itu merangsang keserakahan segelintir orang mulai dari para cukong yang notabene
adalah oknum anggota wakil rakyat yang maunya di sebut terhormat itu, para pemilik
pabrik pengolah kayu berskala besar, oknum pegawai instansi kehutanan sendiri,
oknum syahbandar dan oknum penegak hukum.

Kesempatan meraup
untung selangit menjadi obsesi, lalu mereka melakukan praktek haram dan menyengsarakan
rakyat.

Dari praktek ilegal
itu Negara dan rakyat mengalami kerugian sebesar 30 trilyun rupiah per tahun,
belum termasuk hilangnya fungsi hutan dan kelangsungan hidup keanekaragaman
hayati yang ada. Indonesia sebagai negara yang kaya akan hutan alam itu, telah
kehilangan 72% areal hutannya dijarah oleh maling-maling bangsanya sendiri.
Dari data dapat kita pastikan bila praktek ini tidak di hentikan maka pada tahun
2005 hutan dataran rendah di daerah Sumatera akan hilang, dan tahun 2010 giliran
hutan dataran rendah di Kalimantan yang musnah.

Pemerintah kita belum
dapat berbuat banyak !

Parlemen terus bersidang
merumuskan peraturan. Mereka lupa satu hal: bahwa bukanlah kata-kata atau rumusan
perundangan yang terpenting, melainkan tindakan nyata yang harus cepat dilakukan
karena kondisinya sudah sangat kritis. Areal hutan kita semakin berkurang dari
hari ke hari.

Bila parlemen kita
bersidang sepuluh hari saja untuk membuat peraturan untuk mencapai solusi bagi
bangsa ini, maka pada akhir persidangan hutan kita telah lenyap sepanjang jarak
antara Jakarta – Bogor.

Lalu untuk apa sidang
itu ??

Apa manfaatnya bagi
anak bangsa ??

Bila dibayangkan
betapa parahnya.

Meski sudah terlambat,
jangan biarka aksi si Raja maling hutan semakin merajalela.

Maka tidak ada kata
lain selain:

Hentikan sekarang
juga !!

Hentikan penebangan
yang merusak hutan !!

Saatnya kita kerjakan
apa yang bisa kita kerjakan !!

Seret raja maling
ke meja hijau !!

Jika tidak, tak akan
lama lagi bangsa ini mengalami kehancuran yang luar biasa !!

Jangan tunda lagi
!!

Selamatkan bangsa
ini untuk generasi mendatang !! (End)