KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Tarakan, 29/1/2011 – Kementerian  Lingkungan Hidup akan melakukan  penelitian adaptasi di Kota  Tarakan, Kalimantan Timur untuk  mengetahui sejauh mana dampak  dari perubahan iklim terhadap  permukaan laut.

“Kita ingin mengetahui sejauh  mana naiknya permukaan air laut.  Kalau naiknya permukaan laut 0,3 milimeter/tahun, maka selama  sepuluh tahun harus hati-hati  dan perlu diantisipasi.  Karenanya perlu penelitian,”  kata Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Gusti Muhammad Hatta di  sela-sela Penanaman Sejuta Pohon  di Kota Tarakan, Kaltim, Sabtu.

 

Selain itu, lanjut dia, pihaknya  juga ingin mengetahui sejauh  mana sumur-sumur kering bila  terjadi musim kemarau, sehingga  perlu dibuat embung-embung dan  sejauhmana parahnya banjir bila  terjadi musim hujan.

 

KLH akan mulai melakukan  penelitian adaptasi pada  Februari 2011 mendatang dengan  menurunkan beberapa orang  peneliti.

“Saya belum tahu berapa jumlah  orang yang meneliti. Mereka akan  mencari tempat yang cocok untuk melakukan penelitian di Kota  Tarakan,” tuturnya. Selain di Kota Tarakan, lanjut  MenLH, KLH juga akan melakukan  penelitian adaptasi di  Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut MenLH, Kota Tarakan  merupakan wilayah kepulauan,  sehingga sangat sensitif bila  terjadi perubahan iklim. “Kalau air laut naik, maka Kota  Tarakan bisa tenggelam sehingga  perlu diantisipasi dengan  menjaga kawasan hijau,”  tuturnya.

Gusti menjelaskan, dengan  menjaga kelestarian kawasan  hijau melalui penanaman pohon  bisa mengurangi emisi gas rumah  kaca sekitar 26 persen pada 2020  nanti.

“Tingginya suhu panas saat ini  karena tingginya jumlah emisi  gas rumah kaca. Ini perlu  dikurangi guna mengantisipasi  pemanasan global,” tambahnya. (YN)

Sumber:
Asdep Komunikasi-
Kabid Publikasi dan Kampanye