KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Penjualan Satwa langka akhir-akhir ini makin menggila, di berbagai kota besar di Sumatera, Kallmantan, Irian Jaya dan di kota-kota lainnya. Jakarta, ternyata paling banyak satwa langka yang diperjualbelikan atau dipelihara khususnya oleh para konglomerat dan para pejabat.

Jual beli satwa langka yang dilindungi undang-undang, di sejumlah pasar satwa di Jakarta, kini semakin marak dijual bebas. Misalnya di pasar burung Pramuka, Jakarta Timur dan Barito di Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Menurut pengamatan Serasi di beberapa daerah dan di pasar-pasar hewan di DKI Jakarta, saat ini tidak sulit ditemui satwa langka seperti burung Cendrawasih kepala kuning, dan hitam, burung kakak tua, burung beo nias, burung nuri kepala hitam, anak kucing hutan, uwa-uwa, harimau dan anak rusa.

Di pasar Pramuka, Jakarta Timur, satwa langka yang dilindungi undang-undang memang tidak terlihat di kios-kios pedagang hewan. Namun di pasar ini para pedagangnya langsung menyambut calon pembeli satwa langka yang datang dan menawarkannya.

“Tidak susah untuk membeli burung cendrawasih dan merak di Pasar Pramuka,” ujar salah satu pembeli yang pernah membeli burung merak di pasar Pramuka. Dia menambahkan, setelah melakukan negosiasi dan apabila 50 persen harga sudah disepakati, penjual dan calo tersebut mengantarkan calon pembeli ke tempat disembunyikan satwa langka yang diinginkan.

“Saya biasa diantar dan membeli di rumah penyimpanannya di kawasan Klender, Jakarta Timur,” ujar salah seorang pembeli tanpa menyebutkan namanya.

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, M. Purba mengakui maraknya jual beli satwa langka di sejumlah pasar satwa di Jakarta. Bahkan kata dia, “Penjual satwa langka ini modusnya lebih rapi dan canggih.”

“Ada semacam sindikat perdagangan satwa langka,” tegasnya lagi. Pihaknya mengalami kesulitan untuk melakukan razia dan memberantas kepemilikan satwa langka. Sementara alat dan personil yang dimiliki oleh BKSDA DKI Jakarta sangat terbatas, keadaan ini ironis memang.

Untuk itu M. Purba mengimbau seluruh masyarakat dan para penjual sadar atas perlindungan satwa langka. Salat satu wujud atas kesadaran hukum itu adalah dengan mendaftarkan diri satwa langka yang dimiliki kepada Bada Konservasi Sumber Daya Alam.

“Saya imbau kepada pemilik satwa langka untuk segera mendaftarkan satwa-satwa langka mereka kepada BKSDA” tuturnya.

Sebab pihaknya tidak akan membuka lagi pendaftaran untuk mengajukan izin memiliki satwa langka. Menurut data pada tahun 2001 tercatat 25 pemilik satwa langka yang sudah terdaftar dan masih banyak lagi yang belum mendaftar.

Kesadaran hukum pemilik satwa langka dan terlindungi saat ini sangat rendah padahal menurut pengamatan Serasi, mereka umumnya orang-orang kaya (konglomerat) dan para pejabat negara, yang seharusnya menyadari akan kesalahannya tersebut.
Sedangkan terhadap penjual di beberapa pasar satwa, pihak BKSDA, akan melakukan razia dan pemberantasan, bahkan bila mereka membangkang dan terbukti memperjualbelikan satwa langka bisa diadukan ke pengadilan dan diproses sesuai hukum.

Para pedagang satwa langka, telah melanggar Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber Jaya alam dan ekosistem. Undang-undang tersebut melarang untuk memelihara dan memiliki satwa secara pribadi.

Para pelaku yang memelihara dan memiliki satwa langka telah melakukan tindak kejahatan dan dapat diancam dengan hukuman satu tahun penjara atau denda Rp. 50 juta jika terbukti memelihara dan memiliki satwa langka.

Bila langkah tegas tidak dilakukan, dikhawatirkan beberapa satwa langka dan binatang dilindungi cepat atau lambat akan punah. Sehingga bukan tidak mungkin, bila hal ini tidak dicegah, Indonesia akan kehilangan satwa langka.

Menurut catatan Serasi operasi satwa langka sering dilakukan oleh BKSDA, operasi tersebut melibatkan Polda Metro Jaya dan berhasil menjaring 35 ekor satwa langka. Selain itu juga belum lama tim Gabungan BKSDA, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya berhasil menjaring tiga primata asal Kalimantan dan Sumatera di kawasan Jakarta dan Depok. Sedangkan di beberapa kota lain di Indonesia sering juga dilakukan razia, tapi karena belum ada pemilik yang diperkarakan dan dihukum sesuai dengan kesalahannya, mereka dengan bebas memelihara hewan langka tersebut, bahkan ada yang sudah dikeringkan atau diawetkan. Mengerikan!