KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 3 Juni 2014. Hari ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui ASEAN Peatland Forest Project (APFP) bekerjasama dengan Wetlands International-Indonesia (WI-I)  menyelenggarakan seminar/dialog dengan para investor dan Perbankan di Indonesia terkait isu keberlanjutan usaha perkebunan di lahan gambut dan dampaknya terhadap kredit perbankan jangka panjang. Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari IBCSD (Indonesian Business Council for Sustainable Development) yang mempunyai perhatian khusus terhadap investasi yang berkelanjutan di masa mendatang (investment for sustainable future). Acara ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Darat Kementerian Lingkungan Hidup, Ir. Hermono Sigit mewakili Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim.

Seminar dan dialog ini menjadi penting karena salah satu penyebab laju kerusakan maupun kebakaran di lahan gambut dipicu oleh investasi di bidang perkebunan. Lahan gambut adalah lahan yang bersifat ‘fragile’ / rapuh, topografi lantai dasar lahan ini berupa cekungan (umumnya tidak jauh dari pantai) yang berisikan timbunan bahan (sampah) organik dari berbagai tumbuhan yang hidup ribuan tahun dimasa lalu.   Muka air tanah (ground water level) di lahan gambut yang belum dibuka, berada dekat dengan (bahkan menggenangi) permukaan gambut, dan ini bersifat alami serta terjadi saat musim hujan dan kemarau. Hanya tanaman asli gambut (yang sudah beradaptasi dengan kondisi genangan seperti ini) yang dapat tumbuh di atasnya (seperti Ramin, Jelutung dan Rotan).  Sedangkan kelapa sawit dan akasia, bukan merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi seperti ini. Usaha/bisnis sawit memang sangat menggiurkan, sebagai akibat tingginya permintaan pasar dunia akan CPO.

“Perlunya keseimbangan baru dari semua elemen, untuk melindungi lingkungan dari kerusakan sekaligus mengakomodir kepentingan green consumer, salah satunya adalah penghitungan nilai manfaat dan resiko lingkungan terhadap investasi yang ditanamkan”, demikian ditegaskan Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim.

Kegiatan seminar/dialog ini bertujuan untuk:

  • Menyebarluaskan informasi terkait kebijakan dan berbagai permasalahan di lahan gambut serta dampaknya terhadap keberlanjutan  usaha perkebunan di atasnya.
  • Memperkaya pengetahuan pihak perbankan dalam melakukan studi kelayakan sebelum menyetujui pemberian pinjaman sekaligus membangun kesadaran akan resiko yang dapat ditimbulkan akibat pemberian kredit terhadap perusahaan-perusahaan perkebunan yang beroperasi di lahan gambut

Target utama yang diharapkan dapat dicapai dalam seminar ini adalah tersampaikannya informasi kepada pihak Perbankan terkait permasalahan lahan gambut bagi keberlanjutan usaha perkebunan di Indonesia serta dampaknya terhadap kredit yang diberikan. Secara spesifik keluaran yang diharapkan dari seminar ini adalah: Adanya partisipasi aktif dari pihak perbankan dalam upaya membantu menyelamatkan lahan gambut di Indonesia, diantaranya dengan mempertimbangkan  kembali pemberian kredit untuk investasi di lahan gambut sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia (merujuk kepada Inpres Moratorium No.6/2013)

Untuk informasi lebih lanjut:
Ir. Hermono Sigit,
Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Darat
Kementerian Lingkungan Hidup.
Telp : 021-8514771