KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengklaim dibidang pengendalian kerusakan lingkungan berhasil menurunkan jumlah titk api (hotspot) lebih dari 70 persen dibandingkan 2009.

“Hotspot turun lebih dari 70 persen dari 15.000 titik dihitung berdasarkan data acuan 2006,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, di Jakarta, Jumat.

Dalam konferensi pers terkait satu tahun pengelolaan lingkungan hidup Kabinet Indonesia Bersatu II, ia mengatakan, target penurunan hotspot setiap tahun yang harus dicapai 20 persen optimis dicapai pada akhir 2010.

“Kami optimis memasuki akhir tahun hotspot terus berkurang karena musim hujan, target 20 persen akan tercapai,” katanya.

Penurunan hotspot tersebut juga karena upaya yang dilakukan KLH bersama pemerintah daerah serta mensosialisasikan kepada masyarakat cara pertanian yang tidak merusak lingkungan.

KLH juga menurutnya melakukan tata kelola air (water management) di lahan gambut sehingga bisa mengurangi kebakaran lahan.

Pengendalian hotspot terutama dilakukan di delapan propinsi rawan kebakara,n yaitu Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Menurut dia, yang menjadi kewajiban KLH untuk mengendalikan hotspot hanya di enam propinsi yaitu empat di Sumatera dan dua di Kalimantan.

“Kami tambah menjadi delapan propinsi karena kami anggap rawan,” tambahnya.

Ia menambahkan, munculnya hotspot disebabkan karena sulitnya pengawasan sebab wilayah Indonesia yang luas dan masih maraknya pembukaan lahan pertanian secara tradisional dengan membakar lahan.
(T.D016/P003)

Sumber:
AntaraNews.com
Jumat, 22 Oktober 2010 20:03 WIB