KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

KEKAYAAN alam yang terus dirambah dan diekplotasi tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam akan berakibat malapetaka. Membuat bumi semakin panas. Bagamana caranya menjaga alam?

Salah satu jawabannya adalah dengan melakukan konservasi alam. Konservasi alam yang artinya perlindungan, pemeliharaan, dan pengawetan alam dengan mengajak masyarakat untuk memberdayakan dirinya menjaga alam. Masyarakat juga tetap bisa menggunakan hasil alam untuk keberlangsungan hidupnya, tanpa merusak alam.

Masyarakat bisa menggunalan hasil alam, tetapi masyarakat itu sendiri yang juga menjaga keseimbangan alamnya di tempat tinggalnya tersebut. Seperti di taman nasional Indonesia yang mengembangkan ekowisata dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini Indonesia tercatat memiliki 50 taman nasional yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera, jawa, kalimantan, dan Sulawesi, sebagai pusat konservasi alam.

Wilayah yang dijadikan konservasi itu bukan tanpa masalah. Misalnya, di Taman Nasional (TN) Kutai. Kalimantan Timur, yang dikembangkan dengan konsep zone khusus di Kutai. Pasalnya di wilayah TN Kutai yang terdiri dari 4 desa itu dengan 10.000 jiwa penduduk dilengkapi dengan sarana-prasarana publik, seperti jalan dan sekolah. Selain itu, masyarakat di Kutai juga memiliki aturan sendiri dalam mengelola kehidupnnya. Lalu, bagaimana daerah itu bisa dikembangkan dengan zona khusus sebagai usaha mengonservasi alam?

Hormati kearifan lokal
Menurut pakar ekologi manusia dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Soeryo Adiwibowo, untuk menjadi satu kawasan konservasi, para penyelenggara konservasi harus memperhatikan dan menghormati masyarakat tradisional. Penyelenggara konservasi yang memiliki ilmu modern harus menghormati ilmu lokal di masyarakat tradisional.

Ilmu pengetahuan modern seperti konservasi yang dimasukkan begitu saja ke masyarakat tradisional tentu akan menimbulkan konflik. Ilmu modern lahir dari masyarakat di perguruan tinggi. Sedangkan massyarakat tradisional sudah memiliki pengetahuan sendiri yang lahir dari perjuangan sehari-hari dan kontemplasinya terhadap alam. Pengetahuan lokal itu tidak bisa digeneralisir di wilayah lain. Tidak bertemuanya ilmu modern dan pengetahuan lokal itu kerap menimbulkan konflik.