KEARIFAN SUKU KUBU

Bila dilihat fisiknya keadaan Suku Kubu memang kumal dan dianggap tidak punya peradaban dan tidak punya masa depan, hidup mereka sangat sederhana. Orang modern memandang mereka sebelah mata, malahan bagi segelintir orang yang mementingkan keuntungan, mereka dianggap sebagai penghalang. Karena mereka menghuni hutan yang bagi segelintir orang merupakan lahan untuk mengeruk keuntungan. Padahal keberadaan Suku [...]

21 Dec 2002 05:39 WIB

Bila dilihat fisiknya keadaan Suku Kubu memang kumal dan dianggap tidak punya peradaban dan tidak punya masa depan, hidup mereka sangat sederhana. Orang modern memandang mereka sebelah mata, malahan bagi segelintir orang yang mementingkan keuntungan, mereka dianggap sebagai penghalang.

Karena mereka menghuni hutan yang bagi segelintir orang merupakan lahan untuk mengeruk keuntungan. Padahal keberadaan Suku Kubu sangat membantu dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, terutama di hutan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, baik di laut maupun di darat. Khusus di daratan Indonesia merupakan paru-paru dunia karena mempunyai banyak hutan tropis yang sangat berguna dan bermanfaat bagi lingkungan. Namun keadaan ini akan sirna dalam beberapa puluh tahun ke depan karena penebangan hutan terus dilakukan dan tanpa dipikirkan adanya reboisasi untuk menjaga kelangsungan lingkungan hidup di hutan tersebut.

Mungkinkah kita akan mewariskan kepada anak cucu kita berupa hutan yang tidak berguna dan gundul disana-sini, ataukah kita akan mewariskan banjir yang akan datang setiap musim hujan atau kemarau yang panjang ketika musim kemarau. Tentu hal ini jangan sampai diwariskan kepada anak cucu kita.

Adanya masyarakat modern justru membuat hutan kita akan tambah menderita, tapi kita juga bisa berbangga hati karena masih ada kearifan adat masyarakat lokal tradisional telah menjaga kelestarian sumber daya hutan. Hingga suku-suku minoritas yang masih tinggal di dalam hutan dan pinggir-pinggir sungai besar pedalaman.

Hutan tropis Indonesia tak hanya kaya aneka ragaman hayati. Hutan-hutan tropis Indonesia juga merupakan rumah bagi kelompok-kelompok masyarakat lokal tradisional yang hidupnya tidak pernah mencemari lingkungan, bahkan mereka dengan setia menjaga kelestarian hutan tersebut tanpa imbalan apa-apa. Di pedalaman hutan taman nasional Bukit 12 (duabelas) Jambi contohnya, di sini tinggal kelompok masyarakat tradisional yang di kenal dengan sebutan Suku Kubu. Di pedalaman hutan taman nasional Bukit 30 (tiga puluh), perbatasan Jambi dan Riau tinggal kelompok yang hampir sama dengan Suku Kubu. Orang di luar komunitas masyarakat lokal tradisional ini menyebut mereka Suku Talangmama.

Di pedalaman hutan Sulawesi Tengah masyarakat tradisional ini dikenal dengan nama Suku Wana. Kelompok-kelompok masyarakat lokal tradisional ini lebih senang menyebut diri mereka dengan nama “Orang Rimba ” atau ” Putra Gunung “. Sebutan itu mereka rasa lebih cocok untuk menunjukkan jati diri mereka. Perilaku mereka memang aneh dan tidak masuk akal bagi masyarakat modern, tapi dibalik semua itu disadari atau tidak bahwa merekalah yang menjaga hutan dan lingkungan hutan di Indonesia.

Berpuluh-puluh tahun orang rimba hidup di hutan, mereka memanfaatkan sumber daya hutan di lingkungannya dengan tetap menjaga siklus pertumbuhan hutan. Alam bukanlah untuk digasak habis-habisan, begitulah prinsip orang rimba memanfaatkan anugerah yang diberikan Yang Maha Kuasa. Perilaku menjaga alam terpola melalui kebiasaan hidup mereka, diantaranya pantang bagi mereka untuk menebang tunas-tunas muda dan pantang untuk mencemari air sungai. Pola hidup ini terus diturunkan kepada anak-anak mereka, apabila melanggar tentu sanksi yang dilakukan oleh kepada adat atau kepada suku sangat mengerikan yaitu tidak boleh bergabung dengan kelompok mereka. Tega memang tapi tetua adat sebenarnya telah mengajarkan betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup mereka untuk kelangsungannya.

Dari kearifan itulah mereka dapat tetap hidup dari generasi ke generasi tanpa kekurangan bahan makanan dan sumber obat-obatan. Namun kesempurnaan hidup orang rimbapun terusik oleh hiruk pikuk pembangunan yang kini menyentuh habitat hidup orang rimba. Pepohonan dan aneka tumbuh-tumbuhan obat-obatan hilang seketika saat gergaji listrik mulai beraksi. Kayu-kayu yang sudah berpuluh-puluh tahun bertengger dalam sekejap telah rata menjadi hutan rusak, binatang pun lari tunggang langgang untuk mencari tempat baru bagi kehidupannya. Para predator kehilangan mangsanya dan mereka pun berani menjarah kampung-kampung untuk mencari makan. Hutan kini menjadi sempit dan orang dalam pun ikut terjepit.

Hal itu terjadi karena masyarakat di luar komunitas orang rimba membutuhkan lahan untuk mendirikan rumah dan membuka ladang untuk perkebunan dan kayu dari pohon-pohon ini. Suku-suku tradisional yang dulunya kaya akan lahan dan sumber daya alam tiba-tiba menjadi miskin. Mereka sulit mendapatkan sumber makanan dan bahan obat-obatan seperti dulu. Hal ini dikarenakan habitat hidup mereka yang kian mengecil dan kehidupan merekapun terhimpit aktivitas pembangunan modern.
Meskipun demikian harus diakui kesederhanaan pola hidup orang rimba telah berhasil menjaga kesinambungan lingkungan hutan dan alam sekitar tempat hidup mereka. Padahal kalau kita lihat fisik mereka yang kumal, malahan kadang tidak berbaju kita merasa menganggap mereka orang yang tidak punya peradaban atau orang terbelakang. Padahal di balik kesederhanaan, mereka seharusnya diberi penghargaan, karena mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa merusak hutan akan merugikan mereka sendiri. Padahal orang modern menganggap kehadiran mereka yang tradisional masih dipandang sebelah mata.

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor