KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

KALTENG POST, SELASA, 19 AGUSTUS 2003

Palangka Raya-Matinya ribuan ikan kermaban di sungai kahayan membuat sejumlah
kalangan prihatin, apakah air yang bersumber dari sungai tersebut berbahaya
atau masih layak jika konsumsi manusia.

Pertanyaan seperti itu nampaknya terngiang-ngiang dalam benak warga, betapa
tidak sebagian dari pendudukan Kota Palangka Raya, hidup di bentangan sungai
kahayan, bahkan menganggtungkan kehidupnya dari air sungai itu.

Jika ikan saja bisa mati, jelas air yang di konsumsi dari sungai berdampak bagi
kesehatan manusia, sejauhmana dampak tadi?, tampaknya sampai saat ini masih
belum terjawab.

Bahkan masyarakat seakan-akan tidak ambil perduli, atau memang tidak mengerti,
apalagi sepanjang tahun ini tampaknya masih belum ada penelitian terkini yang
menyangkut kualitas air, terlebih ketika musim kemarau tiba.

“Sampai sekarang saya masih bingung sejauhmana sich tingkat pencemaran air
sungai di Kalteng, terutama di Kota Palangka Raya, apakah sudah melewati ambang
batas”.? kata Y. Dupa seorang warga kepada Kapos.

Apalagi jika bahayanya tidak langsung dan baru terasa puluhan tahun kemudian,
lantas apakah masyarakat tahu dan mengerti akan hal itu, jiak tidak sudah tentu
efidemi di depan mata.

Y. Dupa berharap supaya ada instansi-instansi yang terkait melakukan penelitian
untuk mengetahui sejauhmana pencemaran sungai di Kalteng, khususnya sungai
Kahayan.

“Apalagi sungai merupkan mata pencaharian warga” katanya dengan penuh nada
perihatin, setelah membaca sejumlah media yang mengekspos pencemaran sungai,
sementara belum ada realisasi dari instansi teknis terakit. (R-07)