KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sampai saat ini belum menghitung jumlah kerugian yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan pada periode Agustus 2005 yang terjadi di daerah Sumatera dan Kalimantan.

“Kalau jumlah kerugian belum ada, tapi yang ada (kerugian) kasus per per kasus. Jadi kompilasi dari tiap perkara yang mengharuskan kita melakukan penilaian,” kata Deputi Penaatan Lingkungan KLH, Hutomo MPA di Jakarta, Rabu.

Hutomo yang didampingi oleh Meneg LH Rachmat Witoelar, mengatakan, KLH akan melakukan kompilasi data kerugian dari setiap kasus kebakaran hutan yang sudah terbukti.

“Kita akan melakukan kerja sama dengan IPB Bogor terutama untuk kasus kebakaran di Riau. Kita akan undang mereka dalam rangka valuasi (penilaian) peta kerugian pada 15 September,” kata Hutomo.

KLH memerlukan ahli untuk menghitung kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan yang didasarkan oleh fakta di lapangan yang nantinya dapat dibuktikan di pengadilan.

Sementara itu, sebuah riset disertasi doktoral dari Lukman Yunus, mahasiswa IPB Bogor mengungkapkan, Indonesia mengalami kerugian mencapai Rp91 miliar atas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sejak Agustus 2002 – Desember 2003.

“Total kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 yaitu sebesar Rp53,91 miliar dengan kerugian rata-rata Rp4,17 juta per Ha.

Sementara kerugian pada 2003 melonjak 69,48 persen dengan total kerugian Rp91,38 miliar atau Rp7 juta per Ha,” kata Lukman.( * )

Sumber Berita:
Antara News