KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA



Konperensi Internasional Aksi Muslim I untuk Perubahan Iklim (the First International Conference on Muslim Action Climate Change) selama dua hari (9-10 April) di Bogor Jawa Barat akhirnya menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan yang memuat berapa persetujuan dibacakan oleh Ketua Panitia Pengarah, Ismid Hadad pada sesi sidang terakhir menjelang penutupan, diterima secara aklamasi oleh peserta. Secara keseluruhan, proses konperensi berjalan lancar, tanpa diwarnai perdebatan sengit. Menurut salah seorang peserta, hal ini karena para peserta konperensi yang datang dari 14 negara pada dasarnya memiliki keinginan yang sama. Yakni mendorong umat muslim sedunia agar lebih peduli terhadap fenomena perubahan iklim dengan berbagai dampaknya bagi umat manusia.

Peserta yang hadir dalam kopnperensi ini antara lain berasal dari Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Iran, Kuwait, Mesir, India, Afrika, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Indonesia, Maroko, Jepang, Inggris, Singapura, Libya, Yordania, Perancis, Spanyol, dan Uzbekistan

Menurut Director Earth Mates Dialog Centre (EMDC) Dr. Mahmoud Akef masyarakat muslim internasional mesti meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah perubahan iklim yang tengah dihadapi oleh masyarakat dunia. “Jangan hanya obral janji semata. Tetapi harus diimplementasikan ke dalam langkah-langkah kongkret. “Kita percaya, Islam memiliki solusi untuk semua masalah yang dihadapi manusia di bumi ini. Sosial, ekonomi, lingkungan hidup, politik, HAM, dan lain lain. Jadi kita mulai dengan lingkungan hidup dan kita mengembangkan kepedulian masyarakat muslim,” kata Mahmoud Akef, dalam jumpa pers seusai pembukaan konperensi, Jumat, 9 April.

Tiga agenda utama yang dibahas dalam Konperensi Internasional Aksi Muslim I untuk Perubahan Iklim adalah: Pertama, membahas masalah perubahan iklim dan bentuk aksi nyata yang bisa dilakukan oleh umat muslim se-dunia dalam menghadapi masalah tersebut; Kedua, pembentukan Asosiasi Masyarakat Muslim untuk Aksi Perubahan Iklim (Muslim Association for Climate Change Action/MACCA); Ketiga, mendeklarasikan empat kota di negara berpenduduk mayoritas Muslim sebagai kota hijau (green city) atau “Al Khaer City.”

Beberapa Persetujuan

Dalam hasil konperensi yang dibacakan oleh Ismid Hadad terdapat beberapa hal penting yang disetujui bersama antara lain:

  1. Masyarakat muslim dunia harus mempelajari Al Qur’an, sejarah keilmuan dan peradaban Islam untuk mengenaldan memahami pemanfaatan dunia secara berkelanjutan.
  2. Ke depan muslim dunia mesti menjadi sauh (anchor) bagi pembangunan yang sesuai dengan paradigma keseimbangan lingkungan hidup yang holistik, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Allah (hablum min Allah), manusia dengan sesama manusia (hablum min nanas) dan antara manusia dengan alam (hablum min alam), karena memelihara ekosistem sama artinya dengan memelihara dunia.
  3. Muslim dunia mesti menempatkan diri dan membimbing masyarakat hingga tingkat “akar rumput