KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

 

Kesehatan Lingkungan

JAKARTA—Limbah cuci piring dari 44 lapak pedagang makanan di sepanjang Jalan Biak, Kelurahan Cideng, Jakarta Pusat, “disulap” menjadi air bersih. Sehingga limbah yang tidak berguna dan membahayakan lingkungan itu kini bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.
Lurah Cideng Siti Nurbaiti mengatakan hal tersebut dapat dilakukan berkat penerapan teknolagi daur ulang limbah yang diwujudkan dalam bentuk Tanaman Ekoteknologi. Dengan penerapan teknologi ramah lingkungan itu, racun dan sejumlah zat berbahaya yang terdapat pada limbah tak lagi menjadi ancaman bagi lingkungan sekitar. Bahkan, air bersih yang dihasikan kini juga telah dimanfaatkan oleh pihak kelurahan untuk menyiram tanaman yang berada di depan Kelurahan Cideng.

Ia menjelaskan sistem pengolahan limbah cair ini mampu menghasilkan air bersih sebanyak 12 meter kubik per hari. Dengan begitu, pihaknya bisa menghemat penggunaan air untuk menyiram tanaman di lingkungan kantor kelurahan tersebut. “Sejak pengolahan limbah ini ada, untuk menyiram tanaman kami sepenuhnya menggunakan air olahan ini,” ujarnya, Senin (5/4).
Menurutnya, ide pembuatan sistem pengolahan limbah cair ini ketika dirinya membaca tabloid dan melihat adanya teknologi tepat guna untuk mengolah air limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Berbekal ide itu, dirinya terdorong untuk mempraktikkannya di lingkungan Kelurahan Cideng.
Ia pun langsung mengajukan proposal ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tidak disangka, proposal itu disambut baik oleh Kementerian PU bekerja sama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) milik Pertamina.
Seusai melalui proses baberapa tahap, tahun 2009 sistem pengolahan limbah cair ini difungsikan di atas taman yang berada tepat di depan Gedung Kelurahan Cideng, Jakarta Pusat. “Setelah mendapat bimbingan teknis dari Pertamina melalui CSR-nya, sistem ini akhirnya terwujud,” ungkapnya.

Mekanisme Pengolahan

Siti menyebut untuk mekanisme pengolahan air limbah berawal dari mesin pompa yang terletak di got depan taman yang bekerja menyedot air limbah cair sisa cucian piring yang berasal dari 44 lapak pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Biak.
Kemudian, air limbah itu dialirkan ke dalam 3 tong besar. Masing-masing tong memproses air limbah dan lalu mengalirkannya ke 4 kolam tanaman air yakni tanaman lotus, kana air,tifa, dan melati air.
Keempat tanaman itu ditanam karena akar-akarnya bisa menyedot zat-zat kimia beracun yang terkandung dalam air limbah cucian piring. Setelah akar tanaman menyedot zat kimia beracun, air telah bersih dan aman untuk digunakan menyiram tanaman. Pengoperasian alat ini relatif mudah, hanya diperlukan seorang petugas harian saja,” katanya.
Musa, 45 tahun, salah seorang pedagang menyambut baik adanya teknologi tersebut. Karena alat itu bisa mengurangi persoalan limbah makanan selama ini. “Saya memang dari dulu membuang sampah padat di karung dan buang sisa cucian piring kedalam got. Dengan alat itu saya ikut senang karena limbah cair itu jadi tak membahayakan lingkungan,” kata dia. (ucm P-2)

Sumber
Koran Jakarta
Selasa, 6 April 2010
Halaman 6