KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Lingkungan Hidup, 15 Febuari 2014. Perkembangan terakhir erupsi gunung Kelud masih memprihatinkan, terutama di daerah-daerah yang terkena dampak langsung hujan abu. Apabila ingin bepergian keluar rumah diharapkan masyarakat masih menggunakan masker dan kacamata (pelindung mata) juga disarankan untuk menggunakan pelindung kepala untuk mencegah debu mengenai daerah kepala  serta minum air putih yang cukup, paling tidak untuk 72 jam (3-4 liter per orang per hari).

Diinformasikan pada pukul 15.00 Wib parameter PM (Partikulat Matter) 10 yaitu = 219 ug/m3. Dari hasil pengukuran tersebut, mulai jam 09.40 indikasi kualitas udara masuk dalam kategori sangat tidak sehat Partikel dapat langsung diemisikan  atau terbentuk di atmosfer saat polutan gas seperti SO2 dan NOx bereaksi membentuk partikel halus.

Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta melaporkan kecenderungan peningkatan kekeruhan air sungai akibat terpapar debu gunung Kelud. Secara khusus Perum Jasa Tirta melaporkan peningkatan kekeruhan sungai Brantas sangat tinggi dan dikhawatirkan mempengaruhi pasokan sumber utama air minum untuk sebagian besar wilayah Jawa Timur.

PM-10 Standar merupakan partikel kecil yang  bertanggung jawab untuk efek kesehatan yang merugikan karena kemampuannya untuk mencapai daerah yang lebih dalam pada saluran pernapasan. PM-10 termasuk partikel dengan diameter 10 mikrometer atau kurang. Standar kesehatan berdasarkan PP No. 41 Tahun 1999 untuk PM-10 adalah 150 µg/Nm3 (24 jam).

Efek utama bagi kesehatan manusia dari paparan PM-10 meliputi: efek pada pernapasan dan sistem pernapasan, kerusakan jaringan paru-paru, kanker, dan kematian dini. Orang tua, anak-anak, dan orang-orang dengan penyakit paru-paru kronis, influenza, atau asma, sangat sensitif terhadap efek partikel.  PM-10 yang asam juga dapat merusak bahan buatan manusia dan merupakan penyebab utama berkurangnya jarak pandang. (Asdep Komunikasi. Sumber: Data Center Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) Kementerian Lingkungan Hidup, Illustrasi foto kiriman warga Surabaya)

Siaran Pers:

Jakarta, 15 Februari 2014. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah melakukan pemantauan kualitas udara sejak kemarin.  Pemutahiran data dan analisisnya terus dilakukan.  Sebagaimana telah disampaikan, saat ini staf Kementerian Lingkungan Hidup telah berada di sekitar wilayah bencana gunung Kelud dan terus melakukan pengukuran manual.

Data hasil pengukuran kualitas udara hingga tanggal 14 Februari 2014 pukul 15.00 WIB yang masuk ke Data Center Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Pusarpedal) Kementerian Lingkungan Hidup sebagai berikut:

1. Berdasarkan Pengukuran Kontinyu Stasiun Pemantau (Air Quality Monitoring System-AQMS) KLH di Kota Surabaya dilaporkan perkembangan kondisi parameter PM (Partikulat Matter) 10 yaitu :

Jam 06.30 = 148 ug/m3

Jam 07.30 = 192 ug/m3

Jam 09.40 = 214 ug/m3

Jam 13.00 = 246 ug/m3

Jam 13.30 = 240 ug/m3

Jam 15.00 = 219 ug/m3

Dari hasil pengukuran tersebut, mulai jam 09.40 indikasi kualitas udara masuk dalam kategori sangat tidak sehat

2. Pengujian kualitas udara menggunakan parameter PM 2.5 berdasarkan sampel data dari Surabaya, Semarang, DI Yogyakarta dan Bandung sedang dalam proses pengujian di laboratorium Pusarpedal dan Batan. Diharapkan hasil pengujian dapat segera diperoleh.

3. Pengujian kualitas udara kontinyu di Semarang dan DI Yogyakarta tdk dapat dilakukan karena alat-alat mengalami gangguan yg disebabkan oleh debu gunung Kelud.

4. Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta melaporkan kecenderungan peningkatan kekeruhan air sungai akibat terpapar debu gunung Kelud. Secara khusus Perum Jasa Tirta melaporkan peningkatan kekeruhan sungai Brantas sangat tinggi dan dikhawatirkan mempengaruhi pasokan sumber utama air minum untuk sebagian besar wilayah Jawa Timur.

Mengingat kondisi lingkungan yang sangat tidak sehat akibat dampak letusan gunung Kelud tersebut, masyarakat di kawasan yang terkena hujan abu vulkanik untuk tidak keluar ruangan dulu, tetapi apabila terpaksa keluar rumah, harus gunakan masker. Selain masker, juga disarankan untuk menggunakan pelindung kepala untuk mencegah debu mengenai daerah kepala dan menggunakan kaca mata untuk melindungi mata, serta minum air putih yang cukup, paling tidak untuk 72 jam (3-4 liter per orang per hari).

Informasi lebih lanjut:

DR. Henry Bastaman,
Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan
dan Peningkatan Kapasitas KLH,
Tlp/Fax: (021)8590 4931
www.menlh.go.id