Kementerian Lingkungan Hidup

Republik Indonesia

Jakarta, 30 Oktober 2013. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia menyelenggarakan Lokakarya Nasional den gan tema “KEANEKARAGAMAN HAYA TI SEBA GAI MODAL DASAR PEMBANGUNAN” di Jakarta pada tanggal 30 – 31 Oktober 2013. Penyelenggaraan Lokakarya Nasional ini, dalam rangka mempersiapkan bahan masukan kepada Presiden Republik Indonesia mengenai pengelolaan keanekaragaman hayati (kehati) di Indonesia pada National Summit on Biodiversity pada puncak perayaan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013.

Lokakarya Nasional dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dan menghadirkan Prof. Dr. Emil Salim dan Menteri  Perencanaan Pembangunan Nasional sebagai keynote speaker serta 54 pembicara dan pemakalah dari berbagai kalangan, yaitu Kementerian/Lembaga, DPR-­‐RI, Akademisi, Peneliti, Praktisi dan Dunia Usaha. Sekitar 300 peserta lokakarya juga berpartisipasi yang terdiri dari perwakilan Kemeterian/Lembaga, Akademisi, Peneliti, Praktisi dan Dunia Usaha. Para peserta Lokakarya Nasional akan mengikuti diskusi pada 5 tema working group , yaitu: (1) KekayaanHayati Indonesia; (2) Kehati Dan Ekonomi Hijau; (3) Keanekaragaman hayati Pasca 2014; (4) Keanekaragaman Hayati Untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim: dan (5) Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Keanekaragaman Hayati .

Pertemuan ini bertujuan untuk: (i) mengumpulkan data dan sumber data keanekaragaman hayati (kehati) dan pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik serta pengembangan jejaringnya; (ii) menghimpun masukan untuk pengelolaan keanekaragaan hayati 2014; dan (iii) sosialisasi keanekaragaman hayati kepada seluruh pemangku kepentingan lainnya.

Indonesia merupakan salah satu negara pusat keanekaragaman hayati dunia dan hal ini dapat terlihat dari kekayaan berupa sekitar 12% (515 spesies, 39% endemik) dari total spesies binatang menyusui, urutan kedua di dunia; 7,3% (511 spesies, 150 endemik) dari total spesies reptilia, urutan keempat di dunia 17% (1531 spesies, 397 endemik) dari total spesies burung di dunia, urutan kelima 270 spesies amfibi, 100 endemik, urutan keenam di dunia 2827 spesies binatang tidak bertulang belakang, selain ikan air tawar. Selanjutnya, Indonesia memiliki 35 spesies primata (urutan keempat, 18% endemik), dan 121 spesies kupu-­‐kupu (44% endemik), serta memiliki lebih dari 38.000 spesies tumbuhan, 55% diantaranya endemik. Bahkan sekarang ini seiring dengan berkembangnya teknik biologi molekuler, rahasia potensi yang dimiliki setiap makhluk hidup dapat diungkap secara lengkap sehingga kekayaan keanekaragaan hayati menjadi sangat berharga terutama sebagai sumber daya genetik.

Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam pidato pembukaannya menyampaikan “Sudah saatnya Indonesia sebagai Megadiversity Country dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa menegaskan kembali bahwa peningkatan dan pemeliharaan serta pemanfaatan Keanekaragaman Hayati merupakan modal dasar pembangunan seperti yang tertuang dalam Rencana Perencanaan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN 2010-­‐1014. Untuk itu, perlu langkah-­‐langkah strategis yang konkrit seperti (i) men garusutamakan kehati dalam kebijakan dan program semua kementerian/lembaga terkait, (ii) men garusutamakan kehati dalam kebijakan dan program otonomi daerah, (iii) memban gun pemahaman arti penting kehati, (iv) memban gun tata kelola pemerintahan yang mendukung kehati, (v) mendorong partisipasi masyarakat, (vi) mendukung pengembangan penelitian, pendidikan dan komunikasi kehati serta (vii) men yediakan infrastruktur ketersediaan data dan informas di pusat dan daerah.”

Oleh karena itu, bertepatan dengan Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa (HCPSN) 2013 setiap 5 November, Menteri Lingkungan Hidup, menyampaikan bahwa Peringatan HCPSN 2013 menjadi gerakan nasional untuk mengingatkan pentingnya pelestarian puspa dan satwa. Sejalan dengan itu, maka Lokakarya Nasional ini berupaya untuk:
(i)    membangun kesepahaman dan kesepakatan bersama mengenaipentingnya kehati ,
(ii)    menjalin komunikasi dan pertukaran informasi kehati di antara para ilmuwan, serta (iii) menyusun rum usan konseptual dan konkrit untuk membentuk wadah strategis pen gelolaan keanekaragaman hayati.

Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 2013 merupakan rangkaian kegiatan dalam mengisi Biodiversity Decade 2010-­‐2020 yang ditetapkan oleh PBB untuk mendukung tercapainya target global penurunan kemerosotan keanekaragaman hayati pada tahun 2020 (Aichi Target). Peringatan HCPSN 2013 juga sejalan dengan penetapan International Year for Biodiversity dimana tema pada tahun 2013 adalah water and biodiversity yang mengajak semua pihak untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan sumber-­‐sumber air.

Pada tahun 2013, tema HCPSN adalah: Puspa dan Satwa Sahabat Kita Bersama, “Stop” Kepunahannya. Sedangkan Puspa dan Satwa yang terpilih sebagai icon HCPSN 2013 adalah Pohon Sagu (Metroxylon sago) dan Hiu Gergaji (Pristris microdon). Pohon sagu merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang memiliki manfaat sebagai sumber karbohidrat dan sumber pangan bagi penduduk Indonesia terutama di bagian timur. Hiu gergaji merupakan hewan endemik di Danau Sentani dan saat ini masuk dalam kategori hewan terancam punah menurut IUCN.

untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi MENLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan Iklim, Kementerian LIngkungan Hidup,
Tlp/Fax: 021-­‐85904923,
Email: balaikliringkehati@yahoo.co.id
cc.: humaslh@gmail.com