KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

“Menjaga Kelestarian Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Asli Indonesia”
Jakarta, 28 Agustus 2013
.Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyelenggarakan Konsultasi Publik “Penetapan Jenis Asing Invasif” dalam rangka menggali saran dan masukan dari semua pemangku kepentingan guna menetapkan jenis asing invasif di Indonesia. Saat ini, KLH sebagai National Focal PointConvention on Biological Diversity(CBD) sedang menginisiasi penyusunan regulasi tentang Invasive Alien Species(IAS) serta penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan IAS. Regulasi yang saat ini akan disusun adalah Kepmen LH Tentang Penetapan Jenis Asing Invasif. Acara Konsultasi Publik ini dibuka oleh Deputi III KLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, serta dihadiri narasumber yaitu Kepala Badan Karantina Pertanian Kemtan, Kepala Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Hutan, Balitbang Kehutanan Kemhut, Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Perikanan KKP, serta narasumber diskusi oleh Prof. Dr. Soekisman dan Prof. Dr. S Budi Prayitno.

Saat ini, degradasi keanekaragaman hayati di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Penyebabnya antara lain adalah introduksi jenis asing invasif / IAS terutama yang berasal dari luar negeri. Kepmen LH ini disusunsebagai upaya mengendalikan jenis asing invasif di wilayah Republik Indonesia yang mengancam kelestarian lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, sistem produksi, dan kesehatan manusia. Untuk itu, perlu diterbitkan aturan tentang Pencegahan Pemasukan Jenis Asing Invasif ke wilayah Negara Republik Indonesia yang menetapkan jenis apa saja yang tidak diperbolehkan masuk ke Indonesia. Penetapan jenis asing invasif dilakukan berdasarkan pada database Jenis Asing Invasif pada tingkat global serta Analisis Risiko Jenis Asing Invasif oleh pakar dan sektor terkait.Dalam konsultasi ini dijelaskan mengenai aturan yang akan diterbitkan terkait dengan daftar jenis asing invasif yang dilarang masuk ke Indonesia.

Jenis asing invasif adalah jenis yang diintroduksi secara sengaja atau tidak disengaja yang berasal dari luar habitat alaminya yang memiliki kemampuan untuk membentuk diri, menyerang, berkompetisi dengan spesies lokal/asli dan mengambil alih lingkungan barunya. Karakter spesies invasif antara lain: tumbuh cepat, reproduksi cepat, kemampuan menyebar tinggi, toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan, kemampuan untuk hidup dengan jenis makan yang beragam, reproduksi aseksual, dan berasosiasi dengan manusia. Sebagai kompetitor, predator, patogen dan parasit, jenis asing invasif ini mampu merambah semua bagian ekosistem alami/asli dan menyebabkan punahnya spesies-spesies asli. Spesies-spesies asing tersebut dapat mengubah ekosistem secara keseluruhan dengan cara mengubah sistem hidrologi, siklus hara, dan proses-proses lainnya yang terjadi di dalam ekosistem. Seringkali, spesies asing yang mengancam keanekaragaman hayati juga dapat mengakibatkan kehancuran industri yang berbasis sumberdaya alam.

Dalam sambutannya, Deputi III KLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Ir. Arief Yuwono MA, mengatakan, “Pemasukan, penyebaran dan penggunaan berbagai spesies asing baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja yang kemudian menjadi invasif telah menyebabkan kerugian ekologi dan ekonomi yang cukup besar”. Lebih lanjut, Deputi III KLH juga mengungkapkan bahwa kerugian berupa kerusakan lingkungan akibat invasi spesies umumnya sangat sulit untuk dipulihkan lagi karena berkaitan dengan makhluk hidup yang mampu melakukan adaptasi, tumbuh dan berkembang. Kepunahan suatu spesies organisme lokal merupakan suatu spesies kerusakan yang tidak dapat diperbaharui.

Jenis Asing Invasif dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi, misalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan kegiatan pencegahan, pengendalian, kehilangan produksi, dan seterusnya. Gulma, salah satu kelompok IAS telah menyebabkan kehilangan hasil pertanian setidaknya 25% dan juga mengakibatkan penurunan kualitas daerah tangkapan ikan pada ekosistem laut dan perairan darat. Contoh lainnya adalah keong emas (Golden Apple Snail, Pomacea canaliculata) yang telah menyebabkan kerugian hampir 1 milyar dollar AS untuk biaya pengendalian dan kehilangan produksi padi di Filipina. Impor ternak dan hasil hutan seringkali juga membawa hama dan penyakit yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil pertanian yang nyata pada negara importir.

Bagi Indonesia, pengalaman diserang jenis asing bukan hal baru. Contohnya adalah enceng gondok yang didatangkan hanya karena tertarik pada keindahan bunganya. Spesies ini telah menjadi pengganggu/hama di banyak daerah. Contoh lainnya adalah keong mas (Pomocea canaliculata) yang dintroduksi ke Indonesia pada tahun 1980-an dari asalnya di Amerika Selatan dan sekarang tercacat sebagai hama di hampir semua negara tropis dan subtropis. Moluska ini semula didatangkan sebagai binatang peliharaan untuk akuarium karena diyakini mendatangkan keberuntungan (hoki), tetapi kemudian lepas ke alam.

Akhir-akhir ini, introduksi IAS ke luar habitatnya meningkat tajam yang disebabkan oleh meningkatnya volume transportasi, perdagangan, perjalanan dan turisme, bantuan kemanusiaan, operasi militer internasional, serta kemudahan keluar masuknya komoditi hasil pertanian sebagai akibat globalisasi. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi perantara dan media penyebaran bagi IAS melewati batas biogeografi.Berdasarkan data The Invasive Species Specialist Group/ISSG (2004) terdapat sekitar 100 spesies yang sangat invasif. Di Indonesia tercatat kurang lebih 1800-an spesies flora asing dan beberapa spesies fauna asing telah diintroduksi serta beberapa mikroorganisme yang belum teridentifikasi status dan keberadaannnya.

Sebagai negara Pihak yang telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity) melalui UU No. 5 Tahun 1994, Indonesia mempunyai kewajiban dalam mengatasi isu yang terkait dengan introduksi spesies asing seperti tertuang dalam artikel 8 (h) CBD yang mewajibkan setiap negara pihak untuk melakukan pemusnahan, pengawasan dan dampak dari spesies asing invasif dengan berpedoman pada perundangan dan pedoman pada tingkat nasional, regional dan internasional.Berdasarkan COP 11 CBD di Hyderabad-India disepakati bahwa negara Pihak diminta untuk mengatasi ancaman IAS serta membangun kapasitas untuk mencapai Target 9 Aichi Targetdengan fokus pada:

(a) penyusunan perangkat dan meningkatkan kapasitas petugas karantina serta instansi berwenang untuk mengidentifikasi  IAS atau berpotensi IAS;

(b) mengkaji risiko dan mengambil langkah-langkah untuk mengelola dan meminimalkan risiko tersebut; serta

(c) mengendalikan dan eradikasi IAS prioritas.

Menilik kompleksnya penanganan IAS, pengelolaan IAS memerlukan koordinasi antar instansi yang terlibat, mulai dari tempat pemasukan sampai dengan daerah tempat IAS tersebut kemudian menetap. Mengingat masih minimnya penelitian tentang dampak ekonomi yang ditimbukan oleh IAS yang ada di Indonesia maka keterlibatan lembaga penelitian maupun perguruan tinggi sangatlah diperlukan.  Selain itu sampai saat ini belum ada payung hukum untuk pengelolaan IAS di Indonesia.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:

Ir. Arief Yuwono, MA.
Deputi III KLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim.
Tlp/Fax: 85905770, email: humaslh@gmail.com, www.menlh.go.id