KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

“Dampak dari degradasi lingkungan sudah banyak kita rasakan saat ini untuk itu gerakan masyarakat peduli lingkungan sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini. Setiap orang dapat melakukan dari hal yang paling kecil di dalam kehidupan sehari-harinya, seperti menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah, dll. Kegiatan penanaman pohon hari ini diharapkan tidak berhenti pada hari ini tetapi menjadi satu gerakan masyarakat untuk kepentingan kita bersama,’  Hal itu disampaikan oleh MENLH dalam tiap kegiatan penanaman pohon di Bali. MENLH pada tanggal 13 Pebruari 2009 bersama beberapa jajaran Eselon I MENLH melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bali. Dalam kunjungan kerja ini MENLH telah dijadwalkan untuk menghadiri 3 (tiga) acara, yaitu: Pencanangan Penanaman Pohon dalam rangka Gerakan Bakti Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional di Pulau Serangan yang diselenggarakan oleh Walikota Denpasar, Penutupan Workshop Rencana Pengelolaan Penghapusan HCFC dan Penanaman Pohon dalam rangka ulang tahun EMAS GAPENSI di Pura Luhur Pekendungan, Tanah Lot.

Adapun acara workshop Rencana Pengelolaan Penghapusan HCFC yang diselenggarakan selama 3 hari (11-13 Pebruari 2009)  bertujuan untuk mendapatkan masukan dari sektor terkait terhadap percepatan program penghapusan HCFC di Indonesia dan penyelelenggaraan workshop ini juga sebagai upaya untuk menindaklanjuti Keputusan Meeting of Parties (MOP) Protokol Montral ke 19 yang dilaksanakan di Montreal Tahun 2007 menetapkan bahwa untuk mempercepat penghapusan Hydrochlorofluocarbon (HCFC) bagi kegiatan produksi atau manufaktur dari tahun 2040 menjadi 2030. Kaitannya dengan jadual tersebut maka seluruh Negara berkembang harus bersiap mengantisipasi semua dampak yang diakibatkan oleh keputusan tersebut. Indonesia melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 24/M.Dag/Per/06/2006 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Ozon telah mengatur tentang tata cara impor HCFC setelah pelarangan imfor CFC mulai awal januari 2008.

Pengaturan tentang jadwal penghapusan HCFC yang sudah diputuskan dalam MOP-19 bagi Negara artikel 5 (Negara berkembang) adalah pembekuan konsumsi dan produksi HCFC dari tingkat rata-rata konsumsi tahun 2009-2010 pada tahun 2013, pengurangan sebanyak 10% pada tahun 2015, pengurangan 35% pada tahun 2020, pengurangan 67,5% pada tahun 2025 dan pengurangan 97,5% pada tahun 2030. Pembatasan HCFC sebesar 2,5% dari tingkat base-line pada tahun 2030 adalah hanya untuk memenuhi kebutuhan servis.
HCFC  banyak digunakan dalam berbagai sektor industri, antara lain HCFC 141b atau HCFC 141b sebagai bahan pengembang pada produksi foam, HCFC 22 sebagai bahan pendingin pada AC, HCFC 123 sebagai bahan pendingin pada Chiller. HCFC juga digunakan sebagai bahan pemadam api, pencuci kimia/solvent,aerosol propellant, dll HCFC juga berpotensi untuk menyebabkan perusakan lapisan ozon dan pemanasan global.

Indonesia aktif mendukung keputusan MOP-19 dengan menyiapkan HCFC Phase-Out Management Plam (HPMP) atau Rencana Pengelolaan Penghapusan HCFC yang merupakan penjabaran strrategi dan rencana kerja untuk mengendalikan penggunaan HCFC dan untuk mentaati jadwal baru pencepatan HCFC yang telah diadopsi oleh masyarakat internasional. Informasi lebih lanjut mengenai hal ini dapat menghubungi: Ir. Sulistyowati, MM (Asisten Deputi Urusan Pengendalian Dampak Perubahan Iklim Gd. A Lt. 6 KLH Telp: (0218517164, 85902521 atau ozon@menlh.go.id (HMS)

Sumber:
Asdep Edukasi dan Komunikasi
E-mail: edukom@menlh.go.id