KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Penutupan Kegiatan Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3 Tahap 1
Di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
Bogor, 9 Juni 2014. Hari ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengadakan Penutupan Kegiatan Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3 Tahap 1 di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Penutupan secara resmi ditandai dengan kegiatan penanaman rumput di atas sarana enkapsulasi yang selanjutnya berfungsi sebagai fasilitas umum. Deputi MENLH Bidang Pengelolaan B3, Limbah B3 dan Sampah KLH, Drs. Rasio Ridho Sani, MPM, M.Com yang memimpin Penutupan ini menyampaikan “Maksud penutupan kegiatan pemulihan adalah memberikan gambaran dan pengetahuan sarana enkapsulasi yang memenuhi persyaratan sebagai tempat pengamanan tanah terkontaminasi limbah B3. Tujuannya adalah menutup kegiatan pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 tahap 1 berupa sarana enkapsulasi yang telah berisi penuh dengan tanah terkontaminasi limbah B3 (lead sludge) dan menyerahkan sarana tersebut kepada Pemda Kabupaten Bogor guna pelaksanaan pemantauan kinerja sarana tersebut.”

Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemda Kabupaten Bogor dibantu oleh Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) dan Blacksmith Institute melakukan pemulihan (clean up/remediasi) lahan terkontaminasi limbah B3 di Desa Cinangka pada Oktober 2013 – Maret 2014. Pencemaran Timbel belum sirna dari bumi Indonesia, dimana ancaman Timbel kali ini berasal dari usaha peleburan aki bekas untuk memperoleh balok Timbal (lead ingot) yang menjadi bahan baku industri battery, elektronika, cat, kaca dll. D satu sisi, peleburan aki bekas memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil dan mampu menopang pembangunan ekonomi. Namun, berbagai penelitian mengenai pencemaran Timbel menunjukkan dampak yang bersifat merusak terhadap sistem syaraf manusia yang berakibat fatal, seperti penurunan poin IQ pada anak-anak, penurunan kemampuan belajar, peningkatan agresifitas dan anti sosial pada remaja, cacat fisik pada janin, tekanan darah tinggi pada laki-laki dewasa, frigiditas pada perempuan, keguguran spontan pada ibu hamil, penurunan fungsi reproduksi dan impotensi laki-laki, kerusakan fungsi ginjal, dan kerusakan permanen pada fungsi otak.

Lebih lanjut, Deputi MENLH Bidang Pengelolaan B3, Limbah B3 dan Sampah KLH mengatakan “Peleburan aki bekas di Desa Cinangka yang dilakukan oleh masyarakat setempat diperkirakan sudah berlangsung sejak 1978. Hasil penelitian menunjukkan kadar Timbal (Pb) di dalam tanah mencapai 270.000 ppm (270.000 mg/Kg), sedangkan standard yang ditetapkan oleh WHO sebesar maksimal 400 ppm (400 mg/Kg), disamping itu kadar Pb di dalam darah masyarakat di sekitar lokasi sudah ada yang mencapai 65 µg/dL. Konsentrasi ini melebihi dari batas aman yang ditetapkan oleh WHO yaitu 10 µg/dL.”

Kegiatan peleburan aki bekas di Desa Cinangka Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor telah dilakukan sejak 1978, sehingga menyebabkan pencemaran udara, air, dan tanah. Tanah di Cinangka telah tercemar Timbel, baik di tempat pembuangan slag dan sludge dan berbagai residu peleburan aki bekas, di pinggir jalan, pinggir sawah/ladang, bantaran sungai, lapangan olah raga, halaman sekolah, jalan raya, jalan setapak dll yang melingkupi hampir keseluruhan luas Desa Cinangka (350 Ha). Darah anak-anak juga memiliki kadar Timbel rata-rata 36,62 µg/dL, dengan tingkat minimum kadar timbel di dalam darah 16,2 µg/dL dan maksimum sangat tinggi (di atas angka 60 µg/dL). Sementara batas normal menurut WHO adalah maksimal 10 µg/dL. Fakta di lapangan menunjukan bahwa kesehatan anak-anak dan orang dewasa di Cinangka telah mengalami gangguan seperti sesak nafas, kram perut, sakit kepala, gangguan fungsi saraf, cacat fisik, proporsi tubuh kecil, keterbelakangan mental, autism, tremor, penurunan kemampuan intelektual, anemia dll yang diindikasi akibat terpapar pencemaran Timbel.

Pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 dilakukan oleh KLH bersama Pemda Kabupaten Bogor, KPBB dan Blacksmith Institute dengan clean up in situ yaitu pengangkatan tanah terkontaminasi limbah B3 (Timbel/lead slag dan sludge peleburan aki bekas serta residunya) sebanyak 2.850 m³ yang berasal dari 5 lokasi seluas 6.500 m² dan tersebar di area sekitar 4 Ha. Kemudian dilakukan penyimpanan dengan metode enkapsulasi (encapsulation lapisan ganda berupa tanah lempung 0,5 m dan Geo-membrane HDPE 1,5 mm) pada wadah berupa lubang raksasa dengan formasi trapezium terpancung posisi terbalik (alas bawah ukuran 25  x 25 m, bagian atas ukuran 41,4 x 41,4 m dan tinggi 4 m) yang ditanam pada kedalaman 6 m, sesuai dengan desain yang disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemda Kabupaten Bogor. Pemulihan ini merupakan Tahap Pertama, karena dengan selesainya pemulihan ini baru menyelesaikan kisaran 2 – 10% lahan terkontaminasi di Desa Cinangka yang mencakup lahan seluas 350 Ha.

Sepanjang pelaksanaan konstruksi, tim dari KLH dan Pemda Kabupaten Bogor melakukan verifikasi sehingga konstruksi enkapsulasi sudah dilakukan sesuai dengan desain dan tahapan yang disetujui cakupan kerja. Verifikasi terakhir dilakukan pada April 2014 dengan mengambil sampel tanah dari lokasi-lokasi yang dipulihkan dan hasil analisa di laboratorium independen menunjukkan bahwa konsentrasi Timbel (Pb) lahan terkontaminasi yang dipulihkan sudah pada kisaran aman yaitu 15 – 346 ppm, yang berarti sudah berada di bawah standar WHO (400 ppm). Tentu upaya ini belum selesai karena akan dilanjutkan dengan pemulihan tahap lanjutan baik di kawasan Desa Cinangka maupun di tempat lain di Indonesia yang terkontaminasi limbah B3.

Informasi Lebih Lanjut:
Drs. Rasio Ridho Sani, MPM, M.Com,
Deputi MENLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah
Tlp/Fax: (021) 85905637,