KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Dari berbagai kajian antrolinguistik menyebut bahwa pengguna bahasa Talang Mamak saat ini berjumlah 6.500 jiwa yang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau. Mereka bermukim di sekitar hutan di  Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Pola pencaharian berupa ladang dan kebun secara sederhana.  Dengan adat-istiadat, peran tokoh adat  dan bentuk kearifan lainnya, mereka telah  terbukti berperan dalam prelestarian hutan  TN Bukit Tigapuluh. Berbagai tindakan pencurain kayu berhasil digagalkan oleh komunitas adat ini. Mereka menangkap pelaku dan menindaknya sesuai dengan sanksi adat yang berlaku.

Besarnya pengaruh dari luar ditambah meningkatnya kebutuhan, mengharuskan komunitas Talang Mamak untuk mencari sumber-sumber penghasilan tambahan. Hasil kebun dan padi ladang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan terutama untuk menndapatkan barang kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan sendiri. Atas dasar itu, ada kecenderungan  justru terdorong sebagai tenaga upahan untuk melakukan penebangan pohon. Untuk mengantisipasi hal tersebut, upaya pelestarian hutan seyogyanya memberi manfaat ekonomi bagi warga Talang Mamak. Hutan adat yang luasnya11.000 ha sangat berpotenbsi untuk dijual, dirambah atau ditebangi pohonnya, jika tidak memberi manfaat ekonomi. Maka model Wanatani di tanah ulayat dengan menanam berbagai tanaman produktif, seperti buah-buahan, rotan manau, sangat tepat dikembangkan, selain memberi fungsi pelestarian juga memberi manfaat ekonomi.

Saat ini KLH menfasilitasi Yayasan Alam Sumatera untuk melakukan pendampingan dan pengembangan demplot wanatani di Kampung Durian Cacar, Kec. Kelalayang. Sebanyak 10.000 pohon tanaman produktif telah ditanaman di lahan ulayat Talang Mamak Durian Cacar. Untuk mengetahui lebih jauh tentang persoalan lingkungan di TN Bukit Tigapuluh, manampung aspirasi  dan membangun komitmen semua pihak dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan adat, tanggal 1 September 2004 telah dilakukan dialog interaktif yang diikuti sekitar 300 orang terdiri dari perutusan masyarakat adat Talang Mamak dan Melayu, LSM, Mapala Univ. Riau, BKSDA, BP DAS Indragiri, Pemda Indragiri Hulu, Pemda Propinsi Riau, KLH, dan Pengusaha. Hadir pada acara tersebut Staf Khusus MENLH, Prof. Dr. Setijati D. Sastrapradja, Asdep Urusan Masyarakat Pedesaan-Tradisional dan Adat beserta staf. Dialog interaktif ini dirangkaian dengan pengukuhan 100 kader lingkungan yang diawali dengan penyampaian komitmen lingkungan. Salah satu butir komitmen tersebut adalah kesediaan untuk menanam dan merawat pohon, dan dukungan kepada Bupati dan DPRD Indragiri Hulu yang memiliki komitmen terhadap lingkungan. Pada kesempatan ini, Prof.Dr. Setijati D. Sastrapradja menyerahkan 10.000 bibit pohon yang diserahkan secara simbolik kepada 5 orang perutusan kader lingkungan.  Penanaman 10.000 pohon dilakukan melalui pendampingan Yayasan Alam Sumatera (YASA) pada komunitas Talang Mamak Durian Cacar.  Seusai acara dialog, dilanjutkan dengan peninjauan ke hutan adat Talang Mamak di Desa Durian Cacar yang dipandu oleh Yayasan Alam Sumatera.

Informasi Lebih Lanjut Hubungi:


Asdep 2/III, Deputi III

Ged. B Lantai 5

Kementerian Lingkungan Hidup

Jl. D.I. Panjaitan, Kebon Nanas

Jakarta Timur 13410

Telp (021) 8520392; Faks. (021) 8580087

E-mail: kalpataru@yahoo.com