KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Jakarta, 22 April 2014. Kementerian Lingkungan Hidup kembali menyelenggarakan Media Briefing. Pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan mengenai Program Kampung Iklim (ProKlim) dengan menghadirkan empat narasumber yaitu Alkahfi Sutikno(penggerak kampung iklim dari Rokan Hilir)yang menyampaikan kisah sukses desa Mukti Jaya, Rokan Hilir, Prov. Riau sebagai Kampung Iklim, dan Tulus Sibuea (Kasubid Mitigasi Bencana BPLHD Provinsi Jawa Barat)yang menyampaikan peran pemerintah daerah dalam mendukung Proklim, Ir. Arief Yuwono, MA (Deputi III KLH)dan Dra. Sri Tantri Arundati, MSc(Asdep Mitigasi Perubahan Iklim KLH)yang menyampaikan Program Kampung Iklim.

Media Briefing kali ini bertepatan dengan peringatan Hari Bumi atau Earth Dayyang diperingati setiap tahun pada tanggal 22 April.Hari Bumi tahun ini mengambil tema “Green Cities”.Hari Bumi adalah sebuah gerakan untuk mengajak orang peduli terhadap bumi atau lingkungan hidup kita. Hari bumi juga merupakan perayaan dan penghormatan terhadap planet bumi, rumah satu-satunya tempat tinggal manusia. Gerakan masyarakat ini juga berupaya memasukan isu lingkungan ke dalam agenda politik.

Indonesia, seperti juga negara-negara lain di Asia Tenggara berada di garis depan dalam masalah perubahan iklim. Hilangnya hutan-hutan alam sebagai rumah jutaan makhluk hidup yang menjadi penyeimbang iklim bumi memicu terjadinyagangguan pola cuaca dan menyebabkan banjir besar di beberapa tempat di Indonesia serta intensitas badai yang meningkat. Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, dalam acara National Summit Perubahan Iklim Ke-1 di Bali pada bulan Oktober 2011, telah meluncurkan Program Kampung Iklim (ProKlim). Melalui pelaksanaan Proklim, Pemerintah memberikan penghargaan terhadap masyarakat pada lokasi minimal setingkat RW/Dusun/Dukuh dan maksimal setingkat Kelurahan/Desa yang secara berkesinambungan telah melakukan aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Keberadaan kelompok masyarakat dan tokoh lokal yang mampu berperan sebagai penggerak pelaksanaan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta ketersediaan instrumen pendukung lainnya merupakan faktor penting yang dievaluasi dalam proses penilaian usulan ProKlim.” Demikian disampaikan oleh Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi Bidang Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH.  Pengusulan lokasi ProKlim kepada KLH dapat dilakukan oleh berbagai pihak, baik secara individu maupun kelompok, yang mempunyai informasi bahwa masyarakat di lokasi tertentu telah melakukan aksi lokal yang dapat mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Alkahfi Sutikno menyampaikan berbagai rintangan dalam membuat perubahan di Desa Mukti Jaya namun akhirnya lingkungan tersebut bisa meraih berbagai penghargaan. Melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) berbagai rintangan terutama masalah pertanian dapat diselesaikan dengan penerapan sistem pertanian terpadu dengan peternakan sapi, dimana limbah kotoran sapi digunakan sebagai pupuk, urin sapi sebagai biopestisida, sisa limbah pertanian untuk pakan ternak.

Sebagai perwakilan pemerintah daerah, Tulus Sibuea menjelaskan peran BPLHD dalam mendukung Program Kampung Iklim khususnya yang ada di Provinsi Jawa Barat. Program-program yang terkait Perubahan Iklim telah dibuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Daerah. Provinsi Jawa Barat mendorong kab/kota untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dijadikan proklim. Pada tahun 2012, Desa Mekar Jaya masuk dalam Proklim. Desa ini berhasil membangun satu unitmikro hydro dan mendapatkan bantuan juga dari CSR PLN. Ada pula kegiatan mitigasi berupa perlindungan sumber air, pengamanan hutan, dan penanggulangan bencana.

Di tahun 2012, KLH menerima pengusulan 71 calon lokasi Proklim yang tersebar di 15 Provinsi. Jumlah pengusulan ProKlim tahun 2013 meningkat menjadi 180 lokasi yang tersebar di 14 Provinsi (69 Kab/Kota).  Setiap tahun pada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan evaluasi teknis pengusulan ProKlim, Menteri Lingkungan Hidup menyerahkan Trophy dan dan sertikat ProKlim.Batas waktu pengusulan lokasi ProKlim Tahun 2014  sampai dengan tanggal 5 Juni 2014.
Kegiatan sosialisasi ProKlim  dilaksanakan melalui penyelenggaraan pertemuan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian/Lembaga terkait dan pemerintah daerah.  Selain itu dilaksanakan juga kegiatan peningkatan kapasitas penerima penghargaan ProKlim, dengan tujuan agar tokoh di Lokasi ProKlim dapat berperan sebagai agen pembawa perubahan yang dapat memfasilitasi pengembangan dan penguatan aksi di tingkat lokal. Program ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim sekaligus menahan laju dampak perubahan iklim untuk tidak semakin memburuk.

Pada Media Briefing kali ini, Kementerian Lingkungan Hidup mengundang para jurnalis untuk membuat penulisan tentang ProKlim. Kirimkan tulisan yang sudah dipublikasikan di media cetak dan on-line kepada humaslh@gmail.com, dengan subject: Penulisan ProKlim, sebelum 31 Mei 2014. Penulisan terbaik akan dibawake lokasi salah satu peraih penghargaan ProKlim.

Lampiran profil:

  1. Proklim: Desa Mekar Jaya
  2. Proklim: Desa MuktiJaya

Informasi lebih lanjut hubungi:
Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan Iklim KLH,
telp/fax: 021-85904923,