KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

"Udara Tercemar Karena Kemacetan Lalulintas"

SAAT ini, sistim transportasi di indonesia khususnya di perkotaan masih berbasis jalan raya, dengan tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 12% per tahun. Buruknya sarana transportasi umum di sebagian besar kota di Indonesia menyebabkan penggunaan kendaraan pribadi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disampaikan dalam Konfrensi  Pers Evaluasi Kualitas udara dalam Konteks Transportasi Berkelanjutan di Hotel Grand Kemang Jakarta minggu lalu yang dihadiri oleh Menteri negara lingkungan hidup (Men LH) Ir. Rachmat Witoelar.

Jadi masalah peningkatan volume lalulintas selalu tidak sebanding dengan infrastruktur yang ada. Akibatnya terjadi kemacetan lalulintas. Dampak langsung dari kemacetan lalulintas itu jelas adalah pemborosan bahan bakar dan pencemaran udara dari emisi gas buang kendaraan bermotor.

Sementara Prof Ofyan Tamin, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga berbicara dalam jumpa pers ini, melihat masalah pencemaran udara sebagai dampak dari urbanisasi akibat pertumbuhan ekonomi yang masih terpusat di kota-kota. "Diperkirakan pada tahun 2018, penduduk diperkotaan mencapai 52% dari sekitar 270 juta jiwa penduduk perkotaan, tanpa diimbangi dengan perbaikan infrastruktur jalan niscaya menimbulkan masalah pencemaran karena kemacetan lalulintas, "katanya.

Pada jumpa pers ini Kementerian negara Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan bahwa, dari data 2006 yang diperoleh melalui uji petik/spot chek di 6 kota besar, yakni, Yogyakarta, Denpasar, Surabaya, balikpapan, Makasar dan Jakarta ditemukan kendaraan berbahan bakar bensin, kurang lebih 50% tidak memenuhi ambang batas, sementara berbahan bakar solar hampir 90% tidak memenuhi ambang batas.

Pada tahun 2007, KLH akan mengevaluasi 10 kota metropolitan dan 1 kota besar, kualitas udara akan diukur melalui kreteria transportasi berkelanjutan a.l. memantau kualitas udara jalan raya, uji emisi kendaraan, kerapatan dan kemacetan lalu lintas, dan pengisian data nonteknis.

Transportasi berkelanjutan.
Mengatasi masalah tersebut, ungkap Deputi MenLH, Gempur Adnan, harus ada perubahan paradigma oleh pelaku usaha transportasi darat dan pengguna jalan dalam mengembangkan sistem transportasi ke depan. Yakni melalui kriteria transportasi berkelanjutan yang sudah disusun KLH. Konsep yang mengemuka dalam perubahan paradigma tersebut adalah melalui konsep transportasi berkelanjutan guna mencapai sasaran udara bersih. Konsep ini berupaya mewujudkan suatu sistem transportasi yang menggunakan sumberdaya ekonomi secara efisien  serta dapat berampak ganda dalam mitigasi gejala perubahan iklim dunia.

Sementara Asisten Deputi Urusan Pengendalian Emisi Sumber Bergerak, Ridwan D. Tamin menjelaskan bahwa evaluasi kualitas udara di perkotaan berguna untuk memberikan gambaran kepada masyarakat dan pemerintah daerah sebagai pengambil keputusan mengenai betapa buruknya kualias udara saat ini sehingga dapat diambil langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas udara di perkotaan. Selain itu merupakan laporan kepada publik mengenai kondisi udara di perkotaan Indonesia. KSP 06/04

Rachmat Witoelar:
"Udara Bisa Menjadi Penyebab Punahnya Bumi Ini"

Pemeliharaan udara, bukan hanya persoalan Indonesia, tapi menjadi masalah dunia, sebab udara tidak mengenal batas negara. "Pemeliharaan udara menjadi program terpenting dari semua program terpenting dari semua program di lingkungan hidup," demikian ditegaskan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmad Witoelar kepada pers beberapa hari lalu di hotel Grand Kemang Jakarta.

Hasil pertemuan 2.500 ilmuan dunia, Rachmat mengatakan bahwa udara dikuasai manusia, bila manusia terus berulah maka dalam kurun 70 hingga 100 tahun bumi ini akan tenggelam.

Seluruh dunia wajib melakukan berbagai upaya untuk mengulur kepunahan bumi demi anak cucu kita di masa mendatang. Revolusi industri yang awalnya dipandang sebagai langkah memperbaiki taraf hidup manusia ternyata justru merusak bumi. Walaupun tidak melakukan apapun juga bumi akan terus berubah. Di perkotaan sumber emisi paling tinggi adalah dari kendaraan bermotor karena pabrik-pabrik sebagian besar berlokasi di luar kota sehingga langkah paling mudah menyelamatkan bumi di perkotaan adalah dengan mengurangi emisi kendaran bermotor. KSP 06

Sumber Berita:
Koran Surya Pagi
edisi 24-30 April 2007
Hal : 10