KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

KUNJUNGAN KERJA MENEG LH DI KABUPATEN TEGAL

"Selamatkan Generasi Mendatang Dengan Usaha Ramah Lingkungan"

Selasa, 15 April 2008, pagi hari kesibukan di Stasiun Kerata Api Gambir sedikit berbeda dari biasanya. Tiga gerbong keretacepat Argo Muria, sudah siap menyambut kedatangan penumpang yang kali ini memang istimewa, yakni Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Ir. Rachmat Witoelar beserta rombongan yang herndak berangkat ke kabupaten nTegal Jaw Tengah.

Rombongan yang berjumlah sekitar 50 an orang itu, selain terdiri dari para pejabat terak KLH, juga terdapat beberapa tamu dari luar negeri, antara lain Garbe Hansen, Development Counselor for Indonesia an Timor Leste Kedutaan Besar Jerman, Dieter Principal Advisor GTZ dan Manred Kiefer, Direktor of KFW

Sementara dari KLH antara lai, Deputi Menteri Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Gempur Adnan, Deputi Menteri Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Sudariyono, dan Deputi Menteri Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas, Isa Karmisa, Staf Khusus  Menteri yang juga ikut dalam rombongan ini adalah Agus Tagor dan Agus Purnomo.

Tujuan kunjungan tersebut adalah dalam rangka kerjasama Kementerian  Negar Ligkungan Hidup (KLH) dengan sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan dalam rangka kegiatan bersama pengendalian pencemaran lingkungan di kabupaten Tegal

Dalam rangka itu pula maka Kementerian Negera Lingkungan Hidup menandatangani beberapa kesepakatan bersama dalam hal pemberdayaan dan pengelolaan usaha makro dan kecil di kabupaten Tegal dengan Bank Syariah mandiri, Provinsi Jawa Tengah, kabupaten Tegal dan Paguyuban Pengrajin Tahu Tempe se kabupaten Tegal. Selain itu, pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan akad kredit dengan pengusaha logam dan pengusaha tahu.

Menurut Rachamt Witoelar, pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Lingkungan Hidup, menaruh perhatian serius terhadap pembinaan pengusaha tahu, karena tahu tempe selain dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat, juga menyediakan lapangan kerja. Kabupaten tegal merupakan pusat pengrajin tahu tempe terbesar di Indonesia. Di kabupaten Tegal terdapat ratusan pengrajin tahu tempe. Dengan pembinaan terus menerus diharapkan pengelolaan usaha tahu-tempe di kabupaten Tegal menjadi usaha yang ramah lingkungan.

"Dengan penggunaan teknologi, limbah dari usaha tahu tempe yang mengganggu lingkungan, dapat diolah sehingga bermanfaat bagi masyarakat" kata Rachmat.

Salah satu obyek yang ditinjau oleh Menteri LH adalah pabrik tahu yang dikelola KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) "Lestari" serta Instalasi Pengolah Limbah (IPAL)  di Kecamatan Adiwema Tegal. Di sini warga masyarakat setempat  yang sudah sejak pagi menantikan kehadiran Menteri LH tersebut untuk dapat berjabat tangan dengan menyeri. "Kami gemnbira ada menteri yang datang  berkunjung ke sini. Selama ini, baru Menteri  Lingkungan Hidup yang datang ke tempat ini, apalagi sempat bersalaman dengan beliau," ujar sorang ibu dengan wajah ceria.

Dari Adiwema, Menteri LH dan rombongan berkunjung ke desa nelayan Mojoagung untuk meninjau dari dekat kaadaan pantai Larangan yang menjadi lokasi rehabilitasi hutan mangrove. Pada kesempatan itu, para nelayan mengeluhkan turunnya produksi hasil tambak yang mereka sendiri belum tahu apa penyebabnya.

"Apakah karena terlalu banyak mengandung garam atau karena adanya unsur pencemaran yang masuk ke dalam tambak," tanya seorang nelayan kepada Menteri LH.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Rachmat Witoelar mempersilakan Deputi Menteri, Gempur Adnan yang memang pakar dalam bidang ini. Menurut Gempur Adnan, untuk hal tersebut memang harus diuji di laboratorium, dan tindakan para nelayan membawa sampel air yambak ke laboratorium  sudah tepat. Mengenai usulan agar pantai Larangan dijadikan kawasan wisata alam pantai, Rachmat Witoelar berjanji akan membicarakannya dengan berbagai instansi terkait di pusat.

Masyarakat Kabupaten Tegal berharap temuan di lapangan serta aspirasi masyarakat yang disampaikan secara langsung kepada menteri dapat dibahas dalam sidang kabinet. "Kami akan terus berdoa, semoga Pak Menteri tidak lupa untuk membawa apa yang kami sampaikan ke dalam rapat kabinet untuk dibahas bersama Bapak Presiden," harap seorang nelayan.

Sumber:
Koran Surya Pagi (KSP), 17-22 April 2008