KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

workshop_nasionaljpg.jpgPada tanggal 19 Juni 2008 di Magelang telah diadakan Lokakarya Nasional bagi perbankan yang mengedepankan bahasan tentang dampak perubahan iklim sebagai salah satu resiko yang perlu dimitigasi oleh perbankan dan adanya peluang usaha yang cukup besar dan menjadi potensi pembiayaan bagi perbankan. Lokakarya ini diselenggarakan atas kerjasama antara KLH dan bank-bank pelaksana program pinjaman lunak  (Bank BNI, Bank Jabar Banten, Bank Jateng, BPD Bali dan Bank Nagari).  

Lokakarya Nasional ini dibuka oleh Ibu Sri Hudyastuti, Plt.Deputi MENLH Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas yang menggarisbawahi pentingnya mengarusutamakan isu pemanasan global dan perubahan iklim pada kebijakan dan peran seluruh stakeholder, termasuk  lembaga keuangan. Hal ini  untuk mengurangi kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari.  Dalam hal ini, perbankan mempunyai peran yang potensi yang besar bagi perbaikan kualitas lingkungan, terutama karena upaya untuk mengurangi kerusakan dan pencemaran lingkungan senantiasia membutuhkan pembiayaan, terutama bagi pengadaan investasi. Sekretariat PBB untuk Perubahan Iklim pada hari pertama konferensi UNFCCC di Bali pada bulan Desember 2007 yang lalu,  melaporkan adanya kebutuhan aliran dana sebesar 200 – 210 miliar US Dolar untuk menurunkan gas rumah kaca sampai dengan tahun 2030. Selain itu bagi kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim diperkirakan diperlukan aliran investasi dan dana sampai dengan puluhan miliar US dolar. 

Para nara sumber pada lokakarya ini memaparkan materi yang  memberikan inspirasi kepada para pelaku perbankan  bahwa dampak perubahan iklim adalah tantangan nyata, yang harus disikapi dengan mengoptimalkan berbagai peran. Ibu Amanda Katili, Staf Khusus MENLH dan pemegang license dari AL GORE sebagai pembicara pertama telah menumbuhkan kepedulian terhadap isu perubahan iklim.  Dilanjutkan oleh Ibu Felia Salim wakil direktur PT. BNI 46, yang memaparkan berbagai peluang dan pengalaman BNI dalam hal pembiayaan investasi lingkungan dan upaya untuk mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam kebijakan perbankannya. Hal tersebut kemudian  disambut oleh Bapak Imansyah dari Bank Indonesia  yang menjelaskan pentingnya memasukan risiko perubahan iklim ke dalam operational risk perbankan.  Pada sesi berikutnya, berbagai bentuk investasi lingkungan yang merupakan peluang pembiayaan bagi perbankan dipaparkan oleh para praktisi yang telah memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Bapak Dodiek Suyanto (PT. Permata Hijau) memaparkan keuntungan dari skema CDM bagi pengolahan limbah sawit. Hal tersebut dipertegas oleh Bapak Hidayat (PT. Mitran) yang telah memanfaatkan peluang bisnis yang sangat menjanjikan dari usaha pengolahan sampah perumahan. Selanjutnya Bapak Tatang Hermas Soerawidjaja (Kepala Pusat Peneliti Energi Berkelanjutan ITB), dengan sangat menarik memaparkan berbagai teknologi pemanfaatan “waste to energy