KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

(JKT-26102010) Setelah bekerja bahu-membahu, Tim KLH dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau, Masyarakat Peduli Api (MPA), Manggala Agni (MA) Kementerian Kehutanan dan Tim Reaksi Cepat (TRC) Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi di bawah koordinasi Bupati Bengkalis Provinsi Riau akhirnya berhasil MENGUPAYAKAN pemadaman api di PERMUKAAN di Dusun Sejati, Desa Sepahat, Kecamatan Bukit Batu Bengkalis pada tanggal 23 Oktober 2010. Seperti dilaporkan masyarakat, titik api itu menyala sejak 10 Oktober 2010. Meskipun telah padam, sejumlah anggota MPA masih berada di lokasi untuk memantau dan menjaga agar tidak terbakar kembali.

Lokasi kebakaran itu mendapat prioritas perhatian utama saat ini karena banyaknya lokasi titik api yang tersebar di kawasan itu, sifat lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan, serta asap hasil kebakaran yang dihasilkan berpotensi menjadi sumber pencemaran asap lintas batas negara.

 

Permasalahan utama yang memicu kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau basah adalah karena curah hujan yang rendah, lahan bergambut, dan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, dengan anggapan bahwa abu hasil pembakaran dapat membuat subur lahan. Selain itu alasan ekonomis juga menjadi pemicu untuk melakukan pembakaran.

 

Sementara itu, upaya pencegahan belum efektif karena berbagai kendala seperti masalah koordinasi, kapasitas regu pemadam, ketersediaan prasarana dan sarana, dan masalah pendanaan.

Berkenaan dengan itu, menurut Tim KLH, upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan perlu dilanjutkan secara berkesinambungan dengan upaya jangka pendek, jangka menengah dan panjang dan penegakan hukum.

Yang dapat dilakukan dalam jangka pendek adalah: (i) melakukan peninjauan kembali atas status lahan, (ii) penguatan kapasitas MPA dalam rangka deteksi dini kebakaran hutan dan lahan, dan penanggulangan dini secara cepat, (iii) koordinasi antar instansi di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten, (iv) peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kelembagaan, prasarana dan sarana pemadam kebakaran, dan (v) pendanaan yang memadai.

Pada jangka menengah dan jangka panjang, perlu dilakukan upaya-upaya: (i) meningkatkan kampanye dan edukasi masyarakat, (ii) pembuatan sekat bakar di lokasi rawan kebakaran, (iii) mengembangkan tata air (water management) di lahan gambut, (iv) membentuk dan mengaktifkan Posko Kebakaran Hutan dan Lahan, (v) melaksanakan langkah-langkah penegakah hukum, dan (vi) mengkaji kebutuhan dan permintaan pasar terhadap komoditas perkebunan dan pertanian.

Sementara itu, Penyidik Lingkungan Hidup secara terus-menerus harus melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket), dan dilakukan upaya penegakan hukum terhadap pelakunya. (Tim KLH).

Informasi:
Asdep Komunikasi LIngkungan
Kementerian Lingkungan Hidup R.I.