KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA




 

Banjarmasin, 26 Nopember 2009. Di awal masa
jabatannya sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup, MENLH melakukan kunjungan
kerja ke Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Melalui kunjungan kerja ini diharapkan
menjadi dorongan bagi para pemegang keputusan di Propinsi Kalimantan Selatan
untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di daerahnya.

Adanya kecenderungan
penurunan kualitas lingkungan di Propinsi Kalimantan Selatan menuntut keseriusan
dalam mengupayakan perbaikan lingkungan. Perangkat hukum berupa Undang-undang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang telah disahkan akan menjadi
modal dasar dalam menegakkan pengaturan bagi pelanggaran pengelolaan lingkungan
hidup.

Permasalahan
lingkungan di Propinsi Kalimantan Selatan selama 15 tahun terakhir   menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan,
kerusakan hutan, pencemaran air dan pencemaran udara semakin tidak terkendali.
Tingkat laju kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan, perambahan dan kebakaran
hutan dalam periode 2003 – 2007 mencapai 1,174 juta hektar per tahun. Kerusakan
ini mengakibatkan menurunnya kemampuan tangkapan air di daerah aliran sungai. Akibatnya
longsor dan banjir di Kalimantan Selatan semakin sering terjadi dan di tahun
2007 tercatat 32 kali bencana banjir. Sementara penurunan fungsi dan daya guna
sungai banyak disebabkan oleh aktivitas domestik, industri serta usaha skala
kecil.

Dalam rangka
penanganan permasalahan di atas, di Propinsi Kalimantan Selatan telah dilakukan
berbagai program yaitu ADIPURA, PROKASIH, PROPER, Program Langit Biru. dan
bantuan terhadap Usaha Skala Kecil. Kegiatan program-program tersebut
diimplementasikan dalam bentuk pengawasan kinerja Pemerintah Kota dalam
pengelolaan sampah, pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan industri, pembangunan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Industri Batik Sasirangan skala kecil,
Pembangunan TPS-3R sampah serta Pembangunan IPAL Domestik Komunal.

Pada tahun yang akan datang akan dilakukan
pembangunan pengelolaan air limbah industri tahu di Banjar Baru, evaluasi
kualitas udara perkotaan sebagai bagian dari Program Langit Biru, dan
pembangunan TPA Basirih yang berwawasan lingkungan melalui Program Co-Benefit.

Kunjungan kerja Menteri Negara LH
dilakukan untuk memastikan kegiatan diatas telah berjalan sesuai harapan,
sehingga terjadi penurunan tingkat pencemaran dan peningkatan kualitas
lingkungan sebagaimana yang diharapkan.

 

Berikut
ini informasi singkat kegiatan yang dilaksanakan di Banjarmasin dan Banjarbaru:

1. PROPER

Jumlah perusahaan yang menjadi peserta PROPER di Kalimantan
Selatan sebanyak 17 perusahaan dengan jenis usaha dari sektor agroindustri
adalah kayu lapis, karet dan kelapa sawit serta sektor pertambangan dan
migas. Tingkat ketaatan agroindustri
yang dapat dicapai pada pelaksanaan tahun 2008 sebesar 40% sementara dari
sektor pertambangan dan migas sebesar 77,8%.

Bila dilihat dari laju penurunan beban di sektor
agroindustri maka untuk industri kayu lapis dengan bahan organik BOD sebesar
103,45 kg per tahun, beban pencemaran
COD sebesar 265,06 kg per tahun dan beban pencemaran TSS sebesar 157,33 kg per
tahun (Grafik 1. dibawah). Dari sektor pertambangan dan migas penurunan beban
pencemaran TSS sebesar 41.664,274 kg per tahun.

 

Grafik 1. Penurunan beban pencemaran dan sebaran peringkat industri
peserta PROPER

 

 

2.  PROKASIH
DAN PENGELOLAAN SAMPAH

Dalam dua tahun
terakhir, Banjarmasin
telah dijadikan pilot project untuk
pelaksanaan Program Kali Bersih (PROKASIH) berbasis kewilayahan. Pada tahun
2008 sebanyak 11 perusahaan sebagai peserta PROKASIH dan di tahun 2009 terdapat
20 perusahaan baru yang terlibat dalam PROKASIH. Evaluasi pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan
tingkat ketaatan yang dicapai sebesar 10%.

Untuk mengupayakan
penurunan air limbah dan mengurangi jumlah sampah yang akan dibuang ke TPA,
pada saat ini melalui PROKASIH dibangun 1 unit IPAL Komunal di Rumah Susun Sewa
dengan target penurunan beban pencemaran sebesar 20%. Sedangkan melalui
pembangunan TPS 3R di Perumahan Angsana, Pasar Antasari dan Sungai Lulut, maka
jumlah sampah yang berhasil di reduksi di kota Banjarmasin mencapai rata-rata 12
m3
per hari yang dapat menghasilkan sekitar 0,8-1 ton kompos. Kompos
yang dihasilkan tersebut jika dijual dengan harga Rp. 500/kg, maka nilainya
setara Rp 500,000,- dalam sehari. Sedangkan untuk pengomposan skala rumah
tangga di Komplek Mahligai, dicapai pengurangan sampah sebanyak 50%. Keberhasilan
tersebut dicapai karena masyarakat telah berhasil memilah sampah dan
melakukukan pengomposan skala rumah tangga. Sebagai bentuk apresiasi atas
komitmen Pemerintah Kota Banjarmasin dalam melakukan pengolahan sampah,
Kementerian Negara Lingkungan Hidup memberikan  bantuan 2 (dua) unit sepeda motor sampah untuk
mempercepat dan mempermudah pengangkutan sampah dari rumah-rumah ke lokasi
pengomposan.

Gambar 2. Unit Pengomposan dan IPAL Biodigester

 

TPS3R – Proses
pengomposan berbasis masyarakat di Komplek Mahligai

 

TPS3R – Skala Komunal Perumahan Angsana VI

IPAL  Biodigester – Rusunnawa

IPAL  Biodigester – Rusunnawa

 

3.  ADIPURA

Kota Banjarmasin merupakan kota peserta
Program Adipura yang masuk dalam kategori Kota Besar yang hingga saat ini belum
menerima Anugerah Adipura, namun pada tahun 2009 Kota Banjarmasin mendapatkan
penghargaan Piagam Adipura dengan perolehan nilai P1 yaitu 61.52 dan P2 yaitu
64.82. Ruang Terbuka Hijau Kota Banjarmasin yang meliputi hutan kota dan taman kota memiliki
luas 202,9 Ha, luasan ini baru mencapai 3 % dari luas wilayah administrasi kota Banjarmasin.
Berikut ini merupakan grafik nilai ADIPURA Kota Banjarmasin.

 

 

Untuk dapat
mencapai nilai batas perolehan penghargaan Adipura diperlukan komitmen dan
kerja keras dari seluruh jajaran pemerintah kota Banjarmasin dan masyarakatnya
khususnya di lokasi-lokasi yang masih mendapat penilaian kurang, seperti Pasar,
Pertokoan, Pelabuhan Penumpang, Perairan Terbuka (termasuk drainase) dan TPA.

Gambar 3. TPA
Basirih

 

TPA Basirih

 

TPA Basirih

 

4.  Bantuan
Usaha Skala Kecil

Dalam rangka menunjang kegiatan PROKASIH telah dibangun IPAL Plasma Kain
Sasirangan di Desa Seberang Mesjid yang berkapasitas 1
m3 per
jam yang berasal dari proses produksi 15 pengusaha. Bantuan bagi usaha skala kecil ini diharapkan
dapat mengurangi beban bahan pencemar sebesar 90% dibandingkan apabila tidak
dilakukan pengolahan. Dengan demikian kualitas air limbah yang dihasilkan dapat
memenuhi standart baku
mutu air limbah yang telah ditetapkan.

Pada tahun
2010 akan dibangun Instalasi Pengolahan
Air Limbah Industri Tahu dengan kapasitas 30m3 per hari (Gambar 5). IPAL ini akan mengolah air limbah dari 2 industri dengan kapasitas
produksi 2 ton kedelai per hari. Target penurunan metan dan CO2 yang akan
direalisasikan masing-masing sebesar 59 kg per hari dan 1470 kg per hari.  

 

Gambar 4. IPAL denganTeknologi Plasma

 

 

Gambar 5. Desain IPAL industri tahu

 

 

 

5.  CO-BENEFIT

Pendekatan keuntungan bersama (Co-Benefit) merupakan
pendekatan yang dilakukan melalui integrasi pengendalian pencemaran dengan
pengurangan emisi gas rumah kaca.

Kegiatan ini dilakukan atas dasar kerjasama Pemerintah Indonesia
cq. Kementerian Negara Lingkungan Hidup Indonesia dengan Kementerian
Lingkungan Hidup Jepang. Pelaksanaan Co-Benefit dimulai pada pertengahan tahun 2007 yang diawali dengan
pra studi kelayakan dan disepakati 2 kota
sebagai lokasi percontohan yaitu Kota
 Banjarmasin dan
Kota Palembang. Pada tahun 2009 ditindaklanjuti dengan studi kelayakan terhadap target potensial di kedua kota tersebut dimana
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota Banjarmasin dan Rumah Potong Hewan
(RPH) akan menjadi lokasi percontohan Co-Benefit.

 

6.  PENANAMAN
POHON

Bekerja sama
dengan Departemen Kehutanan Pemerintah
Kota Banjarmasin melakukan kegiatan penanaman pohon dengan tujuan untuk menambah keteduhan dan keindahan kota disamping untuk
mengurangi polusi udara terutama akibat pencemaran kendaraan bermotor dan
kegiatan industri. Penyediaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) di Kota Banjarmasin sebesar 30% dari luasan kota masih
belum terpenuhi dimana RTH yang tersedia pada saat ini baru 3%. Penanaman pohon
di RTH Kamboja se
luas 3 hektar akan dihijaukan dengan 10 ribu tanaman yang
terdiri dari tanaman buah-buahan langka dan tanaman langka. Selain itu Taman
anggrek juga akan menjadi bagian dari kegiatan penghijauan di kota
Banjarmasin.

 

7.  Program
LANGIT BiRU

Pada kunjungan kerja ini MENLH akan meresmikan uji emisi
yang pertama kali dilakukan di Kota Banjarmasin terhadap sekitar
450 kendaraan
bermotor, dan pada tahun depan, akan dilakukan evaluasi kualitas udara
perkotaan .

Dari ke-empat pilar Program Langit Biru yaitu baku mutu
emisi, bahan bakar bersih, pemeriksaan emisi, perawatan kendaraan bermotor
(P&P) dan manajemen transportasi, maka upaya yang melibatkan peran serta
masyarakat dalam mengurangi pencemaran udara adalah pemeriksaan emisi dan
perawatan kendaraan bermotor. Hal ini
sejalan dengan amanat UU PPLH dan juga UU LLAJ bahwa setiap kendaraan harus
memenuhi ambang batas emisi.

Sebagai salah satu bentuk evaluasi maka KLH bekerjasama
dengan Agen Pemegang Merk a.l Isuzu,
Suzuki, Toyota dan Mitshubishi serta Pemkot Banjarmasin mengadakan uji petik
emisi gas buang kendaraan bermotor pada tanggal 25 November 2009 dengan hasil
sebagaimana terlampir.

Banjarmasin sudah beberapa
kali mengadakan uji emisi sebagai bagian dari kegiatan P&P, namun penerapannya belum optimal karena terkendala
peraturan di tingkat Pusat. Untuk itu KLH pada saat ini sedang melakukan upaya
kajian hukum agar penaatan ambang batas emisi dapat diterapkan secara mandatory. Pada tahun 2010 Banjarmasin
akan dinilai sebagai salah satu kota
dalam evaluasi kualitas udara perkotaan.

 

8.  HASIL UJI EMISI KOTA BANJARMASIN (25 November 2009)

 

Kota Banjarmasin sebagai salah
satu kota yang sudah dapat dikategorikan sebagai Kota Besar akan menjadi salah
satu target kota yang akan dikembangkan sebagai kota yang bersih dengan
kualitas udara yang memenuhi baku mutu kualitas udara ambien. Kerjasama seluruh
pihak dan masyarakat umum sangat dibutuhkan untuk pencapaiannya. Masyarakat
diharapkan dapat memeriksakan dan mengecek kendaraannya secara rutin, sehingga
emisi yang dikeluarkan dari salah satu sumber (knalpot) dapat diminimisasi.
Kegiatan kali ini hanyalah sebagai awal mula bagi semua pihak terkait untuk mensosialisasikan
uji emisi sebagai salah satu kegiatan dalam penurunan pencemaran udara kota.
Melalui kegiatan ini diharapkan kualitas udara di perkotaan menjadi prioritas
bagi kota Banjarmasin sehingga dihasilkan kondisi kualitas udara kota yang
lebih baik.

Adapun hasil uji emisi
kendaraan bermotor adalah sebagai berikut:

Jumlah kendaraan yang diuji:
527 unit

Jumlah kendaraan lulus: 312
unit

Jumlah kendaraan tidak lulus:
215 unit

 

 

PERSENTASI HASIL UJI EMISI KENDARAAN
BERMOTOR BERBAHAN BAKAR BENSIN DAN SOLAR

 

 

 

HASIL UJI EMISI
KENDARAAN BERMOTOR BERBAHAN BAKAR BENSIN
BERDASARKAN MERK

 

 

HASIL UJI EMISI
KENDARAAN BERMOTOR BERBAHAN BAKAR SOLAR 
BERDASARKAN MERK

 

   

 

PERSENTASE HASIL UJI EMISI KENDARAAN
BERMOTOR BERBAHAN BAKAR BENSIN BERDASARKAN MERK