KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Lingkungan Hidup – Medan, 18 November 2012. Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA melakukan kunjungan kerja ke Medan, Sumatera Utara, dalam rangka menghadiri Pesta Bolon Silahisabungan Tahun 2012, Penanaman Pohon serta Dialog Peran Masyarakat dalam Pelestarian Ekosistem Danau Toba. Pesta Bolon Silahisabungan yang diselenggarakan di Desa Silalahi, Kecamatan Silalahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara ini dihadiri oleh Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Dairi. Kunjungan ini dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam implementasi Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, khususnya perlindungan ekosistem Danau Toba. Saat ini, ekosistem Danau Toba terganggu oleh rusaknya lahan dan hutan sekitar yang berdampak menurunnya kualitas dan debit air danau. Selain itu, pemerintah juga berupaya merehabilitasi lahan kritis dengan menanam pohon melalui gerakan Toba Green sebagai upaya menuju low carbon and green growth terkait perubahan iklim saat ini.

Danau Toba memiliki sumber daya alam yang melimpah dengan keanekaragaman hayati. Danau terbesar di Indonesia ini merupakan pusat persebaran masyarakat hukum adat Batak, yaitu Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing. Daerah ini merupakan pusat kebudayaan dan habitat warisan (bona pasogit) masyarakat etnis Batak yang perlu dilestarikan. Danau Toba memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki danau lain. Danau ini sangat luas yaitu +1.130 km2 dengan panjang 275 km, lebar 150 km, kedalaman maksimum 529 m di bagian utara dan 429 m di bagian selatan. Udaranya sejuk terletak 905 meter diatas permukaan laut. Daerah ini dikenal sebagai pusat perkembangan kebudayaan Batak dengan ratusan perkampungan penduduk (huta). Karena itu, fungsinya sangat penting, seperti sumber pencaharian penduduk, sumber air, pembangkit tenaga listrik, dan penting sebagai modal sosial penduduk setempat.

Permasalahan Danau Toba lainnya adalah tata ruang permukiman yang kurang tertata dengan baik dan permasalahan sampah domestik. Kerusakan oleh eceng gondok dan masalah penataan keramba (ikan mas dan nila) yang  tidak memenuhi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Selain itu, kekayaan hayati sebagian hilang oleh rusaknya ekosistem seperti ihan yg biasanya digunakan untuk upacara adat Batak. Di sisi lain, komitmen pemerintah lokal dan sistem manajemen  ekosistem Danau Toba masih perlu penguatan.

“Permasalahan Danau Toba tidak boleh dibiarkan, selain memerlukan peran pemerintah, dituntut peran seluruh lapisan masyarakat”, ucap MenLH dalam sambutannya. Peran tersebut bisa dimulai dari kegiatan sederhana, mulai dari penanaman pohon, tidak membuang sampah ke danau, penataan permukiman dan keramba, dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. “Kita punya Undang-Undang No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan yang di dalamnya memberi penekanan kuat terhadap pentingnya peran masyarakat, antara lain dalam pengawasan sosial, saran, pendapat, usul, keberatan, penyampaian informasi, dan keberatan”, jelas MenLH.

Peran tokoh adat dan anggota komunitas marga ini menjadi penting dalam meningkatkan peran dalam pelestarian ekosistem Danau Toba. Masyarakat Batak mengenal nilai-nilai kearifan lokal yang perankan warganya sesuai kedudukan dalam struktur masyarakat, yaitu Dalihan Na Tolu dalam wadah marga.  Mereka yang mardongan tubu (semarga) bisa saling mengingatkan saudaranya untuk ikut bersama dalam upaya melestarikan fungsi lingkungan hidup serta mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Demikian marga Silalahi bisa minta bantuan boru-nya (saudara perempuannya), serta meminta bimbingan dan hula-hula-nya (keluarga istrinya). Dengan demikian tidak satu orangpun warga komunitas marga ini yang tidak terlibat dalam pelestarian Danau Toba. Hal ini tidak saja efektif menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba, akan tetapi juga menciptakan keserasian lingkungan sosial.

Menanam pohon merupakan cara yang paling tepat, murah dan mudah dilakukan, untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat dan baik. Sangat tepat jika jenis pohon tersebut memberi manfaat ekonomi bagi si penanam dan yang merawatnya, di samping lahan tersebut dapat berfungsi menjaga sistem tata air, menghasilan oksigen dan menyerap carbon. Leluhur kita telah mewariskan kearifan tentang perlunya menanam pohon, seperti pohon andaliman, andalehat, dan tualang. Hal yang dapat dicontoh adalah jika setiap kelahiran,  dan berbagai peristiwa penting sepanjang hidup, ditandai dengan menanam pohon sebagai monumen hidup.

Untuk mendukung gerakan tersebut, diperlukan ketersediaan bibit yang baik, mudah didapat, murah atau bahkan gratis, khususnya pohon produktif yang bermanfaat secara ekonomis. “Diharapkan peran Pemerintah Provinsi dan 7 Pemerintah Kabupaten (Kab.Dairi, Karo, Simalungun, Samosir, Humbang hasundutan, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara) serta sektor terkait, terutama juga  masyarakat baik perorangan, kelompok maupun dunia usaha, untuk ikut berperan dalam penyediaan bibit, menanam dan memelihara pohon yang dibutuhkan masyarakat”, harap MenLH.

Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Ir. Ilyas Asaad, MP, MH, Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Lingkungan Hidup, Tlp/Fax: 8580087, email: humas@menlh.go.id