KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

Rasa kecewa Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH), Ir. Rachmat Witoelar, disampaikan secara terbuka pada saat acara temu wicara dengan masyarakat, DPRD dan Pemda Kab. Banyuwangi, di Muncar pada tanggal 19 April 2006, hal tersebut disebabkan karena ketidak hadiran satupun penanggung jawab usaha bidang perikanan yang banyak berada di Muncar, padahal salah satu topik bahasannya adalah pembuangan limbah oleh 12 industri pengalengan ikan, 35 industri tepung ikan, 13 pabrik pengolah minyak ikan dan beberapa usaha dibidang cold storage, pemindangan ikan, pengasinan, pembuatan petis ikan, terasi dan penepungan lkan tradisional.

Melihat kondisi Sungai Kalimati dan Sungai Tratas sebagai tempat pembuangan limbah industril perikanan di Muncar yang memprihatinkan tersebut, Menteri Negara LH akan segera menurunkan Tim Audit Lingkungan, untuk itu Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan BAPEDAL Propinsi Jawa Timur diminta untuk segera memanggil para pananggung jawab / pemilik industri-industri tersebut.

Disamping melakukan Temu Wicara, acara kunjungan kerja Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 19 April 2006 ke Jawa Timur, diisi dengan menghadiri Seminar Nasional : “Penataan Ulang Ruang Kelola Sumber Daya Agraria sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Daya Dukung Lingkungan dan Kemakmuran Rakyat " yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jember (UNEJ), dalam sambutannya Menteri Negara Lingkungan Hidup, mengingatkan bahwa daya dukung lahan telah menurun secara tajam yang diakibatkan oleh fenomena alam dan terutama ulah manusia yang melakukan perusakan sumberdaya alam secara sistematis. Untuk itu pertimbangan lingkungan harus dimasukkan dalam penataan ruang dan diletakkan diawal pembangunan, tidak setelah terjadinya perusakan dan pencemaran terhadap lingkungan, disamping itu upaya untuk menggugah kepedulian masyarakat harus dilakukan tidak hanya oleh pemerintah saja tetapi harus dari masyarakat itu sendiri.

Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam kunjungan singkatnya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Qodiri Jember, memberikan dukungan dijadikannya Ponpes Al-Qodiri di Jember sebagai Eco-Pesantren dengan pendekatan Program Adiwiyata , yaitu Pondok Pesantren peduli dan berbudaya lingkungan, melalui pengembangan kebijakan Ponpes berwawasan lingkungan, kurikulurn berbasis lingkungan, kegiatan belajar berbasis partisipatif dan pengembangan sarana pendukung sekolah yang bersih dan sehat serta efisien menggunakan energi, air, pertanian organik dan pengelolaan sampahnya.

Hal senada juga disampaikan Menteri Negara Lingkungan Hidup di Ponpes Sabilal Muhtadhin, Desa Duaran Muncar, untuk mendorong dan mendukung pondok-pondok pesantren di Jawa Timur berbudaya dan peduli lingkungan, hal tersebut mengingat Ponpes sebagai lembaga pendidikan dengan basis komunitas agama, dapat berperan besar dalam sosialisasi pelestarian lingkungan dengan menggunakan kaidah-kaidah keIslaman, disamping itu Ponpes dengan jaringan keanggotaan alumni dan santri-santrinya yang sangat banyak, memiliki potensi dan kapabilitas menjadi penggerak utama untuk menghasilkan karya nyata dalam pelestarian lingkungan.

Dalam rangkaian kunjungan kerja Menteri Negara Lingkungan Hidup di Jawa Timur sehari penuh pada tanggal 19 April 2006, diakhiri dengan menutup Lokakarya Nasional tentang Fiqh Lingkungan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, dalam sambutan penutupannya disampaikan bahwa "Pelestarian Lingkungan tidak hanya dilaksanakan oleh Pemerintah saja, tapi oleh siapa saja yang bisa bukan oleh yang berkuasa".

 

Informasi lebih lanjut :

Asdep Urusan Edukasi dan Komunikasi Lingkungan
Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Telp/fax : 021‑8517143 / 021‑8517184
E-mail : edukom@menlh.go.id