KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Lapangan Losari Solo, 18 Juni 2013. Ketika Gesang menciptakan lagu keroncong Bengawan Solo pada tahun 1940, sungai ini digambarkan sebagai … ”pusat perhatian semua orang.Musim kemarau, tak seberapa airnya, di musim hujan air meluap sampai jauh. Mata airmu dari Solo, terkepung gunung seribu, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut.Itu perahu, riwayatmu dulu, kaum pedagang slalu naik itu perahu”. Dari lirik yang diciptakan 69 tahun yang lalu, terungkap bahwa Bengawan Solo adalah pusat dinamisme yang menghidupkan. Air berkurang di musim kemarau, tetapi berlimpah di musim hujan hingga mencapai laut. Para pedagang dengan perahu menjadikan Bengawan Solo sebagai sarana perdagangan.Hal ini berbeda jauh dibandingkan pada saat Gesang menciptakan lagunya, sekarang banjir setiap musim hujan selalu melanda seluruh wilayah yang dilalui Bengawan Solo, dan menjadi bukt bahwa sungai ini telah kehilangan fungsi sebagai sumber kehidupan.Padahal sejarah peradaban manusia memperlihatkan dengan jelas bahwa sungai merupakan episentrum kehidupan dan peradaban, di banyak negara lain selalu menerjamahkan sungai sebagai sumber kehidupan insani melalui istilah yang menggugah, yaitu river for life. Dengan dijulukinya sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa yang mencapai 600 km, dengan luas daerah pengaliran sebesar 16.000 km2, atau luasnya mencapai 12 persen dari luas pulau Jawa dan melewati sebelas kabupaten/kota di Jateng dan Jatim. 

Wilayah alirannya mulai dari daerah hulu di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah sampai daerah hilir di Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur dan bermuara di Laut Jawa tentunya semua kita berpikir berapa kehidupan yang dapat disejahterakan dengan kehadirannya, dimana pada masa lalu kondisi Bengawan Solo airnya tampak jernih, banyak dijumpai adanya lubuk yang dalam, aliran airnya tenang dan tidak terlalu deras. Dengan kondisi demikian banyak ditemukan adanya biota air.

Namun kondisi Bengawan Solo saat ini jauh berbeda, aliran airnya berubah menjadi deras dan sudah tidak lagi ditemukan adanya lubuk yang dalam, hal ini diakibatkan adanya proses erosi yang berakibat pada pedangkalan aliran air sungai, alih fungsi lahan, menjadi tempat sampah terpanjang dipulau jawa dan senantiasa mengundang bencana disetiap musim hujandan pada musim kemarau masyarakat sekitar kerap kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Disamping itu tercemar berat oleh banyak limbah domestik (rumah tangga), peternakan dan industri (hasil biotilik, mei 2013).Dari cerita panjang atas permasalahannya banyak mengundang keprihatinan maupun perhatian dari semua pihak sehingga perlu diperbaiki dan bahasa ekstrimnya perlu diselamatkan.

Adalah Forum Peduli DAS Solo dengan melibatkan semua pihak melaksanakan Pekan Aksi Peduli DAS Solo, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sejak tanggal 12 mei 2013, antara lain: Lomba Foto tidak ramah Lingkungan, Pemilihan Duta Lingkungan, Pameran ECO-Creative, dan pada puncaknya dilakukan pada tanggal 18 Juni 2013. Dengan mengelar gerakan aksi DAS Solo Nol Sampah yang menghasilkan 3 Ton sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat selama 2 jam di sekitar 2 KM bantaran Losari, kemudian dilanjutkan dengan acara serimonial HLH 2013 Provinsi Jawa Tengah di Lapangan Losari Solo yang melibatkan 1500 masyarakat dari berbagai pihak antara lain LSM di Se-Karasedenan Surakarta, Budayawan, Tokoh Agama, Perguruan Tinggi, Sekolah di Eks Karesedanan Surakarta. Pada acara puncak HLH 2013 dilakukan beberapa kegiatan antara lain Pameran Eco-Creatif dari BLH Se-Solo Raya, Final Duta Lingkungan, Cerdas Cermat Lingkungan Hidup, penganugerahan Kalpataru Provinsi Jawa Tengah, Penganugerahan Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah.

Ada keyakinan dari semua pihak bahwa DAS Solo diyakini bisa diperbaiki yang diawali dengan menggugah kesadaran dari semua pihak untuk peduli dan berjanji untuk selalu peduli dan memeliharanya yang diawali dengan Ikrar Penyelamatan sungai Bengawan Solo yang dilakukan oleh Tokoh-tokoh agama, Sekolah-sekolah di Karesidenan Surakarta, Kaukus LH Provinsi Jawa Tengah, BLH Se-Solo Raya, yang dibacakan secara bersama-sama oleh perwakilan para pihak, Ikrar tersebut antara lain: Ikrar Penyelamatan DAS Bengawan Solo yang disampaikan oleh para tokoh masyarakat dan budaya Se-Solo Raya,adapun ikrar yang disampaikan antara lain: Budaya Lingkungan, Budaya yang Menghargai Sungai, dalam ikrarnya dimana diharapkan peran peran strategis yang bisa di ambil para agamawan dan tokoh agama di Kota Solo untuk bersama-sama memberi suatu “ Pencerahan pada umatnya, untuk mempunyai sikap ramah pada lingkungan dan menghargai keberadaan sungai Bengawan Solo”. Ibarat di menara gading , bagi para agamwan dan tokoh-tokoh agama yang selalu berkutat pada penyelesaian konflik agama.Tetapi persoalan lingkungan Hidup di mana kita hidup, telah menjadi nomer kesekian, mereka lupa bahwa di dalam semua agama dan keyakinan mengajarkan perilaku yang ramah lingkungan. Hal tersebut sesungguhnya telah di yakini oleh sebagian besar umat manusia sebagaimana terdapat ajaran agama bahwa kerusakan alam di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia ( Islam ), sebagai penguasa alam namun tidak bertanggungjawab  (Kristen&Katolik), yang sedang mengalami kegelapan batin (Budha) dan tidak menghargai Ibu Pertiwi (Hindu) , sehingga berkurangya perasaan menyatu dengan alam (Konghucu). Keserasian hubungan manusia dengan alam lingkungan sungai harus di tumbuhkan dengan menyadari bahwa Sungai Bengawan Solo adalah “ WEB OF LIFE “ ciptaan Illahi. Pada akhirnya merubah perilaku dan sikap yang tidak ramah pada sungai Bengawan Solo dapat di lakukan. Ikrar yang pimpin Sdr. Jlitheng Suparman, seorang budayawan dengan khidmah dan diikuti oleh semua peserta yang hadir yaitu: Anggota DPD RI, Kepala BLH Provinsi, Ketua DPRD Provinsi, Ketua Kaukus LH Provinsi Jawa Tengah, Kepala PPE Jawa, Kepala BLH Se-Solo Raya, Siswa dan Mahasiswa Se Solo Raya, LSM Pemerhati Lingkungan Se-Solo Raya dan Para Rohaniwan dan Budayawan Se-Solo Raya. Akankah, sungai bengawan solo akan kembali sediakala seperti saat Gesang menciptakan lagu Bengawan Solo! hanya tindakan nyata dari semua yang akan bisa menjawabnya.

Sumber:
Widodo Sambodo,
Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan
Telpon/Faks: 021-85904919

Illustrasi Foto: Erwinsyah (Peserta Pameran Foto Lingkungan 2011)