KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Pada tahun 2000 Bapedalda Propinsi Bali melakukan pengukuran kualitas udara ambien yang diiakukan secara acak.

Pada tahun 1999, Indonesia memiliki jaringan stasiun pemantauan kualitas udara ambien secara on-line di 10 kota besar dengan pusat jaringan berlokasi di KLH.

Tujuan dari jaringan pemantauan ini adalah:

· Menyediakan informasi tentang status kualitas udara pada masyarakat;· Menerapkan Indeks Standar Polusi Udara (ISPU) untuk kesehatan masyarakat;

· Memantau kualitas udara lintas daerah seperti kebakaran hutan dan isu deposisi asam;

· Memantau untuk tanggap darurat dalam hal terjadi pelepasan emisi yang tidak terkendali;

· Menyediakan data teknis yang absah dalam menunjang upaya pengendalian pencemaran udara.

Jaringan on-line ini memantau konsentrasi lima parameter kunci yaitu CO, N02, S02, PM10, and 03. Stasiun pemantau ini juga mengukur data meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, radiasi matahari dan suhu. Data tersebut digunakan untuk menghitung nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang selanjutnya dipublikasikan melalui papan display kepada masyarakat umum. Disamping itu pihak swasta seperti PT Caltex Pasific Indonesia juga telah melakukan pemantauan kualitas udara dikawasannya. Namun pemantauan ini belum terintegrasi ke dalam jaringan pemantauan kualitas udara ambien nasional.

Kualitas udara ambien di Bali

Pada tahun 2000 Bapedalda Propinsi Bali melakukan pengukuran kualitas udara ambien yang dilakukan secara acak (grab sampling) untuk parameter CO, NOx, S02, total partikulat (TSP) dan timbal (Pb) di 27 lokasi di Propinsi Bali. Berdasarkan hasil yang diperoleh khusus untuk parameter CO, NOx dan S02 dinilai cukup baik. Konsentrasi tertinggi untuk ke-tiga parameter tersebut mencapai kurang lebih 4, 20 dan 22 % dari BMUAN untuk rata-rata 24 jam. Untuk parameter TSP hanya tiga tempat dari 27 lokasi pengukuran yang memenuhi BMUAN. Dapat diasumsikan bahwa TSP tersebut berasal dari berbagai sumber baik industri besar maupun sedang disamping kendaraan bermotor sedangkan untuk parameter Pb sumber utamanya hanya berasal dari emisi kendaraan bermotor. Konsentrasi TSP dan Pb yang dinormalisir (perbandingan konsentrasi aktual terhadap BMUAN). dimana konsentrasi minimum Pb terukur adalah 1.6 kali BMUAN dan nilai maksimumnya mencapai 7.3 kali di daerah Tuban.

Sebagai bagian dari jaringan pemantauan kualitas udara ambien, Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar telah mengoperasikan tiga stasiun pemantauan secara kontinyu sejak pertengahan tahun 2001. Nilai rata-rata pengukuran 24 jam di ketiga stasiun. dimana tidak terlihat adanya nilai yang melampaui BMUAN untuk rata-rata pengukuran 24 jam.

Selain itu sejak bulan Nopember 1998 Bapedalda Kabupaten Badung bekerjasama dengan Bali Tourism Development Center (BTDC) telah mengoperasikan satu unit stasiun pemantauan udara ambien (PM10) di Nusa Dua sumbangan dari Pemerintah Singapura. Walaupun data PM10 yang dihasilkan dalam bentuk ISPU menunjukkan kategori kondisi udara baik mengingat kawasan Nusa Dua merupakan kawasan ekslusif yang jauh dari keramaian lalu lintas tetapi dari tahun 1999 ke 2000 terlihat adanya penurunan kualitas udara.

Beban Emisi

Tidak ada satupun kegiatan industri yang menjadi potensi pencemar utama. Namun demikian jumlah konsumsi energi yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, listrik dan industri dapat menjadi potensi utama bagi sumber pencemaran TSP.

Hingga saat ini Propinsi Bali belum memiliki data rinci mengenai emisi bergerak. Seperti pada tahuin 1999 hingga 2000 rata-rata kenaikannya adalah 11%; 3%, (-38%) dan 9% untuk kategori kendaraan pribadi, truk, bis, dan sepeda motor.

Dibandingkan dengan tahun 1996 sebelum krisis maka pertambahan jumlah kendaraan cukup rendah kecuali untuk kendaraan pribadi. Tanpa adanya pertambahan kendaraan kategori bis dan berdasarkan laju pertambhan kategori kendaraan pribadi tahun 1999-2000 diperkirakan jumlah kendaraan pada tahun 2005 dan 2015 akan naik sekitar 1,5 dan 3,5 kali lipat dari jumlah kendaraan pada tahun 2000. Dengan demikian total beban emisi dipastikan akan naik.

Konsumsi harian untuk bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor di Bali mencapai 3,350 KL per hari seperti pada (PERTAMINA UP V Cabang Denpasar, 2002). Penggunaan Premium untuk sektor transportasi selama tiga tahun terakhir (1999-2001) mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 11.74% atau 45.084 KL.

Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kendaraan bermotor sebesar 8.48% ditambah dengan masuknya kendaraan bermotor ke Bali pada saat liburan.

Pertambahan beban emisi secara langsung disebabkan oleh peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Kenaikan jumlah kendaraan bermotor dapat juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas yang pada akhirnya akan menghasilkan pencemaran udara yang semakin memburuk. Kemacetan lalu lintas telah diamati di beberapa ruas Jalan Diponegoro, Dewi Sartika, Gajah Mada serta jalan-jalan lainnya dimana terdapat sejumlah pertokoan/swalayan yang menimbulkan bangkitan perjalanan.

Adanya bangkitan perjalanan tersebut akan menimbulkan adanya benturan kepentingan antara pejalan kaki dengan pengendara kendaraan bermotor. Kemacetan yang terjadi akan menambah parah kualitas udara di daerah tersebut.

Propinsi Bali memperkenalkan LPG untuk kendaraan komersil semenjak tahun 1996 namun upaya ini masih menghadapi berbagai kendala seperti mahalnya harga converter kit, biaya operasi dan juga terbatasnya jumlah bengkel dan stasiun pengisian bahan bakar gas.

Pencemaran lintas batas dan deposisi asam

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 15 tahun terakhir. Kebakaran hutan terjadi di 25 propinsi Selain DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Bali dan Timor Timur (sekarang negara Timor Lorosae) sedangkan kebakaran lahan terjadi di 18 propinsi, kecuali lima propinsi di Jawa, Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Timor Timur.

Untuk deposisi asam dari pengamatan yang telah dilakukan oleh Jaringan Pengembangan Deposisi Asam Nasional berpusat di PUSARPEDAL-KLH menunjukkan di beberapa daerah di Indonesia telah terkena pengaruh deposisi asam. Untuk Propinsi Bali belum dilakukan pengamatan terhadap keberadaan deposisi asam, namun dengan menggunakan Rains Asia models deposisi S02 di Indonesia tahun 2000 dapat diperkirakan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa deposisi asam di Bali sekitar 100 mg/m2yr belum menyebabkan adanya dampak yang diakibatkan oleh deposisi asam.