KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Sri Hudyastuti, Plt. Deputi MenLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas "Lingkungan Hidup, Bukan Masalah Pembuat Kebijakan Somata"

JAKARTA, SUAR- "Permasalahan lingkungan hidup, bukanlah permasalahan para pembuat kebijakan semata, melainkan masalah bagi setiap warga negara yang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Salah satu hak terkait dengan itu, adalah hak atas informasi yang berkaitan -dengan lingkungan hidup," demikian menurut Sri Hudyastuti, Plt. Deputi MenLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas dalam kata sambutannya saat membuka acara Peluncuran Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia (SHLI) 2007 dan Diskusi Panel dengan topik "Status Lingkungan Hidup dan Upaya Menuju Ketahanan Pangan di Indonesia", 28 Nopember di hotel Sahid Jakarta.

Sehubungan dengan itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) dalam enam tahun berturut-turut telah menyusun dan menerbitkan buku laporan SHLI sebagai gambaran potret lingkungan Indonesia dalam hubungannya dengan pengelolaan lingkungan hidup. Buku SHLI 2007, kata Sri Hudyastuti menyajikan berbagai informasi dan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan pengelolaannya. Penyusunan laporan SHLI 2007 digunakan pendekatan media lingkungan dengan melihat isu lingkungan melalui perspektif komponen lingkungan utama yaitu, udara, air, lahan dan hutan, serta pesisir dan laut. Selain itu, pembahasan juga menyinggung keanekaragaman hayati, energi, sampah, pengelolaan B3 dan limbah B3.

Hal yang menarik pada SHLI 2007 adalah penemuan baru beberapa jenis burung di Suaka Margsatwa Muara Angke oleh ekspedisi Fauna dan Flora International Indonesia Program. Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan habitat bagi 91 jenis burung (28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan).

Untuk kali ini, laporan SHLI juga dilengkapi dengan suplemen berjudul "Pemanasan Global dan Perubahan Iklim ; Konteks dan Implikasinya Bagi Indonesia." Ada hal menarik dalam suplemen ini yakni penempatan Indonesia pada urutan ketiga , negara penghasil Emisi Gas rumah Kaca (GRK) terbesar di dunia menurut PEACE 2007. Selain itu juga disinggung adanya kesalahan atau perbedaan asumsi dalam penghitungan emisi karbon yang bersumber dari tata guna lahan dan hutan di Indonesia, yang seharusnya tidak sebesar dengan yang dilaporkan oleh PEACE 2007.

Untuk mempertajam pemahaman atas isi laporan SHLI 2007, maka diadakan diskusi panel dengan menampilkan empat nara sumber yakni, Hermien Rosita, Deputi I MenLH bidang Tata Lingkungan, H S Dillon, Direktur Eksekutif Centre for Agricultural Policy Study, Dr A M Fagi, Peneliti Utama Balitbang Pertanian, Dr. Hariadi Kartodihardjo, Pengajar Fakultas kehutanan IPB. Diskusi panel yang dipandu oleh Amanda Katili Niode PhD, Staf Khusus MenLH secara khusus menyoroti ketahanan nasional mengatasi kondisi dan tekanan yang semakin meningkat.  Paulus Londo

Sumber:
Koran Akar Rumput
Hal 8
01-07 Desember 2008