KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA


Konferensi Nasional Danau Indonesia II

Semarang, 13 Oktober 2011. Kementerian Lingkungan Hidup menyelenggarakan Konferensi Nasional Danau Indonesia II (KNDI II) pada tanggal 13 – 14 Oktober 2011. Konferensi  ini merupakan tindak lanjut dari Konferensi Nasional Danau Indonesia I yang melahirkan Kesepakatan Bali tentang Pengelolaan Danau Berkelanjutan pada tanggal 13 Agustus 2009. Konferensi 2009 itu telah menyepakati 15 (lima belas) danau menjadi danau prioritas periode 2010-2014, yang dipilih berdasarkan parahnya tingkat kerusakan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Danau-danau itu yakni Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Maninjau dan Danau Singkarak (Suamtera Barat), Danau Kerinci (Jambi), Rawa Danau (Banten), Danau Rawapening (Jawa Tengah), Danau Batur (Bali), Danau Tempe dan Danau Matano (Sulawesi Selatan), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Limboto (Gorontalo), Danau Sentarum (Kalimantan Barat), Danau Cascade Mahakam (Semayang, Melintang, Jempang), dan Danau Sentani (Kalimantan Timur). Kesepakatan KNDI I di Bali ditandatangani oleh sembilan (9) Menteri terkait yaitu Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pertanian, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Kebudayaan dan Pariswisata, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Saat ini, perhatian yang cukup besar juga diberikan Komisi VII DPR RI. Mereka telah membentuk Panitia Kerja (Panja) Kawasan 15 Danau Prioritas.  Diharapkan pembentukan Panja ini dapat memberikan stimulan positif serta multiplier effect kepada pihak lainnya untuk bergerak lebih nyata lagi menyelamatkan danau agar tujuan pengelolaan danau berkelanjutan dapat tercapai.

Konferensi Nasional Danau Indonesia ini merupakan kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dalam upaya pengelolaan ekosistem danau berkelanjutan yang memerhatikan prinsip keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.

Tema penyelenggaraan KNDI II, “Langkah Nyata Penyelamatan Danau Indonesia” lahir dari keprihatinan terhadap fakta yang memperlihatkan keadaan ekosistem danau prioritas di Indonesia yang terus mengalami penurunan.

Dalam Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) II di Semarang ini diluncurkan secara resmi Gerakan Penyelamatan Danau (GERMADAN) di Indonesia. Gerakan Penyelamatan Danau ini penting dilakukan agar komitmen untuk menjaga, menyelamatkan, dan mengedepankan fungsi dan manfaat danau sebagai sumberdaya alam dapat terus dikembangkan karena fungsi dan manfaat danau yang sangat besar, baik secara ekonomi, sosial, budaya maupun keanekaragaman hayatinya.

Gerakan Penyelamatan Danau Rawapening diluncurkan secara resmi bertepatan dengan penyelenggaran KNDI II ini. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi momentum penyelamatan danau-danau di Indonesia. Kondisi Danau Rawapening yang luasnya mencapai 2.500 hektar, berada pada tingkat kerusakan dan pencemaran yang tinggi. Menurut data dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro, volume air sudah berkurang hingga 30 persen. Sebab, endapan di danau mencapai 270-880 Kilogram per hari atau mencapai 780 ton per tahun.

“Penutupan eceng gondok di Danau Rawapening kurang lebih sudah mencapai 70 persen, dan jika kita tidak berbuat apa-apa maka pada tahun 2021 Danau Rawapening akan menjadi daratan. Kondisi Danau Rawapening Ini merupakan gambaran kondisi danau di hampir seluruh Indonesia sudah siaga satu. Selamatkan danau menjadi pilihan tepat untuk mengatasinya. Diharapkan sejak hari ini komitmen penyelamatan danau di Indonesia sudah selalu menjadi langkah nyata penyelamatan danau,” urai Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof. DR. Gusti Muhammad Hatta, MS, Menteri Negara Lingkungan Hidup pada sambutan pembukaan Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) II.

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi MenLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, Telp/Fax. 021 – 85904923, email humas.klh@gmail.com