KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


(Dalam Rangka Peringatan  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2009)

DSC_0675_gas.jpgGAUK merupakan gerakan masyarakat anti udara kotor yang diinisiasi oleh Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan CAI (Cinta Alam Indonesia). Gerakan ini dilakukan secara serentak pada hari dan jam yang sama di 7 (tujuh)  kota besar di seluruh Indonesia melalui pawai damai. Pawai damai GAUK di tujuh kota besar; Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan dan Makasar, dilaksanakan secara serentak pada hari Sabtu, 6 Juni 2009.

Adapun tujuan diadakannya GAUK adalah untuk  (1). Meningkatkan partisipasi masyarakat akan pentingnya kualitas lingkungan yang sehat, (2). Mendorong kesadaran masyarakat terhadap dampak polusi udara akibat kegiatan transpotasi umum dari sumber bergerak di perkotaan, (3).  Mendukung Pemerintah Daerah untuk menerapkan Peraturan Daerah tentang pelaksanaan ambang batas emisi  dan uji emisi kendaraan bermotor, (4). Mendorong semua elemen masyarakat di perkotaan peduli udara bersih serta (5). Mengurangi dampak pencemaran udara dari kegiatan transportasi kendaraan bermotor  terhadap kesehatan masyarakat di kota besar di Indonesia secara berkelanjutan.

Gerakan Kesadaran Masyarakat
Hasil studi dari ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015. Sementara itu, data hasil pemantauan kualitas udara DKI Jakarta menunjukkan kategori  mengkhawatirkan (KLH 2008). Pencemaran udara dari sumber bergerak kendaraan bermotor terutama di kota besar di Indonesia sudah sangat mencemaskan. Berdasarkan hasil pemantauan kualitas  udara ambien di jalan utama  yang digunakan menjadi akses publik  menuju tempat bekerja dengan kendaraan umum dan anak- anak yang akan berangkat dan pulang sekolah seperti di kota Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Makasar menunjukkan adanya peningkatan jumlah gas buang terdiri partikel  sulfur dioksida, carbon monoksida, nitrogen dioksida dan partikel debu yang tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia (Sumber: Hasil Pemantauan Kualitas Udara KLH 2008). Lebih jauh lagi, Bapeldada DKI Jakarta 2001 menemukan bahwa ibu-ibu di pinggiran kota memiliki ASI berkadar timbel 10 -30 ug per kilogram.

Terkait dengan kondisi pencemaran udara yang sudah melampaui ambang kewajaran, Pemda Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang mulai berlaku sejak Peraturan Daerah ini diundangkan, 16 Februari 2005. Namun hingga kini penerapannya dirasakan belum efektif; sejauh ini masyarakat hanya mengetahui mengenai larangan merokok. Padahal Perda tersebut mengatur juga tentang kewajiban uji emisi bagi kendaraan serta Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta.

Oleh karena itu, pada Hari Lingkungan Hidup se-dunia yang jatuh pada bulan Juni ini, merupakan momentum yang paling tepat untuk menyadarkan semua elemen masyarakat akan arti pentingnya udara bersih.

Pelaksanaan Pawai Damai GAUK Jakarta, Sabtu 6 Juni 2009
GAUK Jakarta diikuti oleh lebih dari 4000 orang, berasal dari berbagai komponen masyarakat, dimulai pada pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang. Kegiatan GAUK didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan BPLHD Jakarta.

Pawai damai GAUK diawali dengan pembacaan Deklarasi Gerakan Anti Udara Kotor  oleh wakil dari Yayasan CAI (Yayasan Cinta Alam Indonesia). Deklarasi Anti Udara Kotor Jakarta berisikan ajakan kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat untuk: (1). Mewujudkan kota Jakarta, sebagai kota yang sehat bebas polusi, (2). Mengawasi dan mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah yang pro lingkungan hidup, (3). Mensukseskan dan mengawasi penerapan Perda PemProv. DKI Jakarta No.2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, termasuk Perda DKI Jakarta No.75 tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Tepat pukul 7.30, setelah menerima Piagam Deklarasi Gerakan Anti Udara Kotor yang disampaikan oleh perwakilan dari masyarakat, Bapak Mangisara Lubis, Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pemberdayaan Masyarakat, menyampaikan sambutan sekaligus melepas secara resmi peserta pawai damai GAUK dari bilangan Monas.

Penggunaan kostum masker penutup hidung pada Pawai Damai GAUK pagi tadi mengingatkan kita betapa mengkhawatirkannya udara kota Jakarta yang selama ini kita hirup. Selain itu, pemakaian masker dalam Pawai Damai Gerakan Anti Udara Kotor diharapkan juga dapat menyadarkan kita semua akan pentingnya udara bersih.

Pawai damai GAUK, yang dimulai dari bilangan Monas berjalan menuju Bundaran HI dan berakhir di Monas, dimeriahkan oleh Keenan Nasution Band Live Performance, Joy Climax Live Performance, serta Orasi dan Pembacaan Puisi oleh H. Didi Petet.  Pawai Damai GAUK berakhir hingga pukul 1 siang. Akhirnya, diharapkan kegiatan GAUK menjadi inspirasi kita untuk terus berjuang melawan pencemaran udara; udara bersih adalah tanggung jawab kita bersama.
 

Sumber:
Asisten Deputi Partisipasi Masyarakat
dan Lembaga Kemasyarakatan
Deputi Bidang Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Telp/Fax. 021-85904919/021-8580087