LANGIT BIRU: “Mendorong Peningkatan kualitas Udara Perkotaan dari Pencemaran Udara”

Sebagai bentuk apresiasi kepada 6 (enam) kota terbaik sebagai “Kota Langit Biru 2011”, KLH memberikan plakat dan sebuah sepeda listrik yang merupakan salah satu kendaraan ramah lingkungan, serta plakat untuk Agen Pemegang Merek kendaraan rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar yang diwakili oleh PT. Honda Prospect Motor dan PT. Toyota Motor Manufacturing.

16 Dec 2011 06:32 WIB

Public Expose Langit Biru 2011
Jakarta, 14 Desember 2011 – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) kembali menyelenggarakan Program Expose Langit Biru 2011 hari ini di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Langit Biru merupakan program KLH yang bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas udara perkotaan dari pencemaran udara, khususnya yang bersumber dari kendaraan bermotor melalui penerapan transportasi berkelanjutan. Saat ini, pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi di kota-kota besar di Indonesia tidak saja menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas tetapi juga menimbulkan masalah lain seperti kecelakaan lalu lintas, polusi udara, kebisingan, kerugian ekonomi serta kesehatan.

Kerugian ekonomi dan dampak kesehatan akibat pencemaran udara dari sumber bergerak di kota-kota di Indonesia, di tahun 1994 World Bank studi memperkirakan biaya ekonomi akibat pencemaran udara di Jakarta mencapai  Rp. 500 milyar. Studi ini menghitung terjadi 1.200 kematian prematur,  32 juta masalah pernapasan, dan 464.000 kasus asthma. Sementara data Profil Kesehatan Jakarta tahun 2004 menunjukkan sekitar 46% penyakit masyarakat bersumber dari pencemaran udara antara lain gejala pernapasan 43%, iritasi mata 1,7%, dan asthma 1,4%, sementara infeksi saluran pernapasan dan masalah pernapasan lainnya selalu berada di jajaran paling atas.

Studi tersebut saat ini sedang diperbaharui oleh KLH melalui Clean Fuel and Clean Vehicle Project, dimana draftreport tahun 2011 menunjukkan adanya 9 penyakit yang langsung berhubungan dengan sumber pencemaran udara. Hasil laporan sementara menunjukkan biaya ekonomi dari sisi kesehatan yang harus dikeluarkan untuk kota Jakarta saja di tahun 2010 mencapai 37 Trilliun rupiah (sumber : draft study PCFV – KLH tahun 2011). Dengan pertimbangan hasil inilah KLH melalui program Langit Biru berkeinginan agar pencemaran udara dapat diturunkan, sehingga biaya ekonomi ini tidak terbuang sia-sia dan dapat diturunkan serta digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, dalam sambutannya mengatakan, “Hasil evaluasi kualitas udara perkotaan tahun 2011 akan diintegrasikan ke dalam Program Adipura untuk kriteria pencemaran udara dan menjadi bagian dari penilaian kota dalam pelaksanaan Program Adipura Tahun 2012. Tahun-tahun selanjutnya evaluasi kualitas udara perkotaan ini akan dilaksanakan di seluruh kota metropolitan dan kota besar serta ibukota propinsi di Indonesia.  Penilaian dilakukan baik terhadap aspek fisik maupun non fisik, yang pada intinya adalah mendorong kota-kota di Indonesia untuk menerapkan transportasi yang berwawasan lingkungan (Environmental Sustainable Transport) sebagaimana kesepakatan negara-negara di Asia yang tertuang dalam AICHI Statement”.

Expose Langit Biru kali ini meliputi 2 (dua) kegiatan yaitu Pertama, Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan yang merupakan upaya KLH dalam menurunkan pencemaran udara dari sektor transportasi melalui promosi dan penerapan kebijakan transportasi berkelanjutan di daerah perkotaan. Dan, Kedua yaitu Evaluasi Penaatan Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Melalui Random Sampling. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya KLH dalam mendorong industri otomotif untuk memproduksi kendaraan bermotor rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar berdasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia (Best Available Technology).

Pengumuman Expose Langit Biru terbaik 2011 merupakan hasil dari evaluasi kualitas udara perkotaan yang dilaksanakan di 26 kota metropolitan, yaitu 14 Kota metropolitan DKI Jakarta (5 wilayah), Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, Tanggerang, Makassar, Depok, Palembang, Bekasi dan 12 kota besar, yaitu Surakarta, Batam, Malang, Balikpapan, Bogor, Yogyakarta, Bandar Lampung, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Padang dan Pekanbaru selama Bulan Maret – September 2011. Selain itu KLH juga mengumumkan 2 (dua) industri otomotif  yang produknya rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar berdasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia.

Dalam kegiatan ini, beberapa kegiatan baik fisik dan non fisik telah dievaluasi. Kegiatan non fisik berupa survei pendapat para pemangku kepentingan yang ada di kota-kota tersebut dan pengisian formulir data kota. Adapun kegiatan fisik meliputi uji emisi “Spotcheck” kendaraan bermotor selama 3 hari dengan target 500 kendaraan pribadi perhari.  Kegiatan lain adalah Pemantauan Kualitas Udara Udara Jalan Raya (roadside monitoring) untuk parameter SO2, CO, NO2, HC, O3, PM10 dan penghitungan kinerja lalu lintas (Kecepatan lalu lintas dan Kerapatan Kendaraan (VCR) di jalan raya). Seluruh kegiatan fisik dilakukan secara serentak di tiapkota di 3 ruas jalan arteri yang dipilih bersama dan dianggap mewakili kota tersebut.

Dari hasil evaluasi terhadap 26 kota pada tahun 2011 ini telah diperoleh 3 (tiga) kota dengan nilai tertinggi sebagai Kota Langit Biru untuk Kategori Kota Metropolitan, yaitu Kota Surabaya, Kota Medan dan Kota Jakarta Timur. Disamping itu telah ditetapkan pula  3 (tiga) Kota Langit Biru Terbaik untuk Kategori Kota Besar, yaitu Kota Surakarta, Kota Batam dan Kota Malang.

Lebih lanjut, MenLH juga menegaskan, “Selain meningkatkan kualitas udara kota, Program Langit Biru juga telah berhasil  menjawab tantangan upaya-upaya inovatif untuk program penurunan konsumsi bahan bakar minyak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim dari sektor transportasi”.

Dalam rangka mendorong industri otomotif memproduksi kendaraan bermotor rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar berdasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia di dunia, KLH melalui kegiatan evaluasi penaatan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru melakukan pengujian melalui random sampling. Parameter yang dipantau meliputi emisi CO, HC, PM dan NOx, fuel consumsion (carbon balance) dan CO2. Hasil pengukuran pengujian ini akan dibandingkan dengan nilai rendah emisi sesuai dengan KepmenLH No. 252 Tahun 2004 tentang Peringkat Hasil Uji Tipe Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru.

Selain itu, KLH melalui kegiatan evaluasi penaatan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru telah melakukan pengujian terhadap 33 jenis kendaraan bermotor roda 4. Dari hasil pengujian ini, didapatkan nilai terbaik (a) untuk kendaraan berbahan bakar bensin yaitu Honda CR-V RE3 2WD 2.4 CKD A/T dengan nilai 98.118; (b) untuk kendaraan berbahan bakar solar yaitu Toyota Fortuner 2.5 G M/T dengan nilai 55.770.

Sebagai bentuk apresiasi kepada 6 (enam) kota terbaik sebagai “Kota Langit Biru 2011”, KLH memberikan plakat dan sebuah sepeda listrik yang merupakan salah satu kendaraan ramah lingkungan, serta plakat untuk Agen Pemegang Merek kendaraan rendah emisi dan rendah konsumsi  bahan bakar yang diwakili oleh PT. Honda Prospect Motor dan PT. Toyota Motor Manufacturing.

Kegiatan lain yang dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menurunkan pencemaran udara di kota adalah Pemantauan Kualitas Bahan Bakar di SPBU. Kualitas BBM sangat berpengaruh terhadap emisi yang dihasilkan, semakin baik kualitas BBM tersebut maka semakin sedikit pula emisi berbahaya yang dikeluarkan dari proses pembakarannya.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Drs. M.R. Karliansyah, MS, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup, Tlp/Fax: 021-8580107, Email:adepalguna@gmail.com / mzaki43@yahoo.com / humas.klh@gmail.com

Kerjasama

  • Luar Negeri
  • Dalam Negeri
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
    • sponsor
Sex izle Film izle Hd Film izle Seo Danışmanı