KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


Ket. Foto: Menteri beserta Pejabat/staf Kementerian Lingkungan Hidup didampingi Walikota Tarakan dan Civitas Akademika Universitas Borneo

Tarakan, 29/1/2011 – Kementerian Lingkungan Hidup serius menangani penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sekitar 26 persen pada 2020 mendatang, antara lain melakukan upaya pengendalian kerusakan hutan, penggunaan energi dan transportasi, serta pengolahan limbah.

“Ada tiga faktor utama tingginya emisi gas rumah kaca, yakni kerusakan hutan dan lahan, penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan dan pembuangan limbah. Ini harus dikendalikan agar emisi gas rumah kaca bisa diturunkan,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup (MenLH) Gusti Muhammad Hatta saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Borneo, Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Jumat.

Lanjutnya MenLH menjelaskan, penanaman satu miliar pohon per tahun bisa menurunkan emisi gas rumah kaca, sehingga target 26 persen pada 2020 diharapkan bisa tercapai. “Saya datang ke Kalimantan Timur, khususnya di Kota Tarakan sebagai dukungan penanaman sejuta pohon di Kaltim agar penurunan emisi gas rumah kaca bisa dicapai, sehingga pemanasan global bisa dikurangi,” katanya.

Penurunan gas rumah kaca di Indonesia bisa diturunkan hingga 41 persen, bila mendapatkan dukungan dari luar negeri. Kalau ada dukungan dari luar negeri, maka penurunan emisi bisa bertambah 15 persen, sehingga bisa 41 persen penurunannya,” kata Gusti.

Selain itu, KLH juga akan bekerjasama dengan Kemenhut, Kemen PU dan Kementan dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan sistem jaringan dan tata air, rehabilitasi hutan dan lahan, pemberantasan pembalakan liar, pencegahan deforestasi dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara dalam pengolahan limbah, KLH akan bekerjasama dengan Kemen PU. Penggunaan energi ramah lingkungan dan transportasi yang efisien juga bisa membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dalam kesempatan itu, Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta didampingi oleh Wali Kota Tarakan Udin Hianggio berkunjung ke Taman Anggrek dan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). “Kawasan Konservasi Mangrove ini sangat baik untuk membantu penurunan emisi gas rumah kaca, selain merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar,” tambah Gusti. (YN)

 

Sumber:
Asdep Komunikasi -
Kabid Publikasi dan kampanye