KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Bogor, 20 Januari 2014. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan kunjungan lapangan ke hulu sungai Ciliwung di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor dan pintu air Katulampa Bogor, yang dihadiri secara langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya. Kunjungan ke hulu sungai Ciliwung ini dalam rangka menyikapi perkembangan banjir dan longsor khususnya di DAS Ciliwung yang berdampak ke daerah hilir di Jakarta dan juga merupakan fenomena banjir longsor yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia sebagai bentuk kerusakan ekologis. Sebagian daerah hulu sungai merupakan daerah resapan air telah banyak beralih fungsi sehingga perlu upaya pengendaliannya. Upaya pemerintah daerah melakukan pembongkaran bangunan di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan dalam rangka menegakkan peraturan daerah tentang tata ruang yang juga telah mempertimbangkan aspek lingkungan.

Banjir yang terjadi di bulan Januari 2014 ini merupakan pengaruh Monsoon Asia yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat dengan curah hujan yang cukup lebat secara bersamaan mulai dari hulu sungai Ciliwung hingga hilir yang disertai dengan air laut pasang. Jika dibandingkan dengan banjir tahun 2007 yang lalu, curah hujan 2014 ini tidak lebih 300 mm, namun karena perubahan tata ruang yang meningkat pesat baik di kawasan hulu, tengah maupun hilir terutama untuk pemukiman.

Kecenderungan laju kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Hal ini dapat terlihat dari penurunan luas tutupan hutan di Indonesia dari 49.37 % pada tahun 2008 menjadi 47.73 % pada tahun 2012, atau mengalami laju degradasi lingkungan sebesar 1.64 % dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Di DAS Ciliwung sendiri juga sangat memprihatinkan, yang tercermin dari penurunan luas tutupan hutan dari 9.4 % pada tahun 2000 menjadi 2.3 % pada tahun 2010, atau mengalami laju degradasi lingkungan sebesar 7.14 % dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (0.7 % per tahun).

Kerusakan ekologis di Daerah Aliran Sungai Ciliwung yang terjadi saat ini, seperti meningkatnya lahan kritis dengan tingkat erosi dan sedimentasi yang tinggi, fluktuasi debit yang tinggi antara musim kemarau dan penghujan, merupakan salah satu faktor penyebab kejadian banjir di daerah DKI Jakarta dan tanah longsor di beberapa daerah hulu DAS Ciliwung. Ini menandakan DAS Ciliwung semakin tidak sehat dengan perbedaan debit air musim kemarau dan musim penghujan lebih dari 300 kali lipat. Semua ini terjadi karena salah manusia, perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan seperti tidak peduli kepada lingkungan khususnya di Sungai Ciliwung, dimana sampah banyak yang dibuang langsung ke sungai, diperparah limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai. Semua hal tersebut menjadikan beban yang harus ditanggung oleh DAS Ciliwung semakin berat, kalau tidak didukung dengan perencanaan tata ruang yang baik dan sinergis antara hulu dengan hilir.

Sementara itu, berdasarkan data hasil pemantauan kualitas air yang dilakukan oleh Pusarpedal pada tahun 2012, kondisi kualitas air Sungai Ciliwung sampai dengan saat ini berada pada kondisi tercemar berat (berdasarkan indek storet, dengan batas cemar berat adalah -30), mulai dari Masjid Atta’awun di hulu DAS Ciliwung (nilai -66) sampai di PIK yang merupakan hilir DAS Ciliwung (nilai -102). Hasil kajian terhadap daya tampung beban pencemaran air di Sungai Ciliwung juga menunjukkan bahwa beban pencemaran terbesar pada seluruh segmen adalah beban pencemar limbah domestik berkisar antara 57,0% – 85,4%, kedua adalah limbah industri berkisar antara 8,1% – 31,4%, dan ketiga adalah limbah peternakan 0,4% – 19,9% (Profil Sungai Ciliwung, 2012).

Pantauan status ketinggian muka air sungai di Bendungan Katulampa menjadi sangat penting sebagai salah satu indikator kesiap-siagaan bagi masyarakat di DKI Jakarta dan sekitarnya untuk waspada terhadap bencana banjir, apabila ketinggian airnya sudah melewati batas normal. Kategorisasi status di Bendungan Katulampa Bogor adalah sebagai berikut: Kondisi Normal bila ketinggian air antara 0-80 cm, Siaga IV bila ketinggian air antara 80-170 cm, Siaga III bila ketinggian air antara 170-240 cm, Siaga II bila ketinggian air antara 240-300 cm, dan Siaga I bila ketinggian air >300 cm. Dengan perkiraan waktu tempuh ± 6-7 jam dari Bendungan Katulampa Bogor ke DKI Jakarta, maka dengan adanya informasi status siaga banjir, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan upaya kesiap-siagaannya terhadap banjir yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung di DKI Jakarta.

Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup memandang bahwa banjir di Indonesia dan banjir sungai Ciliwung saat ini merupakan bencana ekologis dan menyarankan penyelesaian banjir didasarkan atas konsep “One River, One Ecosystem, One Management” sebagai suatu rencana dan pelaksanaan pengelolaan terpadu hulu dan hilir dengan dukungan kerjasama sinergi antar pemangku kepentingan dan tidak parsial.

Solusi jangka menengah, selain rehabilitasi kawasan hulu, penegakan hukum juga harus ditingkatkan dalam rangka perlindungan kawasan lindung untuk hidrologi. Sedangkan solusi jangka panjang harus dapat mewujudkan komitmen pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan, penertiban tata ruang, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penegakan hukum. Untuk DAS Ciliwung telah tertuang dalam Rancangan Peraturan Presiden tentang Penetapan Kelas Air serta terkait pemulihan kualitas lingkungan DAS Ciliwung dan telah disepakati K/L dan daerah.

Lampiran:
Pencegahan Bencana banjir dan Longsor di Indonesia (pdf)

Informasi lebih lanjut :
Ir. Arief Yuwono,
Deputi Pengendalian Kerusakan Lingkungan
dan Perubahan Iklim, KLH,
Telp/Fax 02185904923,
email : humaslh@gmail.com