KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Foto KLH-Video Press Briefing 22 Okt 14 (2)Jakarta, 22 Oktober 2014. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Earth Journalism Network (Internews) dan Society Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) menyelenggarakan Video Press Briefing terkait laporan ke 5 IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Acara ini berlangsung serentak di Argentina, Brasil, India, Indonesia, Nigeria, dan Filipina, antara 13 dan 24 Oktober 2014 dengan harapan akan lebih banyak jurnalis terlibat dalam mengkritisi laporan ini.

IPCC adalah panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia yang terbentuk tahun 1988 oleh World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environmet Programme (UNEP) untuk mengevaluasi risiko perubahan iklim akibat aktivitas manusia berdasarkan pada literatur teknis/ilmiah yang telah dikaji dan dipublikasikan.. Laporan IPCC ke-5 (AR5) diluncurkan dalam 4 paket terpisah selama 2013 dan 2014. Masing-masing memuat ringkasan untuk memandu para pembuat kebijakan. Paket terakhir dari ringkasan tersebut rencananya akan diterbitkan pada 27-31 Oktober 2014 di Kopenhagen, Denmark.

Narasumber pada Video Press Briefing ini Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim KLH, Ir. Arief Yuwono, MA dan pembina SIEJ yang wartawan Tempo Untung Widyanto. Tujuannya untuk mengangkat temuan-temuan iklim yang signifikan bagi Indonesia. Acara dipandu oleh Clara Rondonuwu, Council of Partner Indonesia for Earth Journalism Network yang berharap bahwa para jurnalis dapat lebih siap dan mampu menajamkan sudut pandang berita dengan lebih baik.

Pada kesempatan ini, Arief Yuwono menyampaikan fakta iklim yang menarik perhatian pemerintah Indonesia, strategi Indonesia untuk reduksi emisi gas rumah kaca (GRK), upaya adaptasi dan mitigasi yang sudah berjalan serta koordinasi yang dilakukan dengan kementerian lembaga lain. “Tanpa adanya respon yang tepat dari pemerintah dan masyarakat, Indonesia sebagai bagian komunitas global, akan meng-hadapi masalah antara lain berkaitan dengan ketahanan pangan, ketersediaan air, dampak kesehatan. Indonesia harus memperkuat Aksi Adaptasi dan Aksi Mitigasinya serta memasukan Rencana Aksi Nasional dan Daerah tentang GRK menjadi rujukan RPJMN 2015-2019.” katanya. Presentasi lengkap terlampir.

Untung Widyanto, selaku jurnalis senior mengingatkan “Saat ini, terjadi ketidakadilan iklim dimana Media Massa memiliki potensi besar menyatakan keberpihakan kepada masyarakat rentan. Topik ini menarik untuk dapat digali serta diungkapkan fakta yang terjadi dan keterkaitannya dengan masyarakat marjinal. Pemerintah Indonesia melalui kabinet yang lalu sudah berkomitmen menurunkan emisi GRK 26%, perlu dikawal kelanjutan dari komitmen ini.”

Pada kesempatan ini, pihak penyelenggara tidak berhasil untuk mendapatkan koneksi jaringan internet untuk Bapak Edvin Aldrian, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG yang merupakan salah satu ahli IPCC Indonesia yang sedianya menyampaikan perkembangan permodelan iklim yang berkembang dan tren pemanasan atmosfer dan laut di wilayah Indonesia saat ini.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Ir. Arief Yuwono, MA,
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan Iklim KLH,
telp/fax: 021-85904923,