KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS, No : S. 587/II/PIK-1/2005: Menteri Kehutanan, MS. Kaban, akan mencanangkan kegiatan Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM), pada tanggal 24 September 2005, di Cianjur. Kegiatan KMDM merupakan bagian dari Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) yang telah dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 2003. Dalam KMDM yang menjadi pelaku utamanya adalah anak-anak Sekolah Dasar.

Hal ini dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan minat dan kepedulian generasi muda terhadap fungsi dan manfaat lingkungan bagi kesejahteraan rakyat. Intinya Dephut akan memberikan pendidikan menanam pohon, dan mencintai lingkungan hidup sejak usia dini. Karena melibatkan anak-anak SD, maka dalam KMDM Departemen Kehutanan melibatkan Departemen Pendidikan Nasional.

Keterlibatan Depdiknas terutama dalam hal koordinasi dengan sekolah-sekolah dasar yang dipilih dalam KMDM. Oleh karena itu, dalam KMDM peranan guru sangat penting, karena merekalah yang akan memberikan pengeritan kepada anak didiknya tentang manfaat menanam pohon, dan lingkungan yang baik. Namun demikian para guru tidak sendirian, para penyuluh kehutanan telah siap diterjunkan ke lapangan untuk menyuluh para siswa SD tentang kegiatan KMDM. Dengan demikian ujung tombak KMDM ini adalah para guru dan penyuluh kehutanan.

Generasi muda, khususnya anak-anak usia SD adalah potensi yang strategis dalam pelestarian lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Menumbuhkan minat dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sekitarnya akan lebih mudah bila dimulai dari usia dini. Kepedulian terhadap lingkungan hidup bisa ditumbuhkan dengan menceritakan tentang manfaat pohon dan tumbuhan yang ada disekitarnya, kemudian mulai diajarkan bagaimana menanam, memelihara, sampai dengan merasakan manfaatnya.

Dengan KMDM diharapkan anak-anak siswa Sekolah Dasar (SD) akan tumbuh perasaan cinta menanam, kemudian menjadi kebutuhan akan pentingnya tanaman. Kegiatan ini bertujuan agar generasi muda dapat menciptakan dan memelihara lingkungan mereka sendiri, oleh mereka sendiri, dan mereka sendirilah yang merasakan manfaatnya.

Melalui KMDM yang diterapkan pada siswa sekolah dasar, diharapkan akan memperoleh hasil diantaranya :

1. Anak-anak tumbuh menjadi generasi muda yang cinta terhadap lingkungan.
2. Lingkungan tempat mereka tinggal akan terjaga dan terpelihara dengan baik.
3. Pada saat dewasa, mereka akan merasakan manfaatnya atas jerih payahnya menanam pohon.
4. Mendorong terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak, khususnya untuk mewujudkan cita-citanya.
5. Memberikan pendidikan dini dalam berusaha, khususnya usaha bidang kehutanan.
6. Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan wilayah.

Prospek Dari Sisi Ekonomi.

Misal di Kabupaten A ditunjuk 3 SD sebagai percontohan, apabila masing-masing SD tersebut pada tahun 2005 menerima 50 murid kelas 1, dengan demikian murid di tiga SD tersebut adalah 150 siswa. Apabila kepada setiap siswa diberi 5 bibit (misal bibit Jati) untuk ditanam dihalaman rumah, sekolah, tepi jalan, dll, maka pada tahun 2005 di kabupaten A akan tertanam 750 tanaman jati atau setara dengan 1,5 ha. Kalau masa belajar di SD 6 thn, dan di setiap tahun ketiga SD akan menerima siswa kelas 1 sebanyak 150 siswa, dan setiap tahun diberikan 5 bibit pohon jati, maka pada tahun ke 6 (Th. 2011) akan terdapat 4.500 (900 X 5) tanaman jati atau setara dengan 9 ha. Bila umur jati siap tebang adalah 15 tahun dengan volume sekitar 0,40 m3, tiap pohon dengan faktor koreksi 0,80, maka akan dihasilkan produk jati dari kegiatan percontohan sebesar 0,40 X 0,80 X, 4.500 = 1.440 m3, dengan rincian setiap tahunnya 0,40 X 0,80 X 750 = 240 m3.

Pada saat ini harga kayu jati adalah sebear Rp 3.000.000 ,-/m3, dengan dikurangi biaya pemeliharaan dan biaya operasional lainnya sebesar 20 %, maka akan diperoleh hasil setiap tahunnya sebesar : 240 X 80 % X Rp 3000.000,- = Rp 576.000.000,- . Angka ini adalah hasil penananaman 6 th pertama yang dipanen pada umur 15 tahun, kalau kegiatan ini dilakukan terus menerus maka kajian ekonomi tersebut dapat diperhitungkan sebagai salah satu sumber perputaran roda perekonomian di masyarakat.

Belum lagi dari aspek pembibitan, apabila kebun bibit permanen (KBP) dan kebun bibit desa (KBD) dapat berperan sebagai sentra produksi bibit yang berkualitas, jumlahnya cukup, jenis sesuai, dengan harga yang terjangkau, maka dengan sendirinya akan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat menanam pohon di lingkungannya masing-masing.

Jakarta, 22 September 2005
Kepala Pusat u.b
Kepala Bidang Analisis dan Penyajian Informasi
Ir. Masyhud, MM
NIP. 080062808