KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

lokarya_sewu.jpgYogyakarta, 27 Nopember 2007. Sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Wilayah Geologi egunungan Sewu dan Gombong sebagai Kawasan Eko Karst oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 6 Desember 2004 di Kabupaten Gunungkidul, Kementerian Negara Lingkungan Hidup memfasilitasi penyusunan Rencana Strategis Konservasi dan Pengendalian Kerusakan Kawasan Karst Gunungsewu. Untuk keperluan penyusunan Renstra tersebut, Deputi III MenLH Bidang Peningkatan Konservasi SDA dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan melalui Asdep Urusan Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah Provinsi D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, serta Pacitan.

Untuk melengkapi Renstra tersebut, telah dilaksanakan Lokakarya Pengelolaan Ekosistem Karst Gunungsewu pada tanggal 27 Nopember 2007 di Wisma MM UGM, Yogyakarta yang dihadiri oleh instansi pusat, pemerintah daerah, akademisi, LSM, dan kelompok masyarakat dari 3 kabupaten terkait. Lokakarya ini membahas Renstra Pengelolaan Ekosistem Karst Gunungsewu, yang dalam diskusi kelompok dibagi kedalam tiga (3) topik bahasan, yakni: Aspek Ekologi, Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya, serta Aspek Kelembagaan. Beberapa hal yang menjadi fokus telaahan mencakup: [1] isu-isu strategis, [2] permasalahan, [3] tujuan, [4] indikasi program, [5] indikator keberhasilan, [6] pelaksanaan, [7] pentahapan, dan [8] pendanaan.

Dari pertemuan ini muncul sebuah gagasan untuk mengadakan lembaga karst yang berfungsi sebagai koordinator dan fasilitator dalam melakukan koordinasi diantara berbagai pihak yang berkepentingan sesuai dengan hierarki kewenangan, baik tingkat pusat maupun daerah.

Sebagai tindak lanjut dari lokakarya ini, akan diadakan kegiatan aksi konservasi melalui penanaman di lahan kritis dan daerah sekitar telaga di tiga (3) kabupaten yang termasuk dalam wilayah Gunungsewu. Penanaman itu sendiri direncanakan akan dilaksanakan pada pertengahan Desember 2007 setelah kegiatan UNFCCC di Bali selesai. Diharapkan dengan tersusunnya Renstra Pengelolaan Ekosistem Karst Gunungsewu, akan diikuti dengan renstra-renstra untuk kawasan karst lainnya di Indonesia sehingga pengelolaan kawasan karst secara nasional dapat terwujud.

Sumber:
Asisten Deputi Urusan
Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan
Telp/ Fax           : 021-85904934
E-mail               : hutla@menlh.go.id