KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

KALTENG POST, SENIN, 18 AGUSTUS 2003

Palangka Raya-Kematian ikan keramba betul-betul membuat petani keraba di
pinggir sungai Kahayan menjerit, apalagi dalam 2 tahun belakangan ini, kematian ikan-ikan tersebut dianggap sudah di luar kebiasaan.

“Dulu sangat wajar saja jika dalam 10 ribu benih, sekitar 2 ribuan ekor yang
mati, tapi yang sekarang ini, yang mati lebih dari separoh”, aku Kai-petani
ikan keramba yang dibincangi Kapos di Flamboyant Bawah, kemaren.

Bahkan baru-batu ini, Kai yang sudah lebih dari 5 tahun memiliki keramba
mengalami kerugiaan tidak sedikit, dari 10 ribu lebih benih yang di tebarkan,
hanya sekitar 4 ribu saja yang hidup.

Dari pengamatannya, ia menduga telah terjadi penurunan kualitas air setiap
tahunnya, dan inilah yang menjadi biang kerok kematian ribuan benih ikan
keramba, sebab tahun-tahun sebelumnya kematian tidak separah ini, bahkan tahun
awal usahannya prosentase kematian masih di bawah 10 persen, khusus untuk benih
ikan yang baru di tebarkan.

Tentu saja hal semacam ini sangat tidak di harapkan, makanya jika petani
keramba tanggung-tanggung, mungkin saja bisa bangkrut alias gulung tikar.

Kejadian ini tak semuaya dialami petani ikan keramba, sebut saja Wahid dan
Supiani, yang bertetangga dengan Kai, sampai sejauh ini mereka tak mengalami
ganguan dengan ikan yang rata-rata telah berusia 2 bulanan.

Namun di balik peristiwa itu, rupanya petani ikan menangguk keuntungan lain,
dengan jumlah ikan yang semakin menipis, maka saat panen nanti kemungkinan
besar harga ikan melonjak, lantaran pasokan ikan berkurang.

Faktor Alam.

Sementara itu Kasubdin Perikanan pada Dinas Pertanian Kota Palangka Raya,
Melati Fauziah menyatakan matinya ribuan ikan itu akibat factor alam, yakni
terjadinya perubahan musim sehubungan dengan datangnya musim kemarau dan
terjadi pendangkalan sungai

“Sebenarnya ini tidak perlu terjadi kalau saja mereka mau menuruti peringatan
yang di sampaikan oleh aparat teknis dan penyuluh lapangan, supaya tidak
menambah bibit ikan sehubungan memasuki musim kemarau atau panas yang di ikuti
terjadinya pendangkalan dan keruhnya air sungai (R-07/ANT)