KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Komitmen partai politik terhadap masalah lingkungan hidup hingga kini masih diragukan berbagai pihak. Berbagai kasus menyeruak kepermukaan, seperti alih fungsi lahan hutan lindung di Bintan Riau yang menyeret sejumlah anggota DPR tentu dapat membenarkan keraguan public tadi. Hal sama juga masih terlihat pada level massa (politik), kendati beberapa parpol kerap mengklaim dirinya sebagai pihak yang peduli akan lingkungan.

Momentum kampanye pemilihan umum sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menakar kadar kesadaran parpol serta massa simpatisannya terhadap lingkungan hidup. Ini antara lain dengan mengamati perilaku mereka dalam menggelar kampanye. Sebab dari tema serta slogan kampanye, bentuk dan metoda serta pemilihan sarana kampanye, dan sebagainya, merupakan cerminan dari kesadaran suatu parpol terhadap lingkungan hidup.

Dalam menentukan tema dan slogan kampanye, misalnya, seberapa banyak tema dan slogan yang berisi anjuran memelihara kelestarian lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam secara benar dan berkesinambungan. Atau sebaliknya, berisi gugatan terhadap pencemaran dan perusakan lingkungan. Adakah desain kebijakan politik yang diusung oleh suatu parpol mencerminkan sikap pro lingkungan hidup.

Bentuk-bentuk kampanye di Indonesia yang umumnya berupa pemasangan tanda gambar, poster, baliho, konvoi kendaraan, rapat umum, dan sebagainya. Public tentu akan lebih mudah memberikan penilaian. Konvoi kendaraan bermotor, misalnya selain mencemari udara juga menimbulkan kemacetan lalu lintas serta kebisingan suara. Karena itu parpol yang sadar lingkungan tentu selain tidak akan sering menggelar konvoi kendaraan bermotor, dan juga mengawasi dengan ketat massa peserta kampanye agar tidak mengganggu lingkungan. Dengan kata lain, semakin sering parpol menggelar konvoi kendaraan, dan membiarkan peserta konvoi bertindak sesuka hati, merupakan pertanda rendahnya kesadaran lingkungan dari parpol itu.

Dalam pemilihan alat peraga, seperti, bendera, poster, spanduk, baliho, serta perlengkapannya, yang patut diperhatikan, apakah mereka menggunakan bahan-bahan tersebut sesuai dengan konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle), dan penempatannya diatur dengan baik sehingga tidak mengganggu keindahan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan. Atau sebaliknya, menggunakan bahan mengandung unsure berbahaya bagi lingkungan, tidak mudah didaur ulang, dan penempatannya sembarangan sehingga mengganggu kepentingan umum serta hak-hak orang lain.

Apakah pada menggelar rapat umum dilapangan atau lokasi tertentu, massa yang hadir mau membuang sampah pada tempatnya, tidak meninggalkan sampah disembarang tempat.

Beberapa parameter tersebut dapat dipakai untuk menakar kesadaran parpol terhadap lingkungan hidup. Hasil dari penilaian ini tentu patut disosialisasikan agar masyarakat dapat menentukan pilihannya secara benar dan tepat. ini penting agar pada saat memilih masyarakat tidak terkecoh, sebab yang layak dipilih tentu hanya parpol yang benar-benar peduli akan lingkungan hidup. Paulus Londo 

Sumber :

Media cetak, Koran Suara Akar Rumput
Edisi 1-7 September 2008, hal 8