KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta (ANTARA News) – “Habis manis sepah dibuang”, itulah pameo yang selalu berlaku bagi sebuah kantong kresek. Usai dipakai untuk mewadahi sesuatu, nasib lanjutan baginya adalah berkalang sampah di tempat pembuangan.

Sayang, tak banyak yang sadar bahwa ia mempunyai umur yang panjang, ratusan tahun bagi sebuah kantong kresek tak akan membuatnya hancur sempurna.

Beni Chandra adalah satu dari sedikit orang yang prihatin atas hal itu. Fisikawan yang lulus dari ITB pada 2006 itu tergerak memperpanjang masa pakai kantong kresek dengan cara lain.

Usahanya itu bermula dari sebuah keinginan untuk mandiri sekaligus prihatin atas keadaan semakin menggunungnya sampah di Kota Bandung. Dari tangan mahasiswa biasa bermodal cekak itulah sebuah usaha ramah lingkungan yang mendatangkan berkah menemui titik awalnya.

Lima tahun silam, tangan Beni sendirilah yang memasukkan limbah kantong kresek ke dalam karung. Layaknya pemulung, pria kelahiran 1984 itu mengitari tempat pembuangan sampah di pusat pertokoan kota Bandung.

Ia selalu berpikir dan tak pernah lepas menyimpan keyakinan di hati bahwa kantong kresek memiliki potensi yang besar jika diolah menjadi sesuatu yang lain.

“Selain itu juga dapat menyelamatkan lingkungan, karena limbah plastik sulit dicerna oleh tanah,” katanya.

Otak bisnis dikombinasi dengan pengetahuan yang didapatnya di bangku kuliah membuat Beni memiliki ide mengolah kantong kresek menjadi biji plastik bahan daur ulang yang banyak diburu perusahaan plastik.

Layaknya gayung bersambut, ide Beni didukung 100 persen oleh sang dosen yang tak segan memberinya pinjaman modal usaha sebesar Rp200 juta.

Pinjaman itu digunakan untuk keperluan membuka usaha mulai dari menyewa lahan di desa Ciganiti, Buah Batu, Bandung, membeli mesin pencacah plastik, menyewa mobil bak pengangkut, hingga menggaji 15 tenaga kerja.

“Sisanya untuk modal kerja yakni untuk membeli sampah kantong kresek yang harganya Rp1000 perkg,” kata Beni Chandra.

Aktivitas usahanya berlangsung setiap hari selama delapan jam dan dalam jangka waktu dua hari, usaha Beni mampu memproduksi 1,5 ton biji plastik.

Ia tak kesulitan menjual barang produksinya sebab banyak distributor dan pabrik plastik di kawasan industri Cicaheum, Cimahi, sangat membutuhkan pasokan bahan baku daur ulang plastik.

Mereka siap menampung produksi Beni dan mematok harga tinggi Rp3.000 perkg biji plastik. Alhasil Beni berpenghasilan minimal Rp4,5 juta/bulan setelah dikurangi biaya operasional termasuk menggaji 15 karyawan rata-rata Rp700.000 perorang.

Pinjaman pada sang dosen dalam waktu relatif singkat berhasil dilunasinya.

Itu baru tahap awal, sebab kini kantong kresek sang fisikawan terus menjadi buruan para distributor dan pabrik plastik yang memerlukan pasokan bahan baku.

Beni sempat kewalahan, modal yang terlampau pas-pasan membuatnya sulit memenuhi order yang terus menggunung.

Namun Beni Chandra tak pernah berdiam diri untuk mempertahankan kelanjutan usahanya. Tekad kuat itulah yang membuatnya kemudian menemukan jalan keluar.

Tangan Tuhan pun bekerja. Inilah bentuknya; pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM mengucurkan dana bergulir melalui PT Sarana Jabar Ventura untuk usahanya.

Kembali dana operasional disuntikkan. Dana pinjaman sebesar Rp175 juta digunakannya untuk mengekspanasi usaha mulai dengan membeli mesin peleburan plastik, mesin pembersih, mesin pembilas, mesin pengering, hingga menambah kapasitas instalasi listrik.

Kini, Beni Chandra memiliki empat mesin pemroduksi biji plastik dan mempekerjakan 15 tenaga kerja. Itu memungkinkannya mampu memasok lebih banyak pabrik plastik daur ulang meski belum sepenuhnya dapat memenuhi pasokan bahan baku yang mereka pesan.

Laba bersih dari usahanya kini mencapai lebih dari Rp12 juta perbulan.

Beni tak lantas puas, ia masih memiliki mimpi untuk dapat mengolah limbah plastik dari hulu ke hilir.

Belum lama ini ia bahkan sukses menemukan inovasi rotan plastik berbahan baku kantong kresek. Karyanya itu telah diujicobakan di Industri Kerajinan Yayasan Kayu Api, Gede Bage, Bandung.

“Saya masih punya cita-cita untuk mengolah kantong kresek dan limbah plastik menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat, selain juga merupakan salah satu upaya yang ramah lingkungan juga mampu membuka peluang lapangan kerja bagi orang lain,” katanya.

Bukan omong kosong
Bahaya limbah plastik bukan omong kosong. Telah banyak penelitian membuktikan dahsyatnya limbah plastik mendatangkan bahaya termasuk potensi negatifnya dalam mendegradasi lingkungan.

Hal yang pasti adalah dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya bahkan butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna.

Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin.

Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Bagi lingkungan, kantong plastik juga mengakibatkan banjir, karena menyumbat saluran-saluran air dan tanggul sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk.

Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah ini dibentangkan maka, dapat membungkus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat!

Setiap tahun, sekitar 500 milyar-satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya dan lebih dari 17 miliar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya.

Kantong plastik juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim utama di mana sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer.

Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca.

Saat ini berbagai negara di dunia mulai melarang dan merespon bahaya penggunaan kantong plastik, seperti di Kenya dan Uganda yang sudah secara resmi melarang penggunaan kantong plastik.

Sejumlah negara lain juga mulai mengurangi penggunaan kantong plastik di antaranya Filipina, Australia, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia, Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Singapura, sejak April 2007 telah berlangsung kampanye “Bring Your Own Bag” (bawa langsung kantong Anda sendiri), digelar oleh The National Environment Agency (NEA).

Pemerintahan China juga telah mengeluarkan rancangan undang-undang (RUU) mengatasi kantong plastik dan reaksi yang telah disiapkan antara lain pelarangan penggunaan tas plastik di departement store.

Para pembeli akan dikenakan bayaran untuk kantong plastik dan akan diberlakukan standardisasi produksi tas plastik.

Berbagai alasan itulah yang mendorong Beni Chandra memulai perlawanan terhadap limbah plastik di Indonesia. Baginya bahaya plastik harus disulap menjadi sesuatu yang mendatangkan lebih banyak berkah.

Adopsi Eco-Green
Kementerian Koperasi dan UKM sejak jauh-jauh hari menyatakan siap mengakomodasi pelaku UKM berbasis ramah lingkungan seperti yang dijalankan Beni Chandra.

Institusi itu menyatakan mulai mengupayakan secara bertahap agar produk UKM Indonesia mulai berbasis eco-green agar lebih mudah menembus pasar ekspor.

“Kami mulai mendorong pelaku UKM agar memproduksi barangnya dengan menerapkan konsep eco-green yang lebih ramah lingkungan,” kata Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim.

Hal itu menurut Neddy Rafinaldi Halim harus mulai dilakukan untuk membuka peluang lebih besar lagi bagi pasar produk UKM yakni pasar ekspor.

Produk berbasis eco-green saat ini banyak diminati berbagai negara maju.

“Oleh karena itu, kami melakukan fasilitasi dan pendampingan kepada sejumlah UKM agar mulai menerapkan konsep eco-green dalam memproduksi barang-barangnya,” kata Neddy.

Salah satu yang dilakukan adalah memberikan perkuatan modal kepada pelaku UKM ramah lingkungan termasuk usaha Beni Chandra melalui skema dana bergulir.

Pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya untuk menerapkan konsep eco-green tersebut termasuk menggandeng Korea Selatan (Korsel) yang selama ini dikenal dengan produk-produk UKM-nya yang ramah lingkungan.

Pihaknya bahkan telah menjalin kesepakatan dengan Korsel untuk bekerja sama dalam penerapan eco-green belum lama ini.

Konsep eco-green merupakan konsep pengelolaan dan produksi material yang diupayakan untuk selalu ramah lingkungan. Korsel merupakan salah satu negara yang sangat concern terhadap pengelolaan produk berbasis eco-green.

“Kami telah sepakat untuk membuat “joint operation” dalam kerja sama eco-green yang akan dikembangkan di Indonesia,” kata Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, belum lama ini.

Menteri Sjarifuddin mengatakan, Korsel telah setuju untuk membantu Indonesia dalam menerapkan konsep eco-green khususnya bagi pelaku UKM di tanah air.

Untuk kepentingan itu, akan segera dibuka kantor perwakilan dan pemasaran bersama di Indonesia.

“Teknologi eco-green ini harus mulai kita adopsi karena erat kaitannya dengan pemeliharaan lingkungan, penggunaan material berbasis daur ulang, penghematan bahan bakar, hingga pendiversifikasian energi,” katanya.

Korsel setuju untuk membiayai proyek percontohan penerapa konsep eco-green di Indonesia khususnya dalam bidang UKM sekaligus pemasaran produk UKM berbasis eco-green yang ramah lingkungan.

“Kita harapkan konsep seperti ini bisa dilaksanakan di Indonesia,” kata Menteri Sjarifuddin Hasan. Dengan demikian diharapkan Indonesia akan melahirkan semakin banyak Beni Chandra yang mampu menyulap sampah menjadi berkah.
(H016/A011)

Sumber:
AntaraNews.com
Selasa, 19 Oktober 2010 01:09 WIB