KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Yogyakarta, 21 Januari 2004.

Yang kami hormati:
Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati Sukarnoputri,
Ketua MPR,
Ketua DPR dan DPRD,
Rekan-Rekan Kabinet Gotong Royong,
Gubernur dan Bupati/Walikota,
Anggota DPR dan DPRD,
Wakil-Wakil Kelompok Utama,
Para Hadirin dan Undangan yang berbahagia,

Assalamualaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur kita panjatkan Kehadhirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin-Nya pada hari ini kita dapat berkumpul bersama-sama untuk mengikuti Konferensi Nasional Pembangunan Berkelanjutan atau Indonesian Summit on Sustainable Development (ISSD). Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami, karena Ibu Megawati Sukarnoputri, Presiden Republik Indonesia, telah berkenan meluangkan waktu untuk hadir dan bertatap muka dengan kita pada kesempatan ini. Untuk ini, kami atas nama hadirin menyampaikan hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya.

Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati yang saya hormati,
Visi bangsa adalah sebuah impian kemana suatu bangsa akan dibawa. Para pelopor kemerdekaan Republik Indonesia dahulu telah memandang pentingnya visi bangsa Indonesia dengan mencantumkannya dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pada intinya, visi bangsa Indonesia adalah terlindunginya segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, bangsa yang sejahtera dan cerdas, bangsa yang ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam mencapai usianya yang ke 58 ini, bangsa Indonesia telah mengalami pasang surut dalam langkah-langkah perjuangannya menuju visi tadi. Beberapa tahun yang lalu, perjuangan kita ini dihadang musibah. Musibah ini terjadi karena kita terlalu memfokuskan kepada pertumbuhan ekonomi dan melupakan dimensi lain yang penting bagi pertumbuhan bangsa. Pertumbuhan sosial yang kurang mendapatkan perhatian telah melahirkan ketidakadilan. Hari-hari inipun kita menghadapi musibah dalam bentuk bencana lingkungan yang beruntun seperti banjir dan tanah longsor dimusim hujan serta kekeringan dan kelangkaan air bersih di musim kering. Bangsa adalah sekumpulan manusia, yang dapat saja membuat kesalahan; tapi manusia juga mempunyai kemampuan belajar dari kesalahan. Maka sudah masanya kita benar-benar menyadari bahwa untuk mencapai visi bangsa, kita tidak dapat hanya melihat dari satu dimensi saja, yaitu dimensi pertumbuhan ekonomi; kita juga tidak dapat hanya menambahkan satu dimensi lagi, yaitu dimensi keadilan sosial; kita sudah belajar bahwa ketiga dimensi pertumbuhan bangsa, yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi lingkungan hidup perlu secara bersama dan seimbang mendapatkan perhatian yang intensif, kontinu, dan konsisten.

Indonesia tidak sendiri dalam proses pembelajaran ini. Bangsa-bangsa di dunia inipun mengalami yang sama. Pada tingkat global, kita melalui berbagai proses yang menggembirakan seperti naiknya pendapatan per kapita, life expectancy yang makin meningkat, serta terus meningkatnya volume perdagangan global. Walaupun demikian, pada tingkat global kita juga sedang mengalami berbagai kecenderungan yang memprihatinkan, seperti meningkatnya ketidak adilan, makin besarnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin, makin terkurasnya sumber daya alamn, serta makin rusaknya lingkungan hidup. Berbagai kecenderungan yang memprihatinkan ini mengantar kita pada suatu keadaan; yaitu pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Maka timbul kebangkitan global untuk secara bersama pada tingkat lokal, pada tingkat nasional dan pada tingkat global untuk mengukuhkan komitmen kita pada pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Komitmen yang dicapai pada Konperensi tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio (1992) yang pelaksanaannya masih dianggap kurang memuaskan, kemudian dikukuhkan lagi pada Konperensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan di Johannesburg pada tahun 2002. Konperensi di Johannesburg menghasilkan Deklarasi Johannesburg dan Rencana Pelaksanaannya.

Ibu Presiden Republik Indonesia yang saya hormati dan Saudara-Saudara sekalian,
Kitapun menjadi bagian dari komitmen global ini karena: pertama masalah yang dihadapi dunia juga merupakan masalah kita sendiri; dan kedua karena amanah dari visi bangsa yang menghendaki peran serta dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Dalam melaksanakan komitmen ini, kita bertitik tolak dari situasi lokal dan kepentingan nasional, disamping komitmen global. Dengan demikian, dengan memperhatikan tiga pilar Pembangunan Berkelanjutan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan hidup, kita memfokuskan usaha kepada pengentasan kemiskinan, perubahan pola konsumsi dan produksi serta pelestarian lingkungan hidup. Langkah-langkah ini selanjutnya diusahakan melalui proses kemitraan antara Pemerintah, bisnis, dan masyarakat madani.
Dengan gambaran seperti ini, maka proses kesepakatan yang akhirnya dihasilkan hari ini merupakan proses panjang dari bawah dengan melibatkan masyarakat yang luas. Konferensi Nasional Pembangunan Berkelanjutan ini sendiri merupakan suatu rangkaian pertemuan yang dimulai di Pekan Baru, disambung dengan pertemuan-pertemuan di Banjarmasin, Makassar, Mataram, Yogyakarta dan Jakarta.

Kelompok Utama yang berperan dalam proses ini adalah: pemuda dan anak, perempuan, petani, buruh-karyawan, pengusaha, akademisi dan ilmuwan, masyarakat adat, pemerintah daerah, LSM, TNI-POLRI, agamawan, budayawan dan pegawai negeri.

Ibu Presiden Republik Indonesia yang saya hormati, Saudara-Saudara sekalian,
Dengan melalui suatu proses yang cukup panjang ini, maka tujuan pertemuan kita hari ini adalah:
– membangun dan menegaskan kembali komitmen nasional dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan,
– mengarus-utamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam kebijakan pembangunan nasional dan daerah, dan
– mendorong aksi nyata seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan melalui kemitraan.

Dalam Konferensi Nasional Pembangunan Berkelanjutan ini, kami mengundang antara lain : Ketua Lembaga Tertinggi Negara dan Tinggi Negara; Para Ketua Fraksi MPR dan DPR; para Menteri Kabinet Gotong Royong dan Pejabat Setingkat Menteri, para Gubernur, para Bupati/Walikota, Ketua DPRD, para ketua partai politik, para ketua organisasi massa, wakil-wakil kelompok utama masyarakat (major groups), perwakilan negara sahabat, dan perwakilan lembaga internasional.

Presiden Republik Indonesia yang kami hormati,
Demikianlah laporan singkat kami, selanjutnya kami mohon perkenan Ibu Presiden untuk memberikan amanat pada konferensi ini.

Terima kasih. Wassalamu Alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh.

Yogyakarta, 21 Januari 2004
Menteri Lingkungan Hidup,

Nabiel Makarim